Sebagian dari kamu mungkin takut berinvestasi lantaran berpikir belum memiliki uang banyak atau takut mengalami kerugian. Apalagi banyak sekali informasi investasi bodong yang kerap memakan korban.

Padahal untuk investasi, tak perlu menunggu harus kaya atau berkantong tebal. Bahkan bila kamu khawatir dengan risiko, kamu bisa melakukannya dengan tempo singkat sesuai dengan kebutuhanmu.

Yup. Investor yang masih belajar dan takut dengan risiko seperti kamu mungkin lebih cocok mengambil investasi jangka pendek, yang jatuh temponya satu hingga 12 bulan. Hitung-hitung sekaligus mencari pengalaman baru.

Tetapi perlu diketahui kalau untung yang kamu dapat tentu tidak sebesar bila kamu melakukan investasi jangka panjang. Umumnya, investasi jangka pendek dipilih kalangan investor karena membutuhkan dana tambahan dalam waktu cepat. Misalnya untuk liburan akhir tahun atau biaya pernikahan.

Kamu berminat? Nah, berikut ini tiga investasi jangka pendek yang patut kamu coba.

1. Deposito

Deposito merupakan produk perbankan yang ditujukan untuk menyimpan dana nasabah dengan jangka waktu tertentu sesuai ketentuan. Investasi deposito hanya bisa dicairkan sesuai dengan jangka waktu yang disepakati, misal satu bulan, tiga bulan, enam bulan atau 12 bulan. Jika kamu ingin mencairkannya sebelum jatuh tempo, ada penalti atau denda yang harus kamu bayarkan.

Prosedur untuk membuka deposito tak terlalu beda dengan membuka tabungan di bank. Meski demikian, setoran awal biasanya lumayan besar, minimal Rp5 juta. Namun suku bunga deposito lebih besar dibandingkan tabungan.

Suku bunga deposito yang ditawarkan cukup tinggi yakni berkisar pada angka 4 persen hingga 8 persen namun belum dipotong pajak.

Semakin lama tenor atau jangka waktu yang dipilih, bunga yang diberikan biasanya semakin besar. Deposito cenderung aman karena hampir tak punya risiko penurunan jumlah atau kerugian. Kemungkinan terburuknya, bunga yang menyusut atau lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi. Karena itu, sebaiknya ketahui suku bunga yang didapat, apakah sama atau lebih tinggi dari inflasi.

2. Reksa dana pasar uang

Ada beragam reksa dana, misalnya reksa dana pasar uang, reksa dana saham dan reksa dana campuran. Dengan beragamnya jenis reksa dana, reksa dana pasar uang bisa menjadi pilihan bagi investor pemula yang ingin berinvestasi dalam jangka pendek atau kurang dari satu tahun. Pasalnya, reksa dana pasar uang risikonya lebih rendah dibandingkan jenis reksa dana lain.

Imbal hasil yang diberikan reksa dana pasar uang biasanya juga lebih tinggi dibandingkan bunga deposito. Kelebihan lainnya, jika membutuhkan dana investasimu, kamu bisa mencairkan reksa dana sewaktu-waktu tanpa dikenakan denda atau penalti.

Untuk berinvestasi reksa dana, kamu pun tak perlu mengeluarkan biaya besar, bisa mulai dari Rp100 ribu. Kenapa bisa murah? Karena reksa dana adalah kumpulan dana para investor yang dikelola manajer investasi untuk membeli saham, obligasi atau instrumen keuangan lainnya.

3. Peer to Peer (P2P) lending

Usia investasi ini memang paling muda dibandingkan dua instrumen investasi lainnya dan mungkin sebagian orang belum familiar. Namun di Indonesia, platform P2P lending ini sudah cukup banyak.

Instrumen investasi ini mempertemukan kreditur atau pemberi pinjaman dengan debitur atau peminjam dalam kegiatan pinjam meminjam yang biasanya dilakukan secara online. Namun P2P lending merupakan wadah melakukan transaksi, sehingga yang ditawarkan bukan hanya produk pinjaman tapi juga investasi, dengan masa tenor pendanaan satu hingga 12 bulan.

Imbal hasil yang diberikan pun berbeda-beda, tetapi lebih besar dibandingkan bunga deposito. Kamu juga bisa mendapat keuntungan ganda dengan menerapkan efek compounding atau menginvestasikan kembali imbal hasil yang didapat. Sayangnya karena P2P lending tak dilakukan oleh lembaga resmi seperti bank atau koperasi, dana investasimu di platform ini tak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Investasi jangka pendek memang cocok untuk kamu yang masih belajar. Keuntungan lainnya? Kamu juga bisa memperkecil risiko kerugian investasimu di tengah kondisi perekonomian dunia yang cenderung tidak stabil seperti sekarang ini.