Sampah bagi sebagian besar orang adalah barang-barang yang sudah tidak berguna dan tidak bisa dipakai lagi. Namun di tangan Edy Fajar Prasetyo (26), sampah dapat diolah menjadi barang bernilai ekonomis dan memberdayakan masyarakat. Kegiatan bisnis sosial itu dirintis Edy sejak tahun 2013 dengan mendirikan Eco Business Indonesia (EBI). Bermodal awal Rp1 juta, kini EBI menghasilkan sedikitnya 70 barang kerajinan olahan sampah setiap bulan dengan kisaran omzet belasan juta rupiah. Omzetnya bahkan pernah mencapai Rp48 juta dalam sebulan.

Dengan bisnisnya ini, Edy tak hanya memperoleh profit pribadi. Ia membina para ibu rumah tangga di kawasan Kedaung, Tangerang Selatan sebagai mitra pengrajin produk EBI. Para pengrajin memperoleh 70 persen keuntungan dan sisa 30 persennya digunakan untuk pengembangan program-program EBI. Setelah bergabung dengan EBI, penghasilan ibu-ibu yang kebanyakan bekerja sebagai buruh rumah tangga pengrajin tali ijuk septic tank ini pun meningkat hingga dua-tiga kali lipat.

Selain menghasilkan barang kerajinan olahan sampah, EBI juga memperluas bisnis ke bidang edukasi lingkungan. Edy dan timnya telah mencetak lebih dari 5000 alumni seminar dan workshop bertemakan pemanfaatan sampah, manajemen sampah, green edutainment hingga entrepreneurship. Berkat usahanya ini, Edy kerap memperoleh berbagai penghargaan, di antaranya 3rd Winner Social Category ASEAN Leaderpreneur 2015 dan Top 5 Wirausaha Sosial Wirausaha Muda Mandiri Nasional 2016.

Apa rahasia sukses Edy? Yuk, kita simak pengalamannya!

Mengapa memilih mengolah sampah?

Sampah bisa kita peroleh secara mudah, murah dan masif, tapi di sisi lain jadi masalah masyarakat. Karena itu saya berpikir, daripada tidak dimanfaatkan, mengapa tidak mengelola sampah kemasan plastik sisa konsumsi sehari-hari? Sebagai entrepreneur, kita harus selalu melihat sesuatu dari sisi peluang bukan masalah. Begitu juga dengan sampah. Saya memberikan makna baru pada sampah dengan kepanjangan: Selalu Akan Mudah Pabila Ada Harapan. Bagaimana sampah dikelola jadi resource untuk memberikan impact pada masyarakat.

Apa tantangan yang dirasakan waktu memulai bisnis?

Tantangannya membagi prioritas antara kuliah dan menjalankan bisnis. Tapi akhirnya tantangan itu bisa saya selaraskan, antara lain dengan memakai langkah Amati, Tiru dan Modifikasi. Sebelum memulai EBI, saya belajar pada beberapa mentor bank sampah yang sudah menjalankan bisnis lebih dari lima tahun. Ada beberapa model bisnis mereka yang saya tiru, tapi kemudian saya modifikasi. Di bank sampah yang laku dijual biasanya hanya sampah kardus dan bekas kemasan minuman plastik. Saya lalu memodifikasi dengan mengelola sampah kemasan plastik di luar dua jenis sampah itu. Selain itu saya menguatkan konten bisnis dengan membangun storyline, yaitu sampah sebagai media untuk menyelesaikan masalah sosial di masyarakat.

Apakah sempat kesulitan mengumpulkan modal?

Modal awal EBI sekitar Rp1 juta yang saya ambil dari kocek sendiri untuk membeli peralatan mengolah sampah jadi barang kerajinan. Tapi setelah saya petakan, sebenarnya modal tidak harus berupa uang. Ide, gagasan, jejaring dan pengalaman kita juga bisa dimanfaatkan sebagai modal. Ternyata dari apa yang sudah saya implementasikan, bisa saya buat grand design-nya dan jadi proposal. Proposal itu kemudian saya masukkan ke ajang kompetisi serta lembaga funding dan bisa mendatangkan dana untuk modal. Kalau kita bisa membangun trust, kepercayaan orang terhadap gagasan kita, maka dengan sendirinya uang itu akan datang tanpa kita minta.

Apa yang membuat EBI dapat bertahan dan berkembang hingga mencapai sukses saat ini?

Menurut saya karena coworkingcollaboration dan cocreation dari teman-teman lain, baik dari tim EBI, dari masyarakat maupun dari sesama komunitas pebisnis sosial. Saya pikir, berkolaborasi jauh lebih berarti daripada berkompetisi. Misalnya ada teman-teman pebisnis sosial yang baru muncul dengan segmen berbeda. Saya persilakan kalau mau bekerja sama dan bergabung dengan EBI, karena tujuannya toh sama untuk masyarakat. Kita bisa saling mengisi untuk menguatkan bisnis masing-masing.