Bisnis kedai kopi masih jadi bisnis yang diminati kaum muda, terlihat dari makin banyaknya kedai kopi yang bermunculan tiga tahun belakangan. Salah satunya adalah Skut Kopi yang berlokasi di daerah Lamandau, Kebayoran Baru. Hafmi Adithyo (32), pemiliknya, mulai membuka kedai sejak awal tahun 2016 lalu. Kamu juga ingin merintis bisnis kedai kopi? Yuk, simak pengalaman Hafmi.

Santai Tanpa Wifi

Dalam berbisnis, Hafmi punya prinsip harus menguasai segala aspek bisnis yang akan dijalaninya dari A-Z. Apalagi, ia mengaku bukan penikmat kopi sebelum membuka Skut Kopi. Itu sebabnya, sebelum mendirikan kedai kopinya, Hafmi melakukan proses persiapan selama setahun mulai dari riset pasar hingga menimba ilmu dari para “senior” pelaku bisnis kedai kopi.

“Manfaat tahu semua sisi bisnis dari A-Z, salah satunya kalau ada anggota tim yang enggak masuk, bisa saya sendiri yang langsung tangani,” kata Hafmi.

Setelah merasa punya modal pengetahuan dan keahlian yang memadai, Hafmi mulai mengoperasikan Skut Kopi dengan bantuan dua barista. Harga racikan kopi di kedai ini berkisar antara Rp15.000 – Rp35.000. “Kami ingin menawarkan konsep bahwa kopi enak itu tidak harus mahal,” ujar Hafmi.

‘Skut’ sendiri dalam bahasa Arab berarti ‘diam’, namun kata ‘skut’ juga sering dipakai anak muda Jakarta mengistilahkan suasana ‘santai’. Filosofi itu yang dijadikan ciri khas Skut Kopi. “Di sini tidak ada wifi. Barista pasti selalu menyambut dan mengajak pelanggan mengobrol. Yang mau pulang ke rumah, bisa melepas stres dulu di sini. Relaks dengan menikmati kopi. Jadi benar-benar santai,” beber Hafmi.

Mengedukasi Pasar

Kopi yang dihasilkan dari daerah yang berbeda akan menghasilkan cita rasa yang juga berbeda, memiliki keunikannya masing-masing. Seduhan kopi dari biji kopi yang berasal dari satu daerah tertentu disebut single origin coffee sementara yang merupakan perpaduan dua atau lebih daerah penghasil biji kopi disebut roast blend. Itu sebabnya Skut Kopi menyediakan 90 persen biji kopi Nusantara dan 10 persen biji kopi dari luar Indonesia seperti India, Amerika Selatan dan Afrika. “Kami menyediakan biji kopi impor juga untuk yang ingin tahu beda cita rasanya dengan kopi lokal,” imbuh Hafmi.

Di awal Skut Kopi mulai beroperasi, Hafmi mengandalkan alat penyeduh kopi manual untuk menyajikan racikan kopi pada pelanggan. Teknik penyeduhan secara manual menggunakan tangan dan alat non-elektrik ini akan menghasilkan cita rasa kopi yang lebih “berkarakter” dibandingkan kopi yang dihasilkan mesin penyeduh otomatis. Namun belum semua penikmat kopi memahaminya.

“Edukasi pasar, itu yang jadi tantangan terbesar kami di awal berdiri. Jadi dulu setiap ada yang datang, saya kasih sampel gratis, sambil menunjukkan bagaimana teknik manual brew ke mereka. Karena pelanggan harus merasakan experience-nya dulu sebelum ingin membeli produk,” beber Hafmi.

Menjaga Kualitas Produk

Jerih payah Hafmi pun perlahan-lahan menunjukkan hasil. Ditambah faktor lokasi yang strategis di kawasan Jakarta Selatan, Skut Kopi mulai jadi referensi penikmat kopi untuk menyesap kopi “berkarakter” dan berkualitas.

“Kami juga berpromosi lewat media sosial. Tapi yang utama tetap menjaga kualitas produk itu sendiri. Kopi yang kami buat selalu fresh, bahkan untuk produk yang botolan. Dengan begitu pelanggan yang puas akan berbagi ke orang lain, kekuatan word of mouth marketing,” ungkap Hafmi.

Selain single origin dan roast blend, Hafmi juga berinovasi dengan meracik kopi yang dikombinasikan bahan lain dan dinamakan Kopi Rahasia. Misalnya saja Primavera yang merupakan perpaduan kopi dan air kelapa atau Veloce yang menyajikan kopi berbentuk ice cubes dengan siraman susu segar.

Kini, dalam sehari rata-rata Skut Kopi bisa menjual lebih dari 100 gelas kopi. Dengan margin keuntungan sekitar 30 persen, setelah setahun lebih menjalankan bisnis Hafmi bisa menambah karyawan menjadi delapan orang dan membeli mesin penyeduh kopi otomatis yang harganya puluhan juta rupiah.

Harapan Hafmi adalah mendirikan cabang Skut Kopi di semua kota besar di Indonesia. Ia pun optimis dapat mewujudkan cita-cita tersebut. “Jangan pernah takut bermimpi dan jangan lupa untuk selalu berdoa pada Tuhanmu. Lebih baik gagal daripada tidak pernah mencoba,” tandasnya menutup perbincangan.