Kota Malang, Jawa Timur, terkenal dengan apelnya. Apel Malang dan berbagai olahannya kerap dijadikan buah tangan para wisatawan. Namun sejak tujuh tahun terakhir, ada satu oleh-oleh khas Malang yang juga diburu wisatawan, yaitu cokelat tempe.

Tempe dalam camilan tersebut berpadu dengan cokelat layaknya kacang-kacangan seperti mete, hazelnut dan almond yang biasa ditemukan di cokelat batangan. Siapa yang menyangka pemilik bisnis unik tersebut adalah seorang anak muda yang baru berusia 20-an tahun?

Baca juga: Rifaul Bingar Mengolah Barang Bekas

Belajar Secara Otodidak

Yoga Surya Pratama, demikian nama anak muda itu, memulai usaha cokelat tempenya saat masih duduk di kelas 11 SMK Negeri 6 Malang tahun 2011. Awalnya ibunda Yoga punya ide meracik cokelat rasa pedas, tetapi malah terasa aneh. Lalu melihat camilan keripik tempe yang banyak dijual di Malang, Yoga dan ibunya terinspirasi membuat cokelat yang dipadukan tempe.

Dengan modal awal Rp200.000, sang ibu dibantu Yoga dan adiknya mulai mencari resep yang pas untuk produk cokelat tempe mereka. Karena belajar membuat cokelat secara otodidak, mereka juga melewati proses gagal berkali-kali sebelum akhirnya menemukan cokelat tempe yang rasanya enak.

“Setelah itu kemudian saya mendesain kemasannya dan berjualan di sekolah untuk ditawarkan ke teman,” cerita Yoga.

Ternyata cokelat tempe buatan Yoga dan ibunya banyak diminati. Lantas cowok kelahiran Malang, 28 September 1993 ini mulai memasarkan cokelat tempenya yang diberi label de’Konco melalui Facebook.

Lama kelamaan, de’Konco makin dikenal masyarakat Malang. Di awal bisnisnya berdiri, Yoga masih mengandalkan pemasaran dan penjualan melalui Facebook dan aplikasi chat BBM (Blacberry Messenger). Setelah itu ia mulai menitipkan de’Konco di berbagai toko oleh-oleh yang tersebar di Malang.

Membidik Pasar Milenial

Kini, selain dititipkan di toko oleh-oleh, de’Konco sudah memiliki empat outlet sendiri di Malang. Dengan tujuh varian rasa mulai dari cokelat susu, apel, strawberry, white chocolate, dark spicy choco, green tea dan dark chocolate, satu cokelat batangan de’Konco dijual dengan harga mulai dari Rp9.000.

Dengan segmen pasar terbesar anak muda, setiap bulan kisaran omzet de’Konco bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Kami membidik pasar milenial yang cari makanan kekinian pada awalnya. Sedangkan saat ini kami memposisikan de’Konco sebagai oleh-oleh dari Malang dengan mengangkat kembali tempe Malang sebagai oleh-oleh yang mampu bersaing dengan oleh-oleh artis,” papar Yoga sambil tertawa.

Lantaran pasar terbesar de’Konco adalah anak muda, maka Yoga tetap memfokuskan pemasaran melalui media sosial, utamanya Instagram.

“Penjualan terbesar saat ini di kota Malang dan penjualan online melalui instagram @dekonco. Lewat penjualan di instagram, produk de’Konco sudah pernah dikirim hampir ke semua kota di Indonesia dari Aceh sampai Papua,” imbuhnya.

Wisata Edukasi Cokelat

Meski kini bermunculan pembuat cokelat tempe lain di Malang, namun menurut Yoga konsumen masih tetap memilih de’Konco saat mencari cokelat tempe. Dalam proses pembuatan produk de’Konco, tempe digoreng dengan metode tertentu kemudian divakum sehingga tidak menyisakan minyak. Dengan metode tersebut, cokelat de’Konco bisa bertahan hingga tujuh bulan dalam suhu ruangan.

Selain itu, Yoga juga selalu berusaha menjaga kualitas produk dan melakukan berbagai inovasi untuk menjaga loyalitas konsumen serta meluaskan pasar.

“Setiap enam bulan kami membuat varian baru dan pengembangan produk. Sekarang kami juga sedang proses membuat outlet dengan nuansa Malang tempo dulu untuk menciptakan kesan bagi konsumen yang berkunjung,” kata Yoga.

Di awal mendirikan de’Konco, Yoga memilih nama cokelatnya dari kata ‘konco’ yang berarti ‘teman’ dalam bahasa Jawa. Saat itu dia berharap bisa membuat perusahaan yang pegawainya adalah teman-temannya sendiri. Yoga pun bersyukur mimpinya telah terwujud, dia sudah bisa membangun sebuah bisnis yang tidak hanya memberikan lapangan pekerjaan bagi teman-temannya, tetapi juga orang lain.

Baca juga: Start-up yang Bermanfaat untuk Orang Lain Ala Hanindia

“Sekarang filosofi de’Konco adalah menjadikan konsumen sebagai teman, konco kami. Ke depannya, saya bercita-cita bisa mendirikan sebuah choco land, wisata edukasi cokelat yang terbesar dan terlengkap di Asia,” pungkas Yoga.