Mitos-mitos tentang saham membuat sebagian orang berpikiran negatif tentang saham. Padahal, pandangan negatif itu muncul karena mereka belum terlalu memahami seluk beluk saham.

Berikut ini enam mitos yang kerap mengundang salah paham tentang saham. Simak penjelasannya, yuk, agar kamu tidak ikut terjebak dalam pandangan yang keliru mengenai instrumen investasi yang satu ini.

1. Perlu Modal Besar Membeli Saham

Banyak orang beranggapan berinvestasi saham memerlukan modal besar sehingga mereka mengurungkan niat melakukannya. Padahal tidak demikian dalam kenyataannya karena beberapa perusahaan sekuritas membolehkan nasabah membuka rekening saham dengan modal awal terjangkau, mulai dari ratusan ribu hingga dua juta rupiah. Selain itu, sejak Januari 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) membolehkan minimal pembelian saham sebanyak 1 lot atau 100 lembar saham sehingga masyarakat luas mampu membeli saham dengan dana minimal.

Kemajuan teknologi internet pun membuat pasar saham lebih terbuka untuk umum daripada sebelumnya. Semua data dan alat penelitian yang sebelumnya hanya bisa diakses broker kini juga dapat dimanfaatkan investor individu. Perangkat trading online membantu trading saham menjadi lebih murah karena mengurangi biaya tenaga pemasaran dan pialang.

2. Berinvestasi Saham Sama Seperti Judi

Investasi saham sama sekali berbeda dengan judi karena membeli saham perusahaan berarti kamu ikut memiliki suatu perusahaan. Nilai perusahaan ditentukan antara lain oleh prospek bisnis, kondisi keuangan internal serta realisasi rencana masa depan perusahaan tersebut.

Karena prospek bisnis dan penghasilan masa depan sebuah perusahaan dapat berubah mengikuti dinamika pasar, maka harga saham pun kerap berfluktuasi atau naik turun.

Jauh berbeda dari judi yang hanya memakai insting, berinvestasi saham yang baik dan benar dilakukan berdasarkan analisis yang matang. Perusahaan sekuritas memiliki tim yang menganalisis prospek saham perusahaan dan hasil analisis tersebut dapat dipakai investor yang melakukan trading secara harian maupun jangka panjang sehingga menghilangkan spekulasi.

3. Berinvestasi Saham Bikin Bangkrut

Berinvestasi saham memang perlu modal namun jangan menggunakan uang belanja untuk keperluan dapur atau pendidikan anak. Jangan mempertaruhkan semua hartamu atau keluargamu demi investasi saham.

Diperlukan manajemen modal jika kamu mulai berinvestasi saham. Jangan gunakan seluruh modal yang kamu miliki untuk trading. Gunakan sebagian kecil terlebih dahulu dan perhitungkan dulu maksimal kerugian yang dapat kamu tanggung. Dengan investasi awal yang tidak terlalu besar kamu sudah bisa memiliki saham-saham perusahaan bagus.

Selain itu kamu harus sering mempelajari dan bertanya mengenai risiko setiap saham pada orang yang tepat. Gunakan juga media investasi atau laporan riset yang dapat membantu keputusan investasi kamu.

4. Harus Selalu Memantau Pergerakan Saham

Ada dua jenis investor di saham, yaitu jangka pendek dan panjang. Investor jangka pendek memiliki waktu banyak sehingga bisa memantau pergerakan saham sepanjang hari karena mereka adalah trader saham harian. Investor jangka panjang tidak perlu memantau harga saham tiap hari karena bisa dilakukan per tiga hari sekali, itu pun hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit per hari untuk memantau pergerakan saham.

Apalagi kini sudah ada aplikasi yang dapat membantu kamu mengelola saham secara praktis tanpa mengganggu rutinitas kamu. Bagi trader, kini sudah ada trading robot yang bisa mengeksekusi jual beli saham di harga yang kamu inginkan tanpa kamu berada di depan layar komputer.

5. Butuh Koneksi Internal Perusahaan Agar Untung Besar

Tidak benar jika kamu punya pemikiran demikian karena mendapatkan informasi dari internal perusahaan mengenai rencana perusahaan ke depan merupakan tindakan ilegal yang dikenal dengan istilah insider trading. Menilai prospek sebuah perusahaan yang ingin kamu beli sahamnya bisa dilakukan dengan membaca hasil laporan para analis terhadap perusahaan terbuka.

6. Saham yang Naik Akan Turun Lagi

Hukum fisika seperti gravitasi tidak berlaku di pasar saham, terutama untuk saham perusahaan dengan fundamental yang sangat bagus. Contohnya adalah saham Telkom dan Unilever yang terus naik sejak go public. Bahkan saham Telkom beberapa kali dipecah harganya atau stock split karena dirasakan terlalu tinggi sehingga usai stock split, investor retail bisa kembali membeli saham Telkom.

Memang setiap saham pasti mengalami koreksi harga karena prospek bisnis tidak selalu bagus tiap tahun. Namun jika kamu menemukan perusahaan besar yang dijalankan oleh manajer yang sangat baik, sangat mungkin peluang harga sahamnya akan terus naik.Jadi, sebelum menelan bulat-bulat mitos tentang saham, lebih baik mencari tahu kebenarannya dahulu dari sumber-sumber terpercaya. Makin baik pengetahuan investasimu, tentu akan makin besar peluang keberhasilanmu.