Menikah merupakan babak baru kehidupan bagi seseorang, termasuk dalam hal keuangan. Tidak ada lagi uang pribadi seperti saat masih bujangan karena yang ada adalah uang bersama. Kalau dulu uang penghasilanmu digunakan untuk kepentingan diri kamu seorang, kini tidak lagi, karena uang dari hasil kamu bekerja juga dipergunakan untuk kebutuhan anak dan isteri.

Pengelolaan uang bersama ini akan berdampak pada masa depan anggota keluarga, karena itu diperlukan produk keuangan yang bisa menunjang kesejahteraan keluarga. Produk keuangan tersebut harus memberi manfaat bagi ayah, ibu dan anak, dan bisa dirasakan manfaatnya dalam jangka pendek maupun panjang.

Yuk, pahami empat produk keuangan yang wajib kamu miliki setelah menikah. Simak penjelasannya berikut ini.

1. Asuransi Kesehatan

Jika kamu sudah punya produk asuransi kesehatan sebelum menikah, sebaiknya diteruskan. Demikian pula bila pasanganmu sudah memilikinya tentu lebih baik dilanjutkan karena memiliki asuransi kesehatan akan membantu keuangan keluarga saat anggota keluarga jatuh sakit.

Saat anakmu lahir, tak salah juga langsung memberikannya asuransi kesehatan. Pilihlah asuransi dalam satu produk agar mudah pengurusan dan pembayarannya. Anak bisa dimasukkan dalam produk asuransi tambahan atau rider di asuransi yang kamu telah ikuti.

Membeli asuransi kesehatan berarti mengalihkan beban yang harus ditanggung akibat risiko di masa mendatang. Semua orang sepakat, tak ada yang kebal dengan risiko sakit, kecelakaan, cacat, dan meninggal. Bila risiko-risiko tersebut terjadi, akan berdampak besar pada hidup.

Jika keluarga sudah memiliki asuransi kesehatan, biaya pengobatan akan ditanggung asuransi sehingga tidak mengganggu pendapatanmu.

2. Asuransi Jiwa

Kematian adalah sebuah kepastian, tapi kita tak tahu kapan persisnya ajal akan menjemput. Ketika seorang kepala keluarga tiba-tiba meninggal, tentu akan mempengaruhi kelanjutan hidup keluarga karena penghasilan otomatis terhenti. Jika suami sebagai kepala keluarga telah memiliki asuransi jiwa maka keluarganya bisa terlindungi dari risiko yang terjadi saat sang kepala keluarga dipanggil Tuhan.

Namun, sayangnya banyak pasangan yang telah menikah lupa memiliki asuransi jiwa sehingga anggota keluarganya tidak mendapat perlindungan. Umumnya bila mereka telah memiliki asuransi jiwa, menjadi satu produk dengan asuransi kesehatan dan investasi unitlink.

Mengapa sebaiknya asuransi jiwa harus satu produk tersendiri? Karena klaim yang diterima ahli waris tentu lebih besar jika membeli asuransi jiwa terpisah dari asuransi kesehatan.

3. Investasi

Selain untuk proteksi jiwa dan kesehatan, dana keluarga perlu disisihkan ke produk investasi seperti deposito, saham atau reksa dana.

Dengan memiliki produk investasi setelah menikah, kamu sudah menyiapkan rencana keuangan jangka panjang bersama pasangan. Pilihlah produk investasi yang bisa kamu top up rutin setiap bulan sesuai kemampuan.

Keuntungan dari produk investasi lebih besar daripada tabungan yang hanya memberi bunga 1-2% per tahun. Misalnya saja investasi saham berpotensi memberi keuntungan 30% per tahun dan reksa dana bisa memberi keuntungan 18% dalam setahun.

Untuk keluarga muda yang baru saja memulai bahtera rumah tangga dan belum memiliki anak tentu memiliki keleluasan lebih dalam mengalokasikan dana investasi ini. Sambil menanti kehadiran anak, kamu bisa mempersiapkan dana kebutuhan masa depannya melalui investasi seperti reksa dana, saham, atau deposito.

Jika kamu melakukan hal ini sejak awal pernikahan, maka kamu sudah mengantisipasi berbagai masalah keuangan keluarga yang mungkin akan muncul di masa yang akan datang.

4. Tabungan

Walaupun tabungan disebut tidak memberi keuntungan besar, tetap saja diperlukan bagi keluarga, karena kamu pasti butuh uang tunai untuk berbagai keperluan rumah tangga.

Selain memiliki rekening masing-masing, beberapa pasangan suami istri juga memiliki rekening bersama yang dibuat untuk tujuan keuangan tertentu. Misalnya untuk tabungan pendidikan bagi anak atau untuk keperluan dana darurat jika terjadi hal tak diinginkan seperti pemutusan hubungan kerja atau anggota keluarga sakit. Dengan tabungan bersama, masing-masing dapat mengontrol pemakaian dana di tabungan ini.

Tentukan dana yang disetor untuk tabungan bersama ini tiap bulannya. Misalkan suami isteri bekerja maka masing-masing bisa menyetor 30% dari gaji ke rekening bersama. Bagi pasangan yang belum memiliki anak, bisa menabung lebih banyak dari jumlah itu.

Dalam mengatur rencana keuangan keluarga, yang juga tak boleh dilupakan adalah keterbukaan komunikasi antara kamu dan pasangan. Diskusikan tujuan keuangan kalian bersama-sama dan libatkan pasangan dalam setiap keputusan penting menyangkut keuangan keluarga. Dengan perencanaan dan produk keuangan yang tepat, masa depan keluargamu pun akan lebih terjamin.