Menguatnya dolar Amerika Serikat hingga menembus Rp14.000 sejak awal Mei 2018 lalu membuat banyak kalangan panik. Akibat dari menguatnya dolar adalah barang-barang impor menjadi lebih mahal dan daya beli masyarakat melemah.

Hal ini membuat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, yang merupakan patokan perbankan dalam menetapkan bunga simpanan dan kredit. Jika suku bunga acuan naik, pemerintah berharap supaya masyarakat yang memiliki dolar menukarnya dengan rupiah kemudian ditabung karena bunga tabungan dalam rupiah ikut naik.

Di balik menguatnya dolar, ternyata ada peluang yang kamu bisa raih, yaitu jika kamu berinvestasi di instrumen-instrumen keuangan berikut ini:

1. Deposito dolar

Menguatnya dolar belakangan ini tidak hanya terhadap rupiah, tetapi juga terhadap mata uang negara-negara lain termasuk mata uang utama global lainnya seperti euro, poundsterling dan yen. Hal ini disebabkan kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sampai dua kali hingga Juli 2018 dan berencana menaikkannya dua kali lagi pada September dan Desember 2018. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengontrol inflasi dalam negeri.

Seiring kenaikan bunga The Fed, bunga deposito dolar di Indonesia pun ikut naik. Jadi tak ada salahnya kamu membuka deposito dalam dolar yang ditawarkan bank-bank lokal ataupun bank asing di sini.

2. Deposito rupiah

Produk keuangan lain yang terkena efek berantai dari kebijakan The Fed adalah deposito rupiah. Karena menguatnya dolar membuat Bank Indonesia menaikkan bunga acuan maka bunga deposito dalam mata uang rupiah turut terkerek naik.

Sejumlah bank langsung menaikkan bunga 0,25% awal Mei 2018 lalu dan menaikkannya lagi di bulan Juni untuk menyesuaikan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Tambahan bonus buat kamu adalah jika kamu membuka deposito dengan nilai kurang dari Rp7.500.000 maka akan terbebas dari pajak bunga sebesar 20%.

3. Reksa dana dolar

Sejumlah manajer investasi lokal membuat produk reksa dana dolar, baik reksa dana pasar uang, saham atau pendapatan tetap. Reksa dana ini berisi produk pasar modal yang memiliki nilai dalam dolar karena merupakan saham dan obligasi yang tercatat di bursa luar negeri.

Saat harga saham dan obligasi di reksa dana ini menguat tentu saja kamu mendapat dua keuntungan, selisih kurs yang lebih tinggi karena penguatan dolar dan juga kenaikan nilai aktiva bersihnya disebabkan kenaikan harga saham dan obligasi.

Jenis reksa dana ini semakin mendapat minat dari masyarakat karena digunakan untuk tujuan keuangan yang membutuhkan mata uang dolar AS seperti pendidikan anak di luar negeri dan mengembangkan kekayaan investor berbentuk dolar.

4. Emas

Penguatan dolar merupakan bagian dari gejolak pasar dan nilainya naik turun. Pemerintah Indonesia tentu tidak tinggal diam dan Bank Indonesia akan berusaha memperkuat rupiah sehingga jika kamu hanya memburu dolar dalam jangka pendek bisa jadi kecewa karena nilainya akan turun lagi.

Investor sebaiknya tidak menempatkan seluruh investasinya dalam bentuk valuta asing, tetapi melakukan diversifikasi investasi dalam bentuk instrumen lain seperti logam mulia. Harga emas memiliki arah yang berkebalikan dengan dolar, sehingga saat ini waktu yang tepat membeli emas karena harganya justru sedang lebih rendah ketika dolar menguat.

Belilah emas untuk jangka panjang karena sifat emas yang tahan terhadap inflasi. Saat menyimpan emas yang tahan terhadap inflasi, kamu sudah mengamankan nilai kekayaanmu.

Jadi, jangan ikut-ikut panik dahulu bila mendengar penguatan dolar terhadap rupiah. Setelah memahami produk-produk keuangan di atas, ternyata penguatan dolar juga menyimpan peluang investasi, bukan?