Kemajuan teknologi ikut menciptakan inovasi di dunia investasi, salah satunya adalah kehadiran peer-to-peer lending (P2PL). P2PL pada dasarnya adalah ‘mak comblang’ yang membantu peminjam dan pemberi pinjaman menemukan satu sama lain tanpa melibatkan bank dan semua prosesnya dilakukan secara online.

Baca juga: Camilan Tempe Yoga Surya Pratama

Jika kamu tertarik ikut berinvestasi melalui P2PL, cermati dulu beberapa hal berikut ini:

Cara Kerjanya

Sebagai investor, kamu menyetorkan sejumlah dana ke P2PL untuk dijadikan pinjaman. Peminjam dana atau borrower akan dianalisis permohonan pinjamannya oleh P2PL. Hasil analisis akan mengkategorikanborrower menjadi peminjam berisiko rendah hingga tinggi. Kemudian lender bisa memilih memberikan pinjaman ke borrower mana berdasarkan analisis tersebut.

Kategori pinjaman di P2PL biasanya terbagi menjadi pinjaman bisnis dan pinjaman pribadi. Pinjaman bisnis bertujuan mendanai usaha, borrower umumnya merupakan pelaku usaha kecil dan menengah. Sedangkan pinjaman pribadi bertujuan mendanai berbagai keperluan seseorang mulai dari pendidikan, kesehatan hingga berlibur. Borrower bisa mengajukan pinjaman pribadi rata-rata dimulai dari Rp1 juta dan untuk pinjaman bisnis minimum Rp5 juta.

Seorang lender bisa memberikan pinjaman ke lebih dari satu pihak untuk mendistribusikan risiko gagal bayar. Lender tidak perlu repot mengawasi dan menagih pembayaran pinjaman karena fungsi itu dijalankan oleh P2PL. Setelah jatuh tempo, lender akan mendapatkan dananya kembali disertai dengan imbal hasil atau return.

Imbal Hasil

Investasi melalui P2PL marak dibicarakan karena disebut berpeluang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan deposito dan obligasi. Per akhir Agustus 2018, suku bunga deposito berjangka 1 bulan hingga 1 tahun berkisar antara 4-6,8% per tahun. Sedangkan obligasi ritel yang diterbitkan pemerintah, misalkan SBR 004 yang baru saja terbit akhir Agustus 2018, memberikan bunga 8,05% per tahun dengan jangka waktu jatuh tempo dua tahun.

Sementara rata-rata bunga yang diberikan oleh P2PL terhadap lender berkisar 14-20% per tahun. Besaran imbal hasil tersebut dapat disejajarkan dengan imbal hasil reksa dana, khususnya reksa dana saham.

Modal berinvestasi di P2PL juga cukup terjangkau. Untuk menjadi lender, hanya dengan Rp100.000 kamu sudah bisa mulai berinvestasi di P2PL.

Pembayaran cicilan pokok dan bunga P2PL biasanya dilakukan tiap minggu atau tiap bulan, dan dikenakan biaya sebesar 1-3% per tahun untuk setiap pembayaran pinjaman yang diterima lender.

Risiko Investasi

Seperti instrumen investasi lainnya, investasi P2PL juga memiliki risiko. Dalam memberikan pinjaman, lender menghadapi kemungkinan risiko gagal bayar, yaitu ketika borrower tidak bisa mengembalikan pinjamannya.

P2PL akan mengkategorikan borrower menurut tingkat profil risikonya. Makin tinggi risiko borrower, makin tinggi pula bunga yang diberikan P2PL. Jika kamu cukup berani menanggung risiko tinggi, bisa memilih memberikan pinjaman ke borrower yang profil risikonya juga tinggi namun berpeluang memberikan keuntungan tinggi.

Namun jika kamu ingin mendistribusikan tingkat risiko investasi P2PL, sebaiknya melakukan diversifikasi pinjaman ke beberapa pihak. Padukan borrower berisiko tinggi dengan rendah sehingga bila ada yang gagal bayar, kerugianmu tidak terlalu besar.

P2P Lending di Indonesia

Di Indonesia, skema P2PL sendiri telah diakui oleh pemerintah sejak awal 2017 melalui beberapa prinsip hukum yang diajukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Mengutip pembahasan terkait oleh situs Tech in Asia, penyelenggara P2PL hanya boleh menerima komisi dari setiap transaksi pinjaman yang terjadi di platform mereka. Untuk memastikan hal tersebut, OJK mewajibkan penyediaan akun virtual untuk setiap penerima pinjaman, yang berfungsi layaknya rekening bank dalam perjanjian pinjaman pada jangka waktu tertentu.

Hingga Juni 2018, tercatat sudah ada 64 perusahaan fintech yang resmi terdaftar dan mendapatkan rekomendasi izin kelayakan operasional dari OJK. Dengan demikian, OJK mengimbau masyarakat untuk berinvestasi maupun melakukan pinjam-meminjam di perusahaan fintech yang telah terdaftar di OJK.

Baca juga: Tas Kulit Biyantie Milik Meri Yuarif

Sekali lagi, sebelum memulai investasi apapun lakukanlah dengan pertimbangan yang matang. Pelajari segala aspeknya dengan baik agar investasi tersebut membantumu mencapai tujuan masa depan, alih-alih mendatangkan kerugian.