Menjalani usaha sejak muda tentu memerlukan keberanian. Banyak pelaku usaha yang berusia muda ragu apakah mereka bisa menjalankan bisnis di usia muda. Hal ini tidak berlaku bagi Yasa Singgih, pemuda kelahiran 22 April 1995 dan pemilik usaha fashion Men’s Republic.

Never too young to be a billionaire. Yang paling penting adalah berani untuk melangkah,” demikian pendiriannya.

Di usianya yang masih di bawah 24 tahun berbagai penghargaan telah diraihnya. Ia pernah dinobatkan sebagai juara satu Wirausaha Muda Mandiri Nasional Kategori Mahasiswa Kreatif pada 2015, Marketeers Youth of the year of 2016 oleh Mark Plus hingga The Youngest Forbes 30 Under 30 Asia in Retail & E-Commerce Category 2016. Penghargaan yang terbaru diraih Yasa tahun 2017 lalu adalah Global Student Entrepreneurship Award Indonesia dan Asia Pasific.

Merugi Akibat Kurang Fokus

Awal mula ia terjun di dunia usaha dipicu kondisi ekonomi keluarga. Saat Yasa berusia 16 tahun, ayahnya terkena serangan jantung.

“Saya memulai bisnis pada saat usia 16 tahun, saat itu saya ingin membantu ekonomi orang tua saya dengan menjadi anak yang lebih mandiri,” begitu ungkapan pemuda asal Bekasi ini.

Saat itu ayahnya memilih tidak menjalani operasi pasang ring karena uangnya dipakai untuk pendidikan Yasa dan kakaknya.

Yasa pun bekerja serabutan untuk membiayai kuliahnya, mulai dengan bekerja paruh waktu di beberapa EO milik temannya hingga menjadi master of ceremony (MC) di berbagai acara ulang tahun, musik, perlombaan, talk show hingga seminar.

Bisnis pertamanya adalah berjualan lampu hias dan dijual secara online. Namun karena pasokan dari distributornya ‘macet’, bisnis lampu hiasnya ikut terhenti.

Yasa kemudian mencoba bisnis lain yaitu membeli kaus di Pasar Tanah Abang dan menjual secara online dengan mengusung label Men’s Republic. Usahanya berkembang sehingga ia memiliki modal untuk mencoba usaha bisnis lain yaitu outlet kuliner di kawasan Kebon Jeruk dan di Mal Ambassador.

Namun usaha kuliner ini tidak berhasil, bahkan usaha kausnya pun ditutup. Di usianya yang 18 tahun saat itu, Yasa mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

“Saat itu masih sangat muda, banyak maunya dan kurang fokus dalam berbisnis sehingga tertarik untuk membuka bisnis di bidang lain,” urainya.

Selain tidak fokus dalam menjalani bisnis, banyak hal teknis seperti pemilihan lokasi yang tidak strategis dan faktor menu menjadi penyebab kegagalan Yasa di bisnis kuliner.

Kembali Berbisnis Fashion

Karena saat itu Yasa akan masuk kuliah dan butuh biaya cukup besar, ia memutuskan untuk menghidupkan kembali Men’s Republic. Berbeda dengan konsep awal yang berjualan kaus, ia beralih ke sepatu karena ayahnya pernah bekerja di perusahaan sepatu.

Beragam sepatu sneakers dan kantoran dijual Men’s Republic secara online. Ia mematangkan konsep merek sepatunya dengan menyasar pasar milenial. Desain kekinian pada sepatunya diminati anak muda seusianya.

Menurutnya generasi milenial berbeda dengan generasi sebelumnya karena mereka bersedia mengeluarkan uang lebih banyak untuk lifestyle dibandingkan kebutuhan dasar. Kalau hanya mencari sepatu berdasarkan fungsi, mereka bisa memperolehnya di mana saja.

“Mereka dapat kebanggaan menggunakan Men’s Republic, bukan hanya membeli fungsi sepatu,” tuturnya.

Saat ini workshop Men’s Republic ada di lebih dari lima tempat, berlokasi di Bandung, Tangerang hingga Bogor. Produk Men’s Republic makin bervariasi tidak hanya sepatu namun juga produk celana dalam, jaket, dan juga sandal untuk pria. Tim produksi diperkuat lebih dari 50 orang yang bekerja di lima tempat produksi. Sementara di kantor ada lebih dari 10 orang tim manajemen mengurus administrasi.

“Men’s Republic terus berkembang, kami selalu mengeluarkan produk dan campaign baru setiap bulan. Selanjutnya kami juga akan meluncurkan brand baru untuk segmen wanita dengan label Women’s Republic,” tandas Yasa.

Pentingnya Berinvestasi

Yasa mengatakan selain berinvestasi di sektor riil, ia juga berinvestasi di emas batangan dan reksa dana. Langkah ini dilakukannya sebagai diversifikasi aset, sehingga masuk ke banyak instrumen investasi.

“Investasi ini penting karena sebagai persiapan untuk segala keperluan di masa depan, entah itu pensiun, pendidikan anak, dan apapun yang dibutuhkan nantinya,” imbuhnya.

Menurutnya berinvestasi bukan hanya bersifat fisik saja tapi juga nonfisik. Karena itu ia menyarankan bagi generasi muda seusianya supaya berinvestasi ke diri sendiri dalam arti belajar untuk memperbaiki diri. Mulai dari rajin baca buku, sekolah lagi, banyak ikut pelatihan yang terkait dengan pekerjaan, ataupun sekadar bertemu orang yang sudah lebih berhasil.

“Apabila sudah berinvestasi ke diri sendiri, baru berinvestasi ke instrumen lainnya,” pungkas Yasa.