Pernah mendengar bisnis jastip atau kamu sering jadi salah satu pelanggannya? Ya, Belakangan, jasa personal shopper berkembang menjadi sebuah bisnis tersendiri yang intinya melayani permintaan titipan orang lain dalam membeli sesuatu.

Baca juga: Memberdayakan Kaum Disabilitas Lewat Tenoon

Yohana (33) adalah salah satu pemilik bisnis jastip yang telah merasakan nikmatnya keuntungan dari bisnis ini. Tahun 2012, ia mulai bekerja di Singapura sebagai tenaga penjualan sebuah perusahaan. Karena kangen dengan keluarga, Yohana sering pulang ke Jakarta, frekuensinya bisa satu atau dua minggu sekali. Lama-lama Yohana mencari cara agar ia tidak pulang dengan “tangan kosong”.

Pembeli Rela Membayar

Awalnya Yohana membuka jasa “titip alamat” melalui Instagram pribadinya. Pasalnya, banyak produk dari luar negeri yang tidak mau melayani pembelian dengan alamat Indonesia. Yohana menyediakan alamat kosnya di Singapura untuk dipakai sebagai tujuan pengiriman. Ia mengenakan biaya titip alamat ini per kg barang yang dititip.

“Ada juga yang titip beli pakai kartu kreditku karena enggak bisa beli pakai kartu kredit Indonesia. Tarifnya beda lagi,” kata Yohana.

Barang-barang itu kemudian dibawa Yohana saat ia pulang ke Jakarta. Sampai di Jakarta, ia membungkus masing-masing barang tersebut dan mengirimkannya ke pembeli dengan membebankan ongkos kirim lokal.

Selain jasa titip alamat, Yohana kemudian juga mulai mengembangkan layanannya dengan menawarkan jastip produk yang dijual di Singapura. Saat makan siang atau sepulang kerja, ia akan mampir di mall dan memotret barang-barang yang sedang tren atau banyak dicari pelanggan dari Indonesia. Foto barang-barang itu lalu di-upload di akun Instagram @itsybitsycruz miliknya dengan keterangan harga dan batas waktu pre-order.

Di samping orang yang tertarik membeli barang yang di-posting Yohana, ternyata banyak juga yang meminta Yohana membelikan barang-barang tertentu. Untuk yang terakhir ini Yohana mensyaratkan pembeli sudah tahu toko mana yang menjual barang tersebut dan maksimal di dua toko yang berbeda per pelanggan. Jika lebih dari dua tempat, Yohana akan mengenakan biaya transportasi tambahan.

Untuk barang-barang yang difotonya sendiri, Yohana mengenakan tarif jastip Rp30.000 per barang. Sedangkan untuk barang-barang special request tarifnya berkisar antara Rp200-350 ribu mengikuti jumlah pembelanjaan SGD50-300 dan di atas SGD300 dikenakan 10% dari total pembelanjaan.

Nyatanya, bisnis jastip Yohana banyak diminati. Rata-rata dalam sekali perjalanan, Yohana dapat meraih pendapatan Rp5 juta. Saat sedang ramai pesanan, seperti ketika ada Great Singapore Sale, keuntungannya bahkan bisa melonjak hingga Rp8-10 juta sekali perjalanan.

“Aku sampai harus ajak adikku supaya bagasinya bisa nambah,” cetus Yohana sambil tertawa.

Menurut Yohana, bisnis jastipnya dapat berkembang seperti itu karena saat pembeli sudah menginginkan suatu barang, mereka akan rela membayar lebih mahal. Pasalnya, tarif yang harus mereka bayar masih jauh lebih murah dibandingkan biaya transportasi atau ongkos kirim internasional dari negara tersebut.

Jalin Relasi dengan Toko

Yohana mengaku sekarang keuntungan bisnis jastipnya tidak sebanyak dulu karena ia sedikit mengerem aktivitas bisnisnya setelah menikah dan memiliki anak. Meski sejak tahun 2017 lalu Yohana telah bermukim di Jakarta kembali, ia masih tetap dapat menjalankan bisnis jastip produk Singapura dengan bantuan sang suami dan relasi yang telah dijalinnya dengan sejumlah toko di Singapura.

Sang suami yang masih punya usaha di Singapura kerap bolak balik Jakarta-Singapura. Selain itu Yohