Orang biasa mungkin berpikir apakah pasar memiliki stok ayam yang bisa dibeli. Tetapi Tulus Joko Sarwono justru berpikir sebaliknya; bagaimana dia bisa ikut menyuplai daging ayam sehingga stok selalu tersedia di pasar.

Tulus memulai usaha peternakan ayam tahun 2017 lalu. Keinginannya berwiraswasta didorong rasa jenuh bekerja di kantor dan ingin bisa pensiun dengan hasil usaha yang dirintis sendiri. Alasan lain, Tulus ingin mencoba tantangan baru yang lain dari pada yang lain.

“Setiap hari selalu ada kebutuhan daging ayam. Usaha kuliner yang mengunakan ayam sebagai bahan baku juga makin banyak. Terutama usaha-usaha kecilnya. Saya pikir ini kesempatan baik,” kata Tulus yang tinggal di kawasan Jakarta Selatan ini sambil tersenyum lebar.

Berbekal keyakinan dan semangat, Tulus memutuskan berhenti bekerja dari perusahaan yang bergerak di bidang kreatif yang selama ini menghidupinya. Dia mulai kasak kusuk mencari perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam untuk diajak bekerja sama.

Tulus rupanya sadar betul, usaha peternakan yang akan dia rintis tidak mudah dan membutuhkan jaringan kuat terutama di bidang pemasaran nantinya. Dengan bermitra, maka pengusaha ternak yang tergolong kecil seperti dirinya mendapatkan sokongan, misalnya bibit ayam, pakan, vaksin, pelatihan dan tentu saja pemasaran.

Sistem Sewa Kandang

Bermodal awal sebesar Rp50 juta hasil menjual mobil kesayangan, Tulus memulai peternakan ayamnya. Dia dipercayai mitranya untuk membesarkan 35.000 ekor anak ayam potong, sementara pihak mitra akan menanggung pakan dan kesehatan ayam-ayam tersebut.

“Sebelumnya ada pelatihan untuk bisa beternak ayam, jadi kita sudah tahu standar ayam yang dibutuhkan pihak mitra,” kata Tulus.

Tantangan yang dihadapi Tulus adalah mencari kandang untuk rumah 35.000 ayamnya itu. Ini bukan hal yang mudah karena Jakarta sudah penuh sesak dengan pemukiman dan mustahil ada tanah kosong untuk dijadikan kandang ayam.

Tulus pun terpaksa putar otak untuk mencari lahan kosong. Akhirnya dia memutuskan melakukan sistem sewa kandang di luar Jakarta. Pilihannya ke kawasan Jawa Barat seperti Indramayu, Cianjur, dan Sukabumi.

“Di sana banyak pemilik tanah yang menyewakan tanahnya untuk kandang ayam. Bahkan ada yang sudah ada kandangnya sekalian. Rupanya cara ini sudah lama dilakukan para peternak ayam dari Jakarta yang tidak memiliki lahan,” kata Tulus.

Biasanya sistem sewa kandang dilakukan setiap satu periode yaitu dari ayam masih berupa anakan hingga siap panen. Setelah itu kandang akan disterilkan lagi untuk menunggu sewa berikutnya. Harga sewa kandang tergantung pada luas lahannya.

Menerobos Berbagai Tantangan

Karena kandang ayamnya berada jauh dari Jakarta, Tulus lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Jakarta untuk bersafari dari kandang ke kandang, memastikan ayam-ayamnya bisa berkembang dengan baik dan bisa dipanen.

Ini merupakan tantangan terberat yang dihadapi pria lajang ini. Beruntung, pihak mitra menyediakan “anak kandang”, yaitu mereka yang bekerja untuk menjaga kandang ayam. Dengan begitu beban Tulus agak sedikit berkurang.

“‘Anak kandang’ ini bertugas membersihkan dan memberikan makan ayam. Mereka biasanya tinggal di dekat kandang. Jadi bisa dibilang kandang cukup aman. Mereka sangat membantu usaha saya,” ujar Tulus serius.

Kandang yang jauh juga memberikan masalah lain, yaitu banyak ayam hasil panen yang mati dalam perjalanan saat menuju Jakarta.

“Ayam-ayam ini mati sebelum sampai ke tempat potong karena macet dan kelamaan di jalan,” kata Tulus.

Tulus memetik banyak pengalaman dari kerugiannya tersebut. Dia mencoba mengurangi jumlah ayam yang mati misalnya dengan memilih waktu pemberangkatan sehingga bisa terhindar dari macet. Cara lain yang dilakukan yaitu memastikan ayam tidak berdesak-desakan dalam keranjang saat dikirim, sehingga bisa memberikan udara yang cukup.

Tantangan lain yang dihadapi Tulus adalah adalah masalah pemasaran ayam. Karena hasil ternak ayam Tulus sering melampaui target yang diterapkan mitra, dia memiliki kebebasan menjual sisa produksi secara mandiri.

“Biasanya saya menawarkan ayam saya ke usaha-usaha kecil, seperti warung tenda pecel ayam,” kata Tulus.

Pemasaran ayam kecil-kecilan seperti yang dilakukan Tulus memang tidak mudah karena biasanya pemain besar yang menguasai pasar. Namun dengan jurus door to door alias mengunjungi langsung pembeli potensial, Tulus berhasil menjual ayam-ayamnya. Sekarang dia memiliki banyak langganan yang sebagian besar pengusaha kuliner menengah dan kecil.

“Yang saya tahu, setiap tantangan selalu ada jalan keluar, selama kita selalu positif dalam berpikir,” kata Tulus sambil tersenyum.

Merambah Pemotongan Ayam

Setelah hampir setahun bergelut dengan bisnis ayam potong, Tulus mulai melirik bisnis baru yang masih berhubungan dengan usaha sebelumnya, yaitu usaha pemotongan ayam.

Tulus menerapkan sistem pemotongan secara syar’i , yaitu para karyawannya membaca Basmallah agar ayam yang dipotong halal hukumnya menurut Islam. Di luar dugaan respon yang diberikan konsumen Tulus cukup baik. Meskipun belum setahun, tempat pemotongan ayamnya mulai dibanjiri pelanggan.

Berbeda dengan kandang ayam yang terletak di luar Jakarta, usaha pemotongan ayam Tulus terletak di kawasan Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Tulus menyewa sebidang tanah untuk usahanya tersebut.

“Limbah ayam, termasuk bulunya malah sudah ada yang ambil untuk diolah kembali menjadi pakan ikan,” ujarnya.

Tulus meyakini bahwa semua usaha akan maju asalkan memiliki dua hal.

Manajemen yang baik dan kesabaran. Itu dua kunci utama,” katanya.