Saham menjadi salah satu instrumen investasi di pasar modal yang paling populer dan banyak dipilih investor. Dibandingkan dengan jenis instrumen investasi lainnya, saham termasuk salah satu instrumen investasi yang berpotensi memberikan keuntungan besar, namun berkorelasi lurus dengan risikonya yang juga besar.

Baca juga: Bisnis Krealtif Fauzan Mahda

Bagi kalangan milenial, saham bisa menjadi pilihan yang cukup menarik, mengingat karakter milenial yang fleksibel dan menyukai tantangan. Apalagi, mereka sangat melek teknologi, sehingga untuk mencari informasi soal saham pun, bukan perkara sulit karena banyak aplikasi yang tersedia dan informasi lain yang bisa diakses di internet.

Kendati demikian, investasi di pasar saham memerlukan keahlian yang mumpuni, perlu strategi, kemampuan membaca dan memprediksi kondisi pasar yang bisa berdampak pada pergerakan saham. Investor antara lain perlu memahami kondisi fundamental ekonomi makro, aksi korporasi perusahaan, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, tingkat suku bunga, kebijakan pemerintah, proyeksi kinerja perusahaan di masa depan, rumor serta sentimen di pasar.

Dengan memperhatikan sejumlah faktor tersebut dan dampaknya terhadap saham, lambat laun kamu bisa belajar dan tahu kapan harus membeli dan kapan waktu melepas atau menjual saham. Belajar saham memang tak bisa cepat karena perlu pengalaman, tapi berikut ini ada beberapa tips sederhana yang memberikan sedikit gambaran kapan momen yang tepat bagi kamu para milenial untuk mengoleksi saham.

Keuntungan perusahaan sedang turun

Bila kebetulan kamu menemukan saham yang harganya jatuh karena laba perusahaanya turun, siapkan dana milik kamu untuk membelinya. Tetapi sebelumnya perlu diingat kalau saham itu haruslah milik perusahaan yang punya reputasi baik dan terkenal. Lebih super lagi kalau saham itu milik perusahaan negara alias BUMN.

Sebuah perusahaan biasanya mengalami turunnya laba karena banyak hal. Bisa jadi karena kinerja perusahaan sedang bermasalah, pengantian manajemen atau pun produk perusahaan itu sedang mengalami penurunan penjualan karena stok berlimpah di pasar. Kondisi ini biasanya hanya bersifat sementara, karena perusahaan akan rebound lagi.

Belum yakin? Kamu bisa membuka laporan keuangan perusahaan tersebut dan mempelajarinya sebelum memutuskan untuk menanamkan modal. Kamu bisa melihat apakah penurunan laba terlalu ekstrim atau tidak terlalu signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Membeli saat pasar baru buka

Ini berhubungan dengan timing, jadi kamu harus jeli melihatnya. Salah satu yang bisa dilakukan adalah membeli saham pada saat bursa baru buka.

Pada jam awal bursa, biasanya banyak terdapat saham diskon kemarin sore, jadi kamu bisa membeli saham minimal beberapa menit setelah pasar saham dibuka untuk mendapatkan harga yang lumayan rendah.

Setiap kuartal

Momen terbaik lainnya untuk membeli saham adalah setelah keluar laporan keuangan perusahaan tercatat (emiten) setiap kuartal atau tiga bulan sekali. Kamu bisa menganalisis kinerja perusahaan dari laporan keuangan tersebut, lalu bandingkan dengan kondisi makro ekonomi dan bidang usaha perusahaan itu, misalnya energi, perbankan, ritel, telekomunikasi dan sebagainya, apakah sedang positif atau negatif. Jika positif dan sejalan dengan kondisi makro ekonomi, maka kamu bisa mengoleksi saham incaran.

Saham undervalued

Ketika kamu menemukan ada saham yang tampak murah (undervalued), namun memiliki fundamental baik, sahamnya likuid, reputasi perusahaan bagus, apalagi saham-saham pelat merah alias Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kamu bisa mulai membelinya. Meski saat ini harganya di bawah nilai wajar, namun kamu bisa menyimpannya beberapa waktu karena saham perusahaan sehat, biasanya akan cepat pulih kembali harganya.

Saat IPO

Ketika ada Penawaran Umum Perdana atau Initial Public Offering (IPO) saham sebuah perusahaan yang akan go public atau mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) alias baru menjadi anggota Bursa, bisa menjadi peluang tepat untuk membeli saham.

Namun sebelum membelinya, ada baiknya kamu mencari tahu fundamental perusahaan tersebut melalui prospektus yang dipublikasikannya. Kamu bisa melihat kinerja perusahaan dalam lima tahun terakhir. Kamu juga perlu memperhatikan sektor perusahaan itu apakah sedang diminati, serta kondisi IHSG dan pasar saham saat itu. Jika semuanya oke, apalagi kalau perusahaan yang IPO adalah pelat merah, jangan lewatkan momen ini untuk mengoleksi saham.

Baca juga: Raih Sukses dengan Mengalahkan Ras Minder

Selamat membeli saham, kaum milenial!