Warren Edward Buffett atau lebih dikenal dengan nama Warren Buffett adalah investor saham paling kaya dan sukses di dunia. Pada Maret 2018 lalu, Majalah Forbes menobatkan pria yang bakal genap berusia 88 tahun pada akhir Agustus 2018 ini sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

CEO Berkshire Hathaway yang menjadi perusahaan induk dari sekitar 60 perusahaan lain itu berada di posisi tiga orang terkaya di dunia, dengan mengantongi kekayaan USS84,6 miliar atau sekitar Rp1.142 triliun.

Kekayaannya yang superbanyak tersebut dikumpulkan bertahun-tahun dengan bakatnya yang cemerlang di bidang investasi saham. Pria yang dijuluki ‘Oracle of Omaha’ itu memulai kariernya sebagai seorang investor sejak usia sangat muda, yaitu 11 tahun.

Buffett memang dianggap punya “indra keenam” soal investasi. Dia berani berinvestasi di perusahaan yang valuasinya dianggap murah oleh orang, dan biasanya instingnya itu benar karena perusahaan tersebut membawa keuntungan berlipat.

Kelihaiannya dalam berinvestasi saham membuat banyak orang terkagum-kagum dan menjadikannya sumber inspirasi. Jika kamu ingin sukses berinvestasi saham, berikut ini beberapa strategi yang bisa kamu tiru dari seorang Warren Buffett.

1. Fokus

Harus fokus pada bidang investasi yang kamu minati, tahu, pahami dan kuasai. Jangan melebar ke bidang lain, apalagi ikut-ikutan hanya karena trennya sedang bagus. Berinvestasi pada sejumlah produk yang kamu gunakan atau terhubung dengan profesi awal kamu juga bisa menjadi alternatif yang patut dicoba.

Seorang Buffett hanya fokus pada bidang yang dikenal dengan baik dan terhubung dengannya, bukan yang sedang menjadi tren. Misalnya, dia malas mengeluarkan uang untuk berinvestasi di perusahaan internet dan lebih memilih menginvestasikan uangnya di perusahaan seperti asuransi, industri, peralatan serbaguna dan rel kereta. Beberapa perusahaan milik Buffet di antaranya Coca-Cola, Wells Fargo, American Express, Heinz, dan masih banyak lagi.

2. Jangan buru-buru

Buffett yakin bahwa kekayaan tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat, perlu dikumpulkan sedikit demi sedikit hingga menjadi bukit. Itu alasannya memulai investasi sejak belia.

Dalam berinvestasi, dia pantang terburu-buru dan memilih membuat keputusan dengan bijak serta melihat tren jangka panjang, sehingga tidak dipusingkan dengan fluktuasi saham setiap hari. Contohnya ketika dia tetap berinvestasi pada saham Coca-Cola dan tidak menjualnya meski saham minuman bersoda itu pernah jatuh sekitar tahun 1998-1999.

3. Prospek baik dan manajemen bersih

Strategi investasi lain yang dilakukan Buffet adalah dengan membeli saham perusahaan yang memiliki prospek baik untuk berkembang. Dia tidak peduli saham perusahaan tersebut nilainya turun atau indeksnya anjlok, namun jika yakin prospek ke depannya bagus akan disimpan terus.

Buffet juga hanya berinvestasi pada perusahaan dengan manajemen bersih. Dia bukan hanya membeli sebuah perusahaan, tetapi sekaligus manajemennya. Strategi Buffett adalah bagaimana manajemen bisa bersama-sama membangun perusahaan tersebut menjadi lebih besar.

Yahoo Finance pada bulan Juli 2017 mengestimasi bahwa Buffett telah meraih untung US$ 18,71 miliar (setara Rp 246 triliun) dari investasi awal senilai US$ 13 miliar (Rp 170,9 triliun) pada tiga perusahaan yakni Bank of America, Goldman Sachs, dan General Electric Company.

Buffett berinvestasi di Bank of America ketika perusahaan itu tersangkut kasus hukum pada 2011 terkait hipotek. Dia juga berinvestasi di Goldman Sachs, perusahaan yang sangat membutuhkan suntikan modal serta General Electric pada masa-masa paling suram saat krisis keuangan 2008.

Buffett biasanya juga memilih perusahaan-perusahaan dengan kepemilikan utang rendah dan return of equity tinggi. Dia suka berinvestasi pada perusahaan yang menawarkan dividen dan buyback saham.

4. Beli saham murah dan bertindak ekstrem di waktu tepat

Salah satu quote Warren Buffett yang terkenal adalah “It’s far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price” ( Lebih baik membeli perusahaan bagus dengan harga murah, daripada membeli perusahaan kacangan dengan harga bagus).

Jadi jangan heran kalau Buffett selalu mencari saham yang undervalued dan membelinya ketika harga diskon. Dia pun membeli saham secara perlahan dan konsisten menambah kepemilikan saham dari waktu ke waktu. Dia pantang memborong saham sekaligus, kecuali waktunya tepat.

Dia hanya akan bertindak ekstrem ketika pasar sedang jatuh, karena saat itulah waktu yang tepat melakukan investasi dengan gencar. Ini terbukti ketika dia berhasil menyelamatkan sejumlah perusahaan yang pernah terkena resesi, seperti Goldman Sachs, General Electric dan Bank of America.

5. Siapkan dana cadangan

Seorang investor wajib memiliki dana cadangan untuk mengejar kesempatan investasi dan mengantisipasi hal-hal tak terduga. Buffet sendiri selalu memiliki dana cadangan yang dimasukkan dalam laporan keuangan setiap tahun.

Bagaimana, apakah kamu berminat meniru Warren Buffet?