Nilai rupiah belakangan ini melemah terhadap dolar AS. Banyak orang yang khawatir rupiah terus melemah karena akan meningkatkan harga barang, terutama barang impor. Sama seperti barang, nilai mata uang juga ditentukan dari faktor permintaan dan ketersediaan, berlaku hukum ekonomi. Karena permintaan dolar tinggi di pasar valuta asing (valas), maka nilai dolar menguat.

Lalu, apakah ada aset yang nilainya paling stabil di dunia? Dalam dunia investasi dikenal istilah aset safe haven karena kestabilan nilainya. Secara harafiah, pengertian safe haven adalah tempat pelarian ketika situasi tidak aman. Dalam konteks keuangan, maka aset safe haven adalah aset yang digunakan sebagai penyelamat saat kondisi ekonomi global dianggap sedang tak aman.

Aset safe haven disebut tempat pelarian yang aman, karena risikonya yang rendah. Aset safe haven yang dikenal di masyarakat antara lain emas, perak, tanah, properti, surat utang AS dan mata uang yen.

Sebagai investor pemula, tak ada salahnya jika kamu mulai memahami jenis-jenis aset safe haven berikut ini.

Emas

Emas merupakan aset safe haven yang akrab dan populer di masyarakat Indonesia. Sebagai logam mulia, nilai emas sangat tinggi dengan di sisi lain persediaannya di alam semakin sedikit sehingga nilai emas fisik sangat berharga. Nilai emas tidak tergerus oleh inflasi sehingga jika perekonomian sebuah negara anjlok dengan inflasi tinggi, pemilik emas sudah mengamankan nilai kekayaannya. Saat situasi geopolitik sebuah negara tidak aman, emas juga menjadi pilihan karena risikonya rendah.

Perak

Sama dengan emas, perak juga termasuk logam berharga walau nilainya jauh di bawah emas. Harga perak biasanya mengikuti harga emas. Di saat harga emas menguat, demikian pula harga perak mengalami kenaikan.

Properti

Harga properti baik tanah maupun bangunan selalu mengalami kenaikan. Di kawasan Jabodetabek harga tanah mengalami kenaikan 10% per tahun. Kelebihan lain di investasi properti adalah asetnya tidak bisa berpindah tempat sehingga aman dari pencurian.

Surat Utang AS

Surat utang yang diterbitkan pemerintah Amerika Serikat ini menjadi buruan investor terutama untuk menjaga nilai kekayaannya karena pergerakan harganya yang stabil. China saat ini menjadi pemegang surat utang AS paling besar dengan nilai $1.18 triliun, disusul Jepang sebesar $1.06 triliun.

Yen Jepang

Pertengahan tahun 2017 lalu para ekonom dari Goldman Sachs Group Inc menobatkan yen Jepang sebagai mata uang paling aman di dunia, disusul franc Swiss dan dollar AS. Mengutip Bloomberg, Selasa (11/7/2017), mata uang Jepang itu berada paling jauh dari pergerakan terkait aset risiko global dalam satu dekade terakhir. Para ekonom tersebut membandingkan pergerakan nilai yen dengan 28 mata uang dunia lainnya dari negara maju maupun berkembang.

Mengapa yen disebut mata uang safe haven?

Jepang merupakan negara eksportir terbesar keempat dunia dengan produk ekspor yang bervariasi, mulai dari barang elektronik, otomotif dan komponen teknologi. Negara dengan produk ekspor variatif lebih stabil pemasukannya jika dibandingkan negara yang bertumpu pada satu dua produk ekspor, seperti produsen minyak Arab Saudi, Kanada, atau Indonesia yang mengandalkan komoditi minyak sawit dan batu bara. Saat harga komoditi anjlok, maka perekonomian negara itu akan melemah. Pengusaha Jepang rajin berinvestasi di negara-negara berkembang dengan mendirikan pabrik-pabrik yang mendatangkan pendapatan bagi negara lokasi pabrik dan menjadi devisa bagi Jepang.

Jepang pun merupakan pemegang terbesar kedua surat utang pemerintah AS atau US Treasury. Selain AS, Jepang juga menguasai surat utang negara-negara lainnya termasuk surat utang pemerintah Indonesia. Di dalam negeri sendiri investor Jepang mendominasi surat utang pemerintahnya, kendati imbal hasil yang diberikan rendah, hampir 0% per tahun. Karena nasionalisme warga negara Jepang yang tinggi, mereka bangga memiliki surat utang yang diterbitkan pemerintahnya. Kamu bisa bayangkan kestabilan ekonomi negeri Matahari Terbit ini.

Nah, demikian ulasan mengenai jenis-jenis aset safe haven. Semoga bisa menambah pengetahuan kamu, ya!