Sejak kecil, Dio Fandhita Ramadhan (27) sudah senang berdagang. Keinginannya untuk berwirausaha makin menjadi-jadi saat ia kuliah semester tiga di Universitas Islam Bandung. Dio lantas berjualan pisang gapit, camilan khas Balikpapan – kota kelahirannya. Dengan modal Rp2 juta, Dio membeli gerobak sekaligus perlengkapan dan bahan mentah pembuatan pisang gapit. Namun setelah 2,5 bulan, usaha pisang gapit itu gulung tikar alias bangkrut.

“Saya balik lagi jadi anak kuliah pada umumnya, dengan kondisi yang bisa dibilang kurang karena semua uang sudah habis untuk mengelola usaha. Sampai cuma bisa bayar Rp3500 setiap makan di warteg. Akhir bulan banyakin minum air putih sama makan pilus,” ungkap Dio sambil tertawa.

Namun kegagalan tersebut tak menyurutkan semangat Dio untuk berwirausaha. Ia sempat mencoba beberapa bisnis lain mulai dari multilevel marketing, berjualan ayam goreng hingga usaha cuci motor yang dilayaninya sendiri. Meski semua bisnis itu juga kandas, Dio selalu memetik pelajaran dari pengalamannya. Salah satunya, bisnis harus dijalankan dengan optimisme, tetapi bukan sekadar optimisme “buta”.

“Saat bisnis kita tidak menghasilkan dan malah menggerogoti keuangan pribadi, pilihannya hanya dua, dijual ke orang lain atau ditutup saja,” tandas Dio.

Titik Balik

Akhirnya, tahun 2012 menjadi titik balik bagi Dio. Kesukaannya pada fashion khususnya jins membuat Dio berbisnis jins yang diberi label “Trepp Denim”. Masukan dari para pelanggan kemudian memberikan inspirasi pada Dio merintis bisnis pembuatan jins yang disesuaikan dengan keinginan pelanggan.

“Tidak jarang pelanggan yang dianugerahi berat badan di atas rata-rata mengeluh bahwa tidak ada ukuran jins yang benar-benar pas dengan ukuran mereka. Terkadang ukuran pinggang sudah pas, tapi pahanya kesempitan, dan berbagai masalah ukuran lainnya. Dari sana saya berpikir kenapa tidak saya sediakan saja bahannya, terus diukur langsung sesuai actual size mereka oleh penjahit dan mereka tinggal tunggu pesanan jadi,” ujar Dio.

Peluang Pasar Kota Kelahiran

Lantas setelah lulus kuliah dan kembali ke Balikpapan tahun 2014, Dio pun mewujudkan ide tersebut. Usaha pembuatan jins personalized tersebut dinamakannya The Denim Club. Dio semakin yakin bisnisnya kali ini akan meraih sukses karena melihat besarnya peluang pasar di kota Balikpapan.

“Kebutuhan custom jeans dan custom produk fashion lainnya dengan kualitas terbaik pasti ada, karena waktu itu belum ada usaha sejenis di kota Balikpapan. Jadi saya membawa layanan yang belum ada ke daerah yang potensi pasarnya besar, ” kata Dio.

Berkembang Menjadi Startup

Keyakinan Dion membuahkan hasil. The Denim Club dalam waktu yang relatif cepat meraih banyak pelanggan di Balikpapan. Dari hanya melayani pembuatan jins personalized secara konvensional, The Denim Club kini berkembang menjadi sebuah startup yang menghadirkan solusi lengkap untuk segala kebutuhan jahit menjahit dan konfeksi, baik untuk pelanggan individu maupun korporasi. Produknya bervariasi mulai dari jins, jaket jins, t-shirt, sweater hingga seragam kantor.

Selain itu The Denim Club melalui thedenimclub.co.id juga menjadi platform yang menghubungkan konsumen dengan para penjahit lokal di Balikpapan dengan konsep sharing economy. Seiring dengan peningkatan permintaan pelanggan, The Denim Club pun telah melayani kebutuhan konfeksi di kota-kota lain di Kalimantan Timur.

Dalam membangun The Denim Club, Dio memprioritaskan kerja keras, inovasi, networking dan memberikan kemudahan bagi pelanggan. Menurutnya kombinasi berbagai hal tersebut yang mendorong pertumbuhan The Denim Club hingga menjadi salah satu penyedia jasa konfeksi yang diperhitungkan di Kalimantan Timur.

Sebagai penutup perbincangan, Dio memberikan sedikit tips untuk kamu yang ingin mulai berbisnis.

“Kalau (bisnis kamu) niatnya sudah baik di awal, pondasinya juga sudah baik, Insha Allah semuanya akan baik. Rezeki sudah ada yang mengatur, tugas kita tinggal bersyukur dan berusaha sekeras-kerasnya dan secerdas cerdasnya untuk mengalahkan diri sendiri, tanpa harus menjatuhkan orang lain atau kompetitor.”