Sama-sama suka dengan dunia fashion, sekaligus ingin memiliki bisnis yang dijalankan berdasarkan konsep ethical and fair trading serta ramah lingkungan. Ide tersebut kemudian memotivasi Shari Semesta dan Lyris Alvina memulai bisnis clothing line Imaji Studio sejak akhir tahun 2015. Shari dan Lyris bercita-cita ingin lebih mengenalkan kekayaan kain tradisional Indonesia pada kalangan anak muda. Karena itu, semua produk Imaji Studio menggunakan kain tenun berbahan serat alami buatan tangan pengrajin dari berbagai daerah di Indonesia. Pewarna kain yang dipakai pun berasal dari bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Agar bisa diterima pasar anak muda, unsur modern kontemporer diaplikasikan pada desain motif serta desain produk.

Respon pasar ternyata cukup positif dan setelah berjalan dua tahun, bisnis yang bermodal awal Rp200 juta ini sudah mencapai break even point atau balik modal. Sejak akhir tahun 2017, Imaji Studio juga mulai merambah lini busana pria sehingga Shari mengajak suaminya, Leo Pradana, untuk ikut terjun sebagai partner. Yuk, kita simak pengalaman mereka mengembangkan bisnis Imaji Studio dalam obrolan berikut ini!

Seperti apa praktik ethical and fair trading serta ramah lingkungan yang diterapkan Imaji Studio?

Beberapa tahun belakangan ada kritik terhadap praktik bisnis yang dilakukan brand-brand besar di industri fashion. Produk mereka bisa dijual dengan harga yang relatif murah, tapi menekan upah para pekerjanya. Selain itu di sini, limbah industri fashion sangat mencemari Sungai Citarum. Lewat Imaji Studio, kami ingin mengharumkan nama industri fashion lagi, bahwa fashion itu tidak selalu ‘kejam’ dan berdampak negatif. Jadi Imaji Studio menggunakan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Kami juga melakukan pengolahan limbah sisa produksi, dengan membuat aksesoris seperti anting dan scarf dari kain perca sisa pembuatan baju. Sedangkan untuk ethical and fair trading, kami menjalin relasi yang sama-sama menguntungkan dengan para penjahit dan pengrajin. Kami tidak menawar sampai gila-gilaan supaya memperoleh biaya produksi yang murah. Cara ini ternyata membuat kerja sama dengan para penjahit dan pengrajin bisa lebih mudah dan menyenangkan.

Apa tantangan paling berkesan di awal mendirikan bisnis?

Karena menerapkan ethical and fair trading serta menggunakan bahan-bahan alami, harga produk busana Imaji Studio memang jadi relatif mahal, antara Rp500 ribu – Rp1,5 juta. Jadi kami harus mencari cara bagaimana mengedukasi konsumen, agar memahami bahwa harga produk yang mereka beli sepadan dengan proses pembuatan dan filosofi yang ada di baliknya. Kami melakukan edukasi itu secara langsung pada konsumen melalui pop up store dan lewat website serta media sosial. Awalnya, kami membidik pasar anak muda yang berusia 18-25 tahun. Tapi ternyata setelah berjalan, kebanyakan konsumen justru sudah berusia di atas 25 tahun. Jadi kami kemudian melakukan twist pada desain agar lebih disukai konsumen yang usianya di kisaran tersebut.

Bagaimana menyeimbangkan misi sosial dan tujuan mencari profit dalam bisnis kalian?

Salah satunya dengan meningkatkan penjualan melalui B2B (business to business). Kami sudah bisa balik modal di tahun kedua juga karena mendapatkan pesanan B2B. Ada perusahaan yang memesan seragam karyawan dengan desain dan bahan dari Imaji Studio. Selain itu, tahun ini kami juga akan merilis lini basics,yaitu produk busana yang tetap menggunakan kain tenun berbahan alami, tapi tidak melalui proses pewarnaan sehingga harganya lebih murah. Ke depannya kami ingin menjadikan Imaji Studio sebagai one stop shopping fabric studio. Apapun kebutuhan konsumen terkait kain tenun berbahan alami mulai dari pembuatan baju hingga furnitur rumah bisa kami layani.

Bagaimana membagi tanggung jawab di antara kalian bertiga sebagai partner bisnis?

Saya pernah bisnis dengan sahabat, tapi bubar karena punya nilai-nilai yang beda dalam bekerja. Sekarang dengan Lyris, meskipun berbeda tapi kami saling melengkapi. Saya bertanggung jawab dalam desain label wanita dan media relations, Lyris bertanggung jawab untuk konsep desain grafis dan Leo bertanggung jawab untuk desain label pria dan mengurusi administrasi bisnis. Sedangkan untuk konsep kreatif keseluruhan kami biasanya brainstorming bertiga. Komitmen pada tanggung jawab masing-masing, bekerja dengan profesional dan menahan ego pribadi rasanya jadi kunci keberhasilan kami sebagai partner. Selain itu kami juga berusaha memisahkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi dan saling terbuka jika ada masalah atau butuh bantuan dari yang lain.

Apa tips untuk para pemula yang ingin memulai bisnis?

Sebagai pemula, akan sangat bermanfaat bagi kita untuk rendah hati dan punya keinginan untuk belajar dari siapapun. Kita bisa menimba ilmu dari siapa saja, mulai dari orang tua, teman, komunitas yang punya misi sama, pengrajin sampai brand lain yang bisnisnya serupa. Kalau kita rendah hati, orang lain akan lebih mudah untuk berbagi ilmu.