Salah satu investasi yang cukup populer adalah obligasi, meski tak sepopuler deposito atau saham.

Investasi obligasi adalah investasi dana pinjaman. Artinya, investor memberikan dana pinjaman kepada penerbit obligasi (perusahaan atau pemerintah) dalam bentuk surat utang (obligasi). Kemudian, dana segar yang dihimpun dari masyarakat tersebut akan digunakan untuk mengembangkan usaha perusahaan atau membiayai sebagian defisit anggaran belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Karena sifatnya sebagai dana pinjaman, penerbit obligasi berkewajiban membayar bunga (kupon) secara berkala sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan dan pokok pinjaman saat jatuh tempo.

Obligasi sendiri merupakan surat utang jangka panjang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan dengan nilai nominal (nilai pari/par value) dan waktu jatuh tempo tertentu.

Baca juga: Tas Kulit Kreasi Meri Yuarif

Berikut beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang obligasi:

Jangka Waktu

Jangka waktu jatuh tempo bervariasi, mulai satu tahun hingga lebih dari lima tahun. Semakin pendek waktu jatuh tempo, makin kecil efeknya terhadap tingkat suku bunga, namun semakin lama durasi jatuh tempo maka semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Nilai pasar obligasi punya kecenderungan bergerak berlawanan arah dengan perubahan suku bunga. Jika suku bunga turun, harga obligasi akan meningkat, begitu pun sebaliknya.

Di Mana Bisa Dapatkan Obligasi?

Untuk mendapatkan instrumen ini cukup mudah. Kamu bisa membelinya di agen penjual obligasi, semisal di perbankan atau melalui perusahaan sekuritas. Sebelum membeli, pertimbangkan peringkat obligasi selain besar kuponnya. Hal ini menjadi petunjuk aman atau tidaknya obligasi, kemampuan pihak penerbit membayar kupon dan dana pokoknya.

Obligasi yang telah dibeli bisa dijual kepada pihak lain di pasar sekunder sesuai nilai atau harga pasar sebelum obligasi tersebut jatuh tempo.

Jenis Obligasi

Obligasi memiliki banyak jenis. Berdasarkan jenis penerbitnya dibedakan menjadi obligasi pemerintah, obligasi korporasi dan obligasi luar negeri. Untuk obligasi pemerintah terdiri dari obligasi pemerintah pusat (treasury bonds) dan obligasi pemerintah daerah (municipal bonds).

Obligasi pemerintah diterbitkan oleh pemerintah dan dijaga penuh oleh pemerintah selaku penerbit dan aman dari gagal bayar (default) lantaran dijamin oleh APBN. Kendati demikian, tak sepenuhnya obligasi ini bebas dari risiko lantaran berpotensi menurun saat suku bunga naik, terutama untuk obligasi jangka panjang.

Obligasi Pemerintah

Obligasi pemerintah pun memiliki beberapa jenis, yakni Obligasi Rekap yang diterbitkan dalam rangka Program rekapitalisasi Perbankan, Surat Utang Negara (SUN) untuk membiayai defisit APBN, Obligasi Ritel Indonesia (ORI) untuk membiayai defisit APBN namun dengan nilai nominal lebih kecil sehingga bisa dibeli secara ritel, dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). SBSN sering juga disebut obligasi syariah atau obligasi sukuk untuk membiayai defisit APBN berdasarkan prinsip syariah.

Obligasi Perusahaan

Sementara obligasi perusahaan tak seperti obligasi pemerintah lantaran punya risiko gagal bayar jika perusahaan penerbit mengalami masalah. Tapi perusahaan penerbit obligasi memiliki risiko gagal bayar berbeda-beda, tergantung karakteristik perusahaan dan ketentuan dari setiap obligasi. Makin besar risiko gagal bayar maka makin tinggi suku bunga yang diminta investor.

Namun, obligasi perusahaan biasanya memberikan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dibanding obligasi pemerintah ketika perekonomian stabil. Sebaliknya saat perekonomian melemah dan kekhawatiran gagal bayar meningkat, yield yang diberikan obligasi perusahaan di bawah obligasi pemerintah.

Adapun obligasi luar negeri diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan luar negeri yang juga memiliki risiko gagal bayar. Risiko akan bertambah bila obligasi dalam mata uang di luar negara investor.

Kelebihan Obligasi

Dengan banyaknya jenis obligasi, instrumen ini pun menawarkan sejumlah kelebihan kepada investor, yang bisa menjadi pilihan penting sebagai instrumen investasi.

Keuntungan

1. Keuntungan obligasi berasal dari kupon. Kupon obligasi terbagi atas kupon tetap (fixed coupon), kupon mengambang (floating coupon) dan tak memberlakukan kupon (zero coupon). Jika durasi jatuh tempo obligasi makin panjang maka keuntungan yang didapat makin besar.

2. Selain dari kupon, keuntungan didapat dari selisih harga obligasi yang telah diperdagangkan sebelum jatuh tempo (capital gain). Capital gain pun bisa diperoleh bila investor membeli obligasi dengan harga diskon dan saat jatuh tempo mendapatkan pengembalian senilai harga nominal.

3. Kupon obligasi nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan bunga deposito.

4. Investasi obligasi pemerintah aman lantaran adanya regulasi yang menjamin pembayaran kupon dan pokok obligasi. Aturan itu tertuang dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.

5. Jika perusahaan penerbit obligasi bangkrut atau dilikuidasi, pemegang obligasi memiliki hak klaim pertama atas aktiva perusahaan.

6. Lebih fleksibel jika ingin diperdagangkan di pasar sekunder.

7. Obligasi bisa dijadikan sebagai jaminan.

Kekurangan Obligasi

Selain memiliki kelebihan, setiap investasi juga memiliki kekurangan, termasuk obligasi. Beberapa kekurangan itu, yakni:

1. Penerbit obligasi memiliki risiko gagal bayar terhadap kupon obligasi atau pengembalian seluruh pokok obligasi. Namun ini tak berlaku untuk obligasi pemerintah karena dilindungi UU.

2. Obligasi sangat sensitif dengan fluktuasi tingkat suku bunga, iklim ekonomi dan kondisi politik.

3. Menjual obligasi yang belum jatuh tempo di pasar sekunder akan berimbas buruk bagi pemegang obligasi lantaran harga jualnya di bawah harga beli.

4. Obligasi dengan jangka waktu panjang tak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo jika dibutuhkan sewaktu-waktu atau ingin melakukan investasi lain.

Baca juga: Peruntungan Ayam Potong Joko Sarwono

Bagaimana, tertarik berinvestasi dengan obligasi?