Cita-cita untuk mandiri dan memberi dampak positif bagi orang lain menjadi pendorong Hanindia Narendrata mendirikan Telunjuk.com, situs pembanding harga produk-produk yang ditawarkan berbagai marketplace. Lulusan ITB jurusan elektro tahun 2008 ini rela meninggalkan kemapanan bekerja di perusahaan operator telekomunikasi terbesar di Indonesia untuk bersama rekannya Redya Febrian mengembangkan perusahaan.

Selepas lulus kuliah, pria yang akrab disapa Drata ini bekerja di PT Indosat Tbk (sekarang bernama Indosat Ooredoo), tepatnya di bagian business development. Rekan sekerjanya Redya Febrian awalnya curhat ingin membeli laptop dan kesulitan menemukan harga terendah. Dengan kemampuan Redya di bidang IT, ia membuat crawler robot yang setiap hari bekerja menampilkan harga. Saat itu Redya mempraktikkannya dari daftar harga di lembar kerja program MS Excel.

“Dari situ kami berpendapat cara ini akan membantu masyarakat Indonesia untuk membandingkan harga di antara banyaknya situs e-commerce di Indonesia,” terangnya.

Baca juga: 6 Mitos Investasi Saham

Dipacu Program Inkubasi

Redya mengajak Drata bergabung mengembangkan mesin pencari atau search engine khusus informasi harga-harga ini. Sambil masih bekerja, mereka mencoba ikut lomba di Pekan Produk Kreatif Indonesia yang diadakan Project Eden pada Juli 2011. Ternyata keikutsertaan mereka menemui awal jalan kesuksesan. Mereka terpilih dalam 20 Besar Peserta Terbaik dan setelah diseleksi lagi masuk dalam 5 Besar.

Dari lomba ini, Telunjuk mendapatkan dana dari investor dan berhak mengikuti program inkubasi dari Project Eden. Project Eden adalah program inkubasi yang menjadi akselerator bagi perusahaan-perusahaan startup agar siap bersaing di dunia bisnis digital dengan ilmu dan strategi yang cukup.

Telunjuk.com juga disediakan kantor di kawasan Menteng dan dana yang didapat dari Project Eden digunakan untuk operasional selama enam bulan. Drata dan Redya sepakat melakukan launching pada Februari 2012 agar dikenal publik, baik calon visitor Telunjuk.com maupun investor.

Di Telunjuk, Redya berperan sebagai Chief Executive Officer (CEO) sedangkan Drata sebagai Chief Marketing Officer (CMO) yang bertugas mengembangkan bisnis dan pemasaran perusahaan. Semenjak Redya cuti sementara karena harus menemani istrinya kuliah S2 di Australia, Drata mengambil alih kendali perusahaan.

Seiring perjalanan waktu, tepatnya di 2013, Telunjuk kembali mendapat investor, kali ini dari Jepang, yaitu Venture Republic. Kemudian dua tahun kemudian Venturra Capital dari grup Lippo menjadi anchor investor.
Ternyata Venture Republic merupakan situs pembanding harga terbesar kedua di Jepang dan dari investor kedua ini, Drata dan Redya banyak belajar.

Kinerja Meningkat

Tugas dari Telunjuk.com adalah membuat traffic berkualitas ke situs e-commerce. Saat ini Telunjuk.com sudah bekerjasama dengan 30 situs e-commerce. Mereka mendapat penghasilan dari persentase atau komisi dari transaksi yang terjadi di situs e-commerce yang dirujuk. Selain itu pemasukan didapat dari tiap kali transaksi, bukan dari komisi namun dilihat dari frekuensi transaksi.

Hasil dari pengembangan mesin Telunjuk.com adalah jumlah traffic yang meningkat. Saat ini jumlah trafficatau kunjungan ke Telunjuk.com sebanyak 1 juta per bulannya.

Seperti usaha-usaha lain pada umumnya, di awal merintis Telunjuk.com Drata dan Redya juga menghadapi berbagai tantangan, di antaranya harus mendatangkan pengunjung ke situs. Selain itu pendapatan juga masih minim.

“Baru di akhir 2017 kami bisa merasakan profit setiap bulan, meski ada dinamika pula setelah itu,” ungkap Drata.

Saat ini Telunjuk.com didukung oleh 17 karyawan, dengan setengahnya merupakan karyawan di bagian teknologi informasi.

Baca juga: Beda Investasi dan Spekulasi

Peluang dan Tekad

Sebelum memutuskan berhenti menjadi karyawan di tahun 2011, Drata sudah menikah dan memiliki seorang anak. Keputusannya untuk pindah dari zona nyaman ke zona tidak nyaman sebagai pengusaha sempat ditentang keluarga, bahkan ia disebut “gila” karena melepas pekerjaan yang sudah mapan.

“Saat itu isteri saya juga sudah resign dari pekerjaannya di oil company karena mau fokus mengurus anak,” urainya.

Namun ia melihat peluang besar dari situs pembanding harga ini karena relatif masih sepi pemain. Hingga tahun 2013 baru ada tujuh situs pembanding harga, baik lokal maupun asing.

Di samping itu perkembangan e-commerce di Indonesia semakin pesat dan menjadi peluang bagus untuk Telunjuk.com. Pada awal 2018 survei U Govt melaporkan setengah dari total pengguna internet di Indonesia melakukan belanja online. Perilaku belanja online melalui smartphone juga sudah menyamai belanja online melalui komputer desktop ataupun laptop.

Drata mengaku termotivasi memajukan Telunjuk.com kendati harus memulai dari nol karena ingin berkontribusi pada masyarakat luas. “Saya harus punya dampak dan bisa membantu banyak orang dengan perusahaan ini. Selain itu Tuhan pasti menyertai usaha saya ini,” pungkasnya.