Saat traveling di Nepal tahun 2016 lalu, Pratiwi Hamdhana mengunjungi sebuah toko cendera mata yang menjual berbagai kerajinan tangan berbahan tenun khas Nepal. Tenun yang dijual tidak hanya busana tapi juga berbagai produk seperti tas dan perlengkapan alat tulis. Hal ini memantik ide dalam benak Tiwi, sapaan akrab Pratiwi, untuk mendirikan bisnis serupa, mengingat kekayaan tenun Indonesia yang luar biasa.

Baca juga: Pengalaman Pahit Nick Yudha yang Melahirkan Bisnis

Inspirasi pun kian menguat ketika Tiwi mengetahui para pengrajin produk tenun Nepal tersebut berasal dari komunitas para perempuan korban pernikahan anak. Dia juga ingin menjalankan usaha sosial yang memberdayakan kaum marjinal di Indonesia.

Ide itu kemudian mulai mewujud saat Tiwi mengerjakan disertasi S2 di jurusan Innovation and Entrepreneurship University of Warwick di Inggris. Tiwi merancang konsep wirausaha sosial yang dinamakannya Tenoon dan berlokasi di Makassar. Perempuan kelahiran Makassar, 22 Maret 1992 ini memang bercita-cita ingin membangun Indonesia Timur, khususnya Sulawesi Selatan kampung halamannya. Dalam riset yang dilakukannya, Tiwi menemukan bahwa jumlah penyandang disabilitas di Sulawesi Selatan merupakan yang tertinggi se-Indonesia.

“Hanya 15-20 persen penyandang disabilitas usia produktif yang sudah diserap dunia kerja. Mereka susah mendapat pekerjaan karena ada stigma bahwa penyandang disabilitas tidak bisa bekerja,” kata Tiwi.

Akhirnya ketika Tiwi telah menyelesaikan kuliah S2 dan kembali ke Indonesia akhir tahun 2016, dia pun mulai serius membangun Tenoon. Sebelumnya, Tiwi sudah pernah menjalankan usaha membuat buku tahunan untuk SMP dan SMA. Bisnis itu dilakoninya saat kuliah S1 dan berjalan selama enam tahun hingga mempunyai tim yang terdiri dari 22 orang. Meski demikian, Tiwi merasa perlu menimba ilmu lebih banyak untuk menjalankan wirausaha sosial sehingga memutuskan mengikuti sebuah program inkubasi bisnis.

Lebih Fokus

Dalam program yang berlangsung selama enam bulan tersebut, Tiwi dibimbing oleh Dinny Jusuf, pendiri Toraja Melo, sebuah bisnis sosial yang memberdayakan perempuan penenun Toraja. Melalui bimbingan Dinny, Tiwi dibantu lebih fokus menentukan komunitas yang ingin diberdayakan melalui Tenoon. Pasalnya, semula dampak sosial Tenoon ditujukan pada penenun serta kaum marjinal secara luas tanpa segmentasi yang lebih tajam.

“Waktu itu masih mau jadi superhero untuk banyak isu sehingga Bu Dinny menyarankan untuk lebih mempersempit pemberdayaannya. Saya diminta cari di luar komunitas penenun karena sudah banyak lembaga yang membantu mereka,” beber Tiwi.

Setelah itu, Tiwi mantap memberdayakan penyandang disabilitas melalui Tenoon. Bahan tenun yang dipakai berasal dari daerah-daerah di Indonesia Timur seperti Bima, Toraja serta Mamasa, dan dibeli dengan prinsip fair trade yaitu memberikan harga layak sesuai permintaan para penenun untuk menghargai proses pembuatannya.

Tantangan Pekerja

Meski demikian, tantangan lain terletak pada mencari pekerja penyandang disabilitas. Saat Tiwi menawarkan kerja sama dengan balai pelatihan penyandang disabilitas yang ada di Makassar, responnya ternyata jauh dari harapan.

Tiwi pun lalu memasang iklan lowongan kerja di sebuah situs yang menyasar penyandang disabilitas sampai akhirnya ada satu orang yang menjawab lowongan pekerjaan tersebut. Tiwi kemudian memberikan pelatihan menjahit selama tiga bulan pada pelamar tersebut agar dapat bekerja di bagian produksi Tenoon.

Sebelum mendapatkan pekerja sendiri, Tenoon bermitra dengan sebuah rumah jahit yang juga memberdayakan penyandang disabilitas. Kini jika pesanan sedang banyak, Tenoon mengalihkan sebagian produksi ke rumah jahit tersebut.

“Sebisa mungkin kami melibatkan penyandang disabilitas di Tenoon. Percetakan yang membantu kami memproduksi notebook Tenoon pegawainya juga ada yang penyandang disabilitas,” imbuh Tiwi yang sempat menjadi relawan Pengajar Muda di program Indonesia Mengajar selama setahun di Pulau Arguni, Papua Barat.

Pelatihan Keterampilan

Tenoon mengolah tenun menjadi produk yang beragam seperti buku tulis, clutch, tas dan cover paspor. Saat ini dalam sebulan kapasitas produksi Tenoon bisa mencapai 1000 buku tulis dan 100 tas dengan keuntungan Rp20-30 juta per bulan.

Selain mengenalkan Tenoon melalui berbagai pameran kerajinan tangan Indonesia, Tiwi juga menyadari pentingnya pemasaran digital. Bila mereka tidak rutin meng-update media sosial, permintaan penawaran produk Tenoon biasanya akan berkurang sehingga Tiwi pun tak alpa mengingatkan tim e-commerce Tenoon untuk menjaga engagement dengan konsumen Tenoon.

Untuk meningkatkan penjualan, Tenoon ke depannya akan banyak berfokus pada business to business. Tenoon juga sudah mulai dipasarkan ke luar Indonesia melalui situs marketplace kerajinan tangan seperti Etsy dan Kisaku.

“Responnya positif, tapi ada sedikit kendala di biaya pengiriman. Jadi kami sedang mencari solusi yang lebih baik untuk menurunkan biaya pengiriman ke konsumen luar negeri,” kata Tiwi.

Setelah menjalankan bisnis Tenoon, Tiwi makin yakin bahwa menjalankan wirausaha yang juga berdampak sosial bukanlah wacana semata.

“Sebagai bisnis, penting untuk mengelolanya sehingga bisa sustainable dan menghasilkan profit. Kalau tidak, dampak sosialnya juga enggak bisa berkelanjutan,” tandas Tiwi.

Tiwi pun bertekad akan terus mengembangkan Tenoon dan melanjutkan misinya menjangkau penyandang disabilitas. Selain lewat kegiatan produksi, Tenoon juga menyelenggarakan program pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas.

Baca juga: Edy Fajar Prasetyo, Pendiri Eco Business Indonesia

“Pelatihan pertama yang dibuat adalah pelatihan fotografi. Rencananya akan ada berbagai pelatihan lain, termasuk menjahit. Saya ikut senang bisa melihat mereka merasa berdaya dan produktif,” tutur Tiwi tersenyum.