Kini tas tak cuma berfungsi sebagai wadah membawa barang saat berpergian, tapi juga sebagai produk fesyen. Sebagai pendukung penampilan, model dan kualitas menjadi pertimbangan saat membelinya. Apalagi tas kulit yang memiliki “aura” berbeda, mewah dan berkelas.

Baca juga: Batasan Tipis Investasi dan Spekulasi

Meri Yuarif cukup jeli untuk melihat peluang ini. Kendati demikian, perjalanan bisnisnya harus melalui onak dan duri, termasuk bangkrut dan ditipu oleh mitra kerjanya sendiri.

Semuanya dimulai pada November tahun 2011 lalu ketika wanita 35 tahun itu memutuskan berbisnis. Selain untuk mengisi waktu luang sebagai ibu rumah tangga, Meriyu – demikian dia disapa – juga ingin mendapat penghasilan lebih.

Pada awalnya dia berbisnis vinil atau kulit sintetis dalam berbagai bentuk. Meriyu memilih lokasi bisnisnya di Yogyakarta sebagai tempat produksi meskipun dia sendiri tinggal di Jakarta.

Bisnis vinil itu hanya bertahan dua tahun. Jarak Jakarta- Yogyakarta yang jauh membuat bisnis vinilnya sulit dikontrol. Akibatnya kebangkrutan tidak dapat dihindari karena berbagai masalah yang timbul.

Saat itu, Meri sempat frustasi. Bukan itu saja, tidak ada sedikit pun barang produksi yang tersisa. Sehingga dia mau tidak mau harus memulainya dari awal lagi.

Beruntung dewi fortuna masih berpihak padanya. Label Biyantie yang sudah terdaftar di Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) menjadi penyelamatnya.

“Biyantie diminta Dinas Perindustrian untuk untuk mengikuti pameran di Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) pada April 2014,” kenang Meri.

Meri hanya memiliki waktu dua bulan untuk ikut pameran tersebut sementara dia tidak memiliki stok barang yang bisa diikutsertakan.

Untungnya seorang teman yang lebih dahulu berkecimpung di bisnis tas kulit membantunya. Alhasil, stan Biyantie diisi tas milik temannya sebanyak 200 unit dan semuanya ludes terjual. Dari pameran itulah Biyantie dikenal sebagai produsen tas.

Saat itu Meri masih menjadi reseller tas produksi temannya selama beberapa bulan hingga akhirnya dia memutuskan mulai memproduksi tas dengan menggandeng mitra. Karena penjualan barang secara online sudah booming, Meri merasa bisa memasarkan produknya dengan cara tersebut. Terutama dengan adanya Instagram dan Facebook yang pasti bisa menjadi tempat promosi.

Dia percaya diri bahwa usahanya akan berhasil meskipun tidak memiliki toko offline.

Sayangnya mitra tersebut menipunya hingga jutaan rupiah. Trauma ditipu terus menerus, Meri pun memutuskan mulai mandiri membangun Biyantie pada April 2015, dengan modal Rp10 juta. Uang itu diberikan kepada suaminya untuk dibelikan peralatan, material dan menggaji dua karyawan dari Bogor untuk fokus memproduksi tas kulit.

“Saya pilih tas karena teman menyelamatkan saya dengan tas dan saya suka tas kulit. Kulit itu bentuknya orisinal, keren tidak dibuat-buat. Memakai kulit menunjukkan kelas, apapun brand-nya,” tutur ibu tiga anak itu.

Banjir Pesanan

Kerja kerasnya pun tak membohongi hasil.

Dengan dibantu suami Setiawan Ananton yang memilih mundur dari profesinya sebagai public relation di salah satu perusahaan ternama di Jakarta demi komitmen membangun Biyantie pada 1,5 tahun lalu, kini Meri tak cuma memiliki tas dengan label Biyantie tapi juga The Meer.

The Meer adalah bentuk apresiasi Meri untuk suaminya lantaran memenuhi komitmennya di awal menjalani bisnis.

“Dalam proses bangkrut dan tumbuh, kemudian gantian suami yang resign. Itu komitmen dari awal, kalau Biyantie besar, suami harus back up,” ujar Meri.

Soal Biyantie dan The Meer jelas berbeda namun memiliki kualitas yang tak bisa dipandang sebelah mata. Kalau Biyantie menyasar pembeli kelas menengah ke atas, sementara The Meer diperuntukkan bagi kalangan menengah.

Biyantie yang diproduksi berdasarkan pesanan itu dibuat dengan kulit sapi dan domba yang diekspor dari Turki, Australia, Selandia Baru dan Italia. Sedangkan The Meer dibuat dari kulit premium lokal, yang diproduksi secara massal.

Faktor ini membuat harga tas Biyantie lebih mahal, yakni berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp5 jutaan, sedangkan The Meer kurang dari Rp1 juta.

Secara rutin semua produksi tas dipamerkan melalui akun media sosial Biyantie di Facebook dan Instagram. Termasuk beberapa produksi tas yang sengaja dipesan khusus oleh para pengila tas di tanah air.

Makin Populer

Dengan mempekerjakan sekitar 29 karyawan, bisnis itu bisa menghasilkan tas Biyantie sebanyak 300 buah setiap bulannya dan tas The Meer sebanyak 300-750 buah.

Popularitasnya juga makin melambung setelah berkolaborasi dengan beberapa desainer fesyen Tanah Air.

Beberapa desainer yang pernah bekerja sama dengannya, di antaranya Gitawidya dalam fashion showCouture Fashion Week di New York pada September 2017.

Rencananya Meri juga akan bekerja sama dengan Yogiswari Pradjanti dan Kursien Karzai serta desainer lainnya tahun ini, yang salah satunya akan menggelar fashion show di Malaysia.

Selain berkolaborasi dengan desainer, Meri juga melakukan pameran. Contohnya di Tokyo, ada sekitar 20 unit tasnya dipamerkan di salah satu mal di negara itu.

“Baru-baru ini pun datang tawaran untuk menggelar pameran di Hong Kong,” kata Meri.

Rencana Masa Depan

Meski pesanan dan proyek makin banyak, namun Biyantie belum berencana membuka toko offline dalam waktu dekat.

Yang menjadi fokus Biyantie saat ini adalah mengembangkan pasar di luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi, Sumatera dan Papua yang saat ini masih sedikit pembelinya. Biyantie juga berambisi mengambil orderan secara masif, termasuk melakukan ekspansi ke luar negeri.

Baca juga: Mau Nyaman di Hari Tua? Siapkan Hal Ini Sekarang!

Jika rencana dan proyek itu terealisasi, Meri optimistis omzetnya bisa naik berkali-kali lipat. “Omzet kami sekarang sekitar Rp300 jutaan per bulan, target kita seminggu Rp300 juta,” ujar wanita yang hobi bernyanyi tersebut.