Pengalaman ditipu, bahkan hingga dua kali barangkali bisa menyurutkan semangat atau memutuskan harapan. Namun tidak bagi Nick Yudha. Kejadian pahit itu justru memantik ide dalam dirinya untuk membangun sebuah bisnis baru.

Tahun 2012, Nick ingin membuat website dan aplikasi mobile untuk bisnis clothing line Monstore yang dirintisnya bersama sejumlah teman sejak tahun 2008. Ketika itu Nick baru saja lulus kuliah dari jurusan akuntansi Universitas Pelita Harapan. Modal yang digunakan untuk membuat digital platform Monstore berasal dari tabungannya. Tapi ternyata, web developer yang mereka sewa menghilang begitu saja tanpa menyelesaikan pekerjaan.

Baca juga: Jatuh Bangun Pebisnis Muda, Yasa Singgih

Tak berselang lama, Nick berniat membuat digital platform lagi untuk bisnisnya yang lain. Malang bagi Nick, ia kembali ditipu web developer. Karena kesal, Nick malah terinspirasi belajar membuat website sendiri.

“Saya merasa susah banget cari (developer) yang bisa bikin desain web bagus. Jadi saya pikir, kayaknya bisa, deh, belajar sendiri. Lalu jadi ide bisnis juga karena pasti banyak perusahaan atau bisnis yang membutuhkan jasa ini,” cerita Nick.

Arsitek Dunia Maya

Itulah awal mula Nick mendirikan Antikode, konsultan UI/UX design & developer. Di dunia digital, UI/UX merupakan singkatan dari User Interface dan User Experience. Peran sebuah konsultan desain UI/UX adalah merancang produk digital platform yang dapat digunakan dengan nyaman oleh konsumen dan menjadi solusi pemenuhan kebutuhan mereka. Karena itu di samping pembuatan dan pengembangan website, Antikode lebih berfokus memberikan layanan konsultasi digital experience pada klien.

“Bagaimana caranya supaya website atau mobile apps sampai ke targeted market klien. Kalau konsumen bisa memanfaatkan digital platform klien untuk memenuhi kebutuhan mereka, otomatis bisnis klien juga akan jalan,” papar Nick.

Menurut Nick, bisnis desain UI/UX membutuhkan kompetensi dalam empat bidang yaitu bisnis, desain, teknologi informasi dan psikologi. Nick sendiri mempunyai passion di bidang desain dan teknologi informasi sehingga menjadi motivasi untuk mempelajari kedua bidang tersebut secara otodidak. Lantaran belum ada kampus yang secara spesifik mengajarkan keahlian UI/UX design, maka mencari rekan kerja untuk bersama-sama membangun Antikode menjadi tantangan Nick di awal.

“Jadi di awal rekrutmen, saya mencari orang dengan passion yang sama dan sama-sama punya keinginan untuk belajar hal baru. Dari situ kita belajar bareng,” tutur Nick.

Selain itu ketika Antikode mulai melangkah, belum banyak konsultan yang menawarkan layanan serupa. Mengenalkan apa itu desain UI/UX pada calon klien menjadi tantangan berikutnya bagi Nick. Agar calon klien dapat memperoleh gambaran mengenai layanan yang diberikan Antikode, biasanya Nick menganalogikan konsultan UI/UX design seperti konsultan arsitek.

“Arsitek yang merancang bangunan, kontraktor yang membangunnya. Jadi Antikode itu bagaikan arsitek dunia maya, sedangkan web developer adalah kontraktornya,” ujar Nick.

Memberikan Layanan Terbaik

Untuk mengumpulkan portofolio apik di awal, Nick melakukan pendekatan pada perusahaan besar dan menawarkan layanan dengan harga khusus sebagai portfolio project. Portofolio itu kemudian digunakan untuk menembus calon klien besar yang lain.

Sedari awal, Nick mempunyai prinsip untuk memberikan layanan terbaik pada klien. Karena itu dengan segera hasil kerja Antikode direkomendasikan dari mulut ke mulut. Kini Antikode pun telah memetik buahnya. Brand-brand besar seperti Bank Mandiri, Bank BRI, CIMB Niaga, OCBC NISP, Telkomsel hingga Ismaya Group tercatat pernah menjadi klien Antikode.

“Saya itu agak detail orangnya. Kalau melihat sesuatu inginnya sesempurna mungkin, baik dari segi desain maupun dari fungsinya. Jadi value itu yang saya bawa di Antikode. Kalau klien datang dan meminta websiteyang paling oke, kami akan memberikan mereka best digital platform experience,” tandas Nick.

Karena kepuasan pengguna digital platform adalah kunci dalam layanan Antikode, maka saat mengerjakan sebuah project, Nick bersama timnya akan mulai dengan melakukan riset yang cukup mendalam pada pengguna. Riset tersebut mencakup mewawancarai pengguna hingga melakukan tes produk pada pengguna. Setelah itu mereka akan membuat wireframe – struktur desain website – dilanjutkan dengan membuat desain visualnya. Jika desain visual telah tersedia, dilanjutkan pada tahap pembuatan websiteatau aplikasi.

“Kami bikin strateginya juga, bagaimana supaya bisnisnya jalan. Supaya produknya bisa benar-benar berhasil di pasar,” kata Nick.

Saat ini rata-rata project yang ditangani Antikode berkisar pada nilai Rp100 juta. Untuk project jangka panjang atau yang membutuhkan pengembangan cukup rumit, bahkan nilainya bisa miliaran rupiah. Namun Antikode juga masih menerima klien dari pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). “Kalau kebutuhannya tidak terlalu banyak, bisa saja nilainya kurang dari Rp50 juta,” tukas Nick.

Keinginan Untuk Terus Belajar

Nick mempunyai harapan Antikode dapat menjadi sebuah brand yang terpercaya di industri UI/UX design.Untuk mencapai tujuan itu, Nick percaya kuncinya terletak pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Proses peningkatan kapasitas dilakukan melalui knowledge management yang dinamakan Antipedia. Semua karyawan Antikode dapat mempelajari atau menguatkan skill yang dibutuhkan dalam industri UI/UX melalui kegiatan Antipedia berupa mentoring, sharing session atau mendalami knowledge database yang disusun tim internal.

“Itu cara untuk keep up dengan perubahan yang cepat di industri ini dan cara untuk terus meningkatkan pelayanan pada klien,” kata Nick.

Melihat tren digitalisasi yang menjadi suatu keharusan bagi sebuah bisnis untuk berkembang di saat ini, Nick pun optimis peluang industri UI/UX design masih akan terus bertumbuh. Jika Antikode telah menjadi brand yang mapan, Nick berharap dapat melebarkan sayap ke luar ibukota, bahkan ke luar negeri.

Saat ditanya apa yang menjadi kunci sukses Antikode, dengan lugas Nick menjawab: keinginan untuk terus belajar.

Baca juga: Mengolah Barang Bekas Ala Rifaul Bingar

“Buat saya, belajar bukan hanya di bangku kuliah. Kalau kita stop belajar, selesai semuanya. Networkingjuga penting. Try to be open minded, terhadap industri lain dan bidang ilmu lain. Try to make learning as a habit,” pungkas Nick sambil tersenyum.