Faktor keberuntungan akan berbuah lebih manis jika disertai oleh kejelian dalam membaca peluang. Prinsip inilah yang dipegang oleh Rifaul Bingar dalam membangun Railroad Industrial, sebuah bengkel instalasi lampu yang berbasis di Ubud, Bali.

Baca juga: Rintisan Bisnis Fashion Yasa Singgih

Tadinya, Rifaul adalah seorang mahasiswa yang menyambi usaha sebagai produsen t-shirt dan berbagai aksesori street wear bernafaskan musik. Kala itu, sekitar tahun 2011, ia pelan-pelan merintis usaha di bisnis distro dengan mengusung merek Warlock, seraya menempuh pendidikan tinggi di ilmu desain komunikasi visual (DKV) Universitas Negeri Surabaya. Rifaul melihat saat itu belum banyak yang membuka distro sementara minat anak muda terhadap street wear cukup tinggi. Ia berpikir bahwa sebaiknya ada pemain lokal yang memfasilitasi kebutuhan bergaya anak muda, dan Warlock adalah ide cemerlang yang terlintas di pikirannya. Pertumbuhan Warlock yang positif di lingkup Jawa Timur dan sekitarnya, membuat Rifaul berkenalan dengan banyak pelaku industri kreatif, yang kemudian mempertemukannya dengan kreasi instalasi lampu.

“Saya kuliah ambil jurusan DKV, dan terkadang saya juga suka mengotak-atik barang bekas, untuk dibuat suatu hal baru. Saya melihat bahwa instalasi lampu memiliki peluang besar dan bahan bakunya juga tidak semuanya mahal. Kafe, restoran, atau tempat nongkrong zaman sekarang senang dengan dekorasi semacam itu. Mengapa tidak saya coba,” ujar Rifaul yang mengatakan memulai usaha tersebut sekitar akhir 2014.

Dari Surabaya ke Ubud

Bali menjadi basis karena Rifaul menemukan beberapa kolega di sana, yang dijadikannya sebagai guru dalam merintis Railroad Industrial. Selain itu, pengalamannya berkali-kali ke Bali membuka lebar pandangannya tentang prospek industri kreatif.

“Bali memberikan kesempatan untuk siapapun, seaneh apapun barang yang dibuat, untuk mendapat perhatian, dan itu bisa sampai ke (atensi) orang asing,” jelasnya seraya menyebut bahwa peluang promosi lebih luas juga menjadi alasan lain memilih Pulau Dewata.

Berbekal pengalaman bertukar pendapat dengan banyak orang yang terlebih dahulu terjun ke industri furnitur kreatif, serta memadukannya dengan latar belakang ilmu desain yang dimilikinya, ia pun nekat hijrah dari Surabaya ke Ubud untuk memulai lembaran baru.

“Railroad Industrial dibuat dengan uang pinjaman, hahaha. Saya mengorbankan Warlock sebagai jaminan untuk pinjam ke bank. Kebetulan saat itu, Warlock cukup menghasilkan (profit), tapi juga di waktu yang sama, industri clothing sedang lesu di Surabaya. Saya cuma berpikir, harus yakin dengan apa yang dipilih. Saya pindah ke Bali, banting setir ke usaha furnitur, pakai uang utang, ya jalani saja,” ceritanya panjang lebar.

Rifaul memanfaatkan network yang telah dibuatnya ketika membangun Warlock untuk bantu promosikan usaha barunya.

Sempat beberapa bulan mengandalkan bengkel karya di Bali, ia kemudian belajar bahwa hal tersebut akan membuat berat di ongkos. Ia pun kemudian “berkelana” ke banyak tempat, tukar pikiran dengan banyak orang, sehingga akhirnya memutuskan untuk memindahkan pusat produksinya ke Yogyakarta, ke salah satu bengkel milik kolega bisnisnya.

Rifaul lantas belajar membagi waktu dan pikiran antara Ubud dan Yogyakarta, mencari cara agar tetap bisa mengawasi produksi dari jarak jauh, sekaligus mengembangkan show room yang dibuatnya di Pulau Dewata.

