Pergerakan harga saham selalu dinamis. Posisi harga bisa berubah melemah atau menguat beberapa detik kemudian. Hal ini disebabkan tingginya penawaran dan permintaan dari trader yang membentuk harga pasar.

Investor membeli saham dengan harapan harganya akan naik, sehingga saat menjual kembali, mereka mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dikurangi harga beli. Berdasarkan tren perdagangan di bursa, ada sejumlah momen yang dikatakan tepat untuk membeli saham, yaitu:

Baca juga: Barbershop Muhammad Emyranza

1. Saat pasar dalam tren menurun

Pasar saham bisa mengalami tren penurunan yaitu saat kondisi makroekonomi sedang lesu, misalnya saat dolar menguat dan terjadi pelemahan nilai rupiah. Akibatnya, pengeluaran perusahaan meningkat karena bahan mentah yang diimpor menjadi lebih mahal atau pembayaran utang perusahaan dalam dolar menjadi lebih besar.

Pada awal 2013, rupiah dibuka di level Rp9.600-an per USD dan di akhir Desember 2013 tersungkur di bawah level Rp12.200 per USD. Saat terjadi fenomena yang disebut Super Dollar itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok cukup dalam. IHSG ditutup di 4.274. Padahal IHSG sempat memecahkan rekor di level 5.214 pada tanggal 20 Mei 2013. Artinya harga rata-rata saham di Bursa Efek Indonesia terdiskon 18% sejak Mei hingga akhir tahun 2013. Termasuk yang mengalami penurunan harga adalah saham-saham yang memiliki kinerja bagus sehingga saat demikian merupakan saat yang tepat untuk membeli saham.

2. Saat musim laporan keuangan tiba

Menjelang keluarnya laporan keuangan emiten, investor bersiap melakukan aksi beli untuk mengantisipasi kenaikan harga saham. Saat laporan keuangan emiten sesuai dengan prediksi para analis atau malahan melebihi estimasi, harga saham emiten tersebut akan mengalami kenaikan.

Emiten merilis laporan keuangan per kuartal (tiga bulanan) dan dirilis di awal kuartal berikutnya. Misalkan laporan kuartal kedua akan diumumkan pada pertengahan Juli, biasanya sejak awal Juli investor sudah mulai melakukan pembelian saham.

3. Di akhir tahun

Di akhir tahun, tepatnya awal Desember, investor pada umumnya melakukan aksi beli yang disebut sebagai window dressing atau dalam istilahnya mempercantik harga saham. Bulan Desember adalah bulan yang istimewa untuk bursa saham.

Berdasarkan riset yang dilakukan Argha Karo, analis dari Creative Trading System, pada indeks Kompas 100 dalam 10 tahun terakhir ditemukan pola kenaikan harga saham. Dari indeks tersebut, ada tiga saham yang selalu naik di bulan Desember dan ada 16 saham memiliki probabilitas kenaikan 80% atau lebih.

Ada banyak kepentingan untuk mengangkat harga saham di akhir tahun, baik kepentingan dari sisi emiten, maupun para fund manager besar. Terlepas dari bagaimana kondisi IHSG sepanjang tahun atau bagaimana kondisi fundamental perusahaan, pada bulan Desember selalu terbuka peluang untuk memperoleh profit dari saham-saham unggulan.

4. Saat fundamental perusahaan membaik

Selain karena hukum ekonomi yaitu permintaan dan penawaran, harga saham juga dipengaruhi faktor fundamental, yaitu bagaimana kondisi keuangan perusahaan tersebut. Saat kinerja sebuah perusahaan menurun akibat utang yang tak terbayar atau prospek bisnis perusahaan sedang suram maka saham perusahaan tersebut tidak diminati.

Tahun 2012-2013 terjadi perlambatan ekonomi, selain itu ada kebijakan penghentian penggunaan batu bara dalam industri China, negara tujuan ekspor batu bara Indonesia. Akibatnya, permintaan batu bara menurun dan menyebabkan harga saham-saham emiten batu bara menurun tajam. Namun sejak tahun 2016 lalu harga batu bara sudah mulai membaik karena permintaan yang pulih, investor pun mulai membeli saham perusahaan tambang batu bara.

Dari ulasan-ulasan ini, kamu bisa mendapatkan pandangan kapan waktu yang tepat untuk membeli saham sehingga bisa meminimalkan risiko kerugian. Selamat mencoba!