Mengeluarkan modal untuk berbisnis waralaba sebanyak Rp24 juta, kini Fauzan Mahda meraup untung yang tidak sedikit. Kuncinya satu, kreativitas.

Sedari dulu Fauzan Mahda menggemari bebek goreng. Dia dan keluarganya acap kali mampir ke banyak restoran bebek di Jakarta. Kegemarannya itu menginspirasi pria ini untuk berbisnis bebek goreng.

Sebelumnya Fauzan bekerja di sebuah perusahaan rental mobil di kawasan Serpong, Tangerang. Namun karena kondisi finansial perusahaan yang morat marit, manajemen terpaksa merumahkan sejumlah karyawan, termasuk Fauzan. Lelaki asal Aceh itu akhirnya memutuskan banting stir untuk serius berbisnis kuliner dengan modal yang ada.

Beruntunglah Fauzan memiliki istri yang juga gigih dalam usaha makanan. Sebelumnya Ilma Kartika, Istri Fauzan, sudah memulai bisnis kue basah dan aneka cake.

Suami istri ini kemudian memutuskan membuka bisnis waralaba warung bebek goreng dan memulai usahanya dari nol di bulan September 2017.

Fauzan membeli merek waralaba (franchise) “Ayam Bebek Pak Boss” yang saat itu seharga Rp24 jutaan. Pihak pewaralaba menyediakan semua kebutuhan bisnis, termasuk 62 potong ayam dan bebek siap goreng sebagai modal awal. Selain itu ada pelatihan untuk membuat sambal khas bebek goreng waralaba tersebut.

“Selanjutnya, kami diwajibkan membeli bebek dan ayam dari pihak perusahaan waralaba, dan itu menguntungkan karena kami tidak perlu repot-repot memastikan stok bebek dan ayam di pasar. Ini jadi salah satu pertimbangan kenapa memilih bisnis ini,” kata Ilma sambil tersenyum.

Karena modalnya masih pas-pasan, Ilma dan Fauzan memutuskan untuk bahu membahu melayani pengunjung. Fauzan bertanggung jawab untuk urusan goreng menggoreng, sementara Ilma menyiapkan hidangan dan bagian kasir.

Keduanya menyulap teras rumah menjadi restoran mini dengan kursi dan meja yang diatur sedemikian rupa. Restoran itu meriah dengan spanduk promosi bebek goreng berwarna merah menyala.

Strategi Promosi

Bisnis Kreatif ala Fauzan Hamda

Fauzan mengaku hal terberat dalam berbisnis kuliner adalah strategi promosi. Maklum, ada ribuan usaha serupa di Jakarta dan semuanya berlomba-lomba memberikan pelayanan maksimal dan rasa yang juga lezat.

“Salah satu strategi yang kami lakukan adalah aktif di media sosial Facebook dan Instagram. Kami rajin memposting apa pun yang berkenaan dengan bebek goreng dan menu yang kami siapkan,” kenang Ilma sambil tertawa.

Fauzan juga melakukan strategi promosi “jadul” yaitu menyebarkan brosur promosi ke rumah-rumah.

“Kami membayar tukang koran untuk menyebarkan brosur. Kebetulan perusahaan waralaba juga memberikan fasilitas brosur sebanyak dua rim untuk promosi,” ungkap Fauzan.

Creativity is A Must

Untuk mendongkrak keuntungan, Fauzan dan Ilma meramu kreativitas dalam menu dan porsi makanan yang disajikan.

Dari ragam menu yang ditawarkan di restoran mini Fauzan misalnya ada kol goreng. Pemesan kol goreng akan mendapat bonus porsi lebih besar.

“Berapa, sih, harga kol? Tentu tidak mahal-mahal sekali. Ini akan jadi alasan pengunjung kembali lagi,” katanya.

Fauzan juga membuat variasi menu baru yang dinamakan “Indomie Huh Hah”. Menu mi instan ini menggunakan sambal khas bebek gorengnya yang disajikan berdasarkan tingkat kepedasan.

“Sejauh ini banyak pembeli yang suka,” ujar Fauzan.

Dia mengakui semua inovasi dan kreativitas yang dilakukannya haruslah seizin pihak pewaralaba.

Selain porsi dan varian menu yang ditambah, pasangan ini juga memperbanyak jenis minuman dan kudapan untuk para pembeli. Menurut Fauzan, banyak pebisnis kuliner yang kurang mengolah menu sampingan karena terlalu fokus pada menu utama. Padahal justru menu sampingan yang bisa menghasilkan banyak keuntungan.

“Minuman seperti jus, es teh, atau bubble tea misalnya akan menarik minat pengunjung, dan cukup menguntungkan, termasuk juga dengan aneka kerupuk dan lain-lain,” kata Fauzan.

Buah Manis Kerja Keras

Setelah tujuh bulan berbisnis waralaba bebek goreng, usaha Fauzan mulai menampakkan hasil. Bahkan dia mengaku modal yang dikeluarkan sudah balik pada bulan kedua bisnis itu berjalan.

“Sekarang kita cuma memastikan semua berjalan dengan baik, dan melakukan inovasi lainnya yang mungkin,” kata Fauzan.

Restoran bebek goreng di Jalan Anggrek Rosliana Slipi ini memang selalu ramai. Selain pengunjung restoran, para driver ojek online juga sering datang mengambil pesanan makanan.

Dalam satu hari, Fauzan mengaku minimal ada 60 pelanggan yang datang silih berganti dari pukul 10 pagi hingga jam 10 malam. Itu tidak termasuk yang melakukan pemesanan untuk dibawa pulang.

Fauzan dan Ilma juga tidak perlu lagi banjir keringat meladeni para pengunjung. Kini mereka sudah mampu menggaji dua karyawan yang sigap bekerja dengan standar yang sudah ditetapkan.

“Salah satu standar yang kami lakukan adalah membuat seragam untuk mereka, jadi semuanya terkesan profesional dan serius, meskipun sebenarnya tidak diharuskan oleh (perusahaan) waralabanya sendiri,” kata Fauzan.

Saat ditanya omset per bulan, Fauzan menjawab diplomatis, “Angkanya lebih besar dari modal yang pernah dikeluarkan. Pokoknya untunglah.”