Memanfaatkan Barang Bekas

Adapun untuk urusan bahan baku, ia mengaku mendapatkan kemudahan dalam menemukan pengepul barang bekas di banyak lokasi di Bali, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Barang-barang bekas yang dipakai umumnya berupa besi tua dan perlengkapan konstruksi seperti pipa, tiang pancang dan sebagainya.

“Selama ini, saya masih terus belajar untuk mengolah barang bekas dengan standar yang diminta oleh konsumen, terutama yang memenuhi penilaian internasional. Saya tidak ingin cuma jadi bengkel pengubah barang rongsok, harus ada sesuatu yang baru dari benda-benda terlupakan itu,” kelakarnya.

Pertama kali menawarkan dengan sistem “promosi harga teman” pada berbagai kenalannya yang tengah berbisnis kuliner, instalasi lampunya pun secara cepat menarik perhatian publik. Dari mulut ke mulut, serta bantuan promosi dari beberapa mitra, Railroad Industrial pun semakin dikenal, yang berarti memperbesar keran rupiah yang mengalir ke kantong Rifaul.

Selain itu, modal nekat yang dilakukan RIfaul dan istrinya ketika membuka show room di Ubud, perlahan membuahkan hasil. Dari beberapa turis asing yang iseng melihat-lihat, lalu kemudian membeli satu barang, menceritakannya kepada orang lain, dan setelahnya banyak orang penasaran untuk datang mengamati langsung.

Begitulah siklus yang terjadi selama kurang lebih satu tahun, sebelum kemudian muncul berbagai tawaran distribusi dari mitra regional hingga internasional.

“Satu hal yang saya pastikan selalu ada di pikiran saya adalah bagaimana saya jangan sampai mundur dari apa yang telah saya pilih dan jalani. Saya maju terus, membenahi apa yang salah dan harus mampu menemukan inovasi, sekecil apapun itu,” ujar Rifaul tentang gaya kerjanya.

Bidik Pasar Eropa

Saat ini, Railroad Industrial memang masih berupa show room kecil di tengah padatnya industri kreatif di Ubud. Namun, siapa sangka di balik toko kecilnya yang berdesain rustic, produk furnitur rancangan Rifaul telah berhasil meraih minat internasional, mencakup sejumlah mitra distribusi dengan penjual di Asia dan Australia. Kini ia tengah menjajaki pasar Eropa.

“Harga instalasi lampu buatan saya memang termasuk mahal, dan pasarnya juga tertentu, dan alhamdulilah pelanggan sejauh ini berasal dari konsumen potensial. Maksudnya, konsumen yang memang benar-benar datang untuk melihat karya saya, membelinya, dan memberikan tanggapan untuk kemudian saya pelajari agar lebih baik lagi,” lanjut Rifaul.

Hingga tutup buku 2017 kemarin, Rifaul mengaku bahwa Railroad Industry berhasil membukukan pendapatan kotor hingga mendekati Rp2 miliar, di mana hal tersebut disebut naik lebih dari 100 persen dibandingkan pendapatan di periode sebelumnya, ketika usaha yang dirintisnya itu baru berjalan selama satu tahun.

Saat ini, Rifaul mengaku bahwa ada peluang besar bisnisnya tersebut akan berkembang lebih pesat, mengingat kunjungan dan tawaran kerja sama distribusi semakin banyak berdatangan ke show room-nya di Ubud.

Meski instalasi lampu memegang peranan sebagai produk unggulan utama, namun kini, Railroad Industrial juga mengembangkan lebih banyak varian kreasi furniturnya, yang tetap mengusung konsep daur ulang, seperti furnitur rumah, dan berbagai aksesori toko.

Baca juga: Tas Kuliy Biyantie

Salah satu instalasi seni karya Railroad Industrial dapat dilihat jelas di Epic Coffee di Yogyakarta, dan di Blumchen di Jakarta. Mayoritas digunakan oleh pelaku industri kuliner, sebagai pemanis desain interior restoran atau kafe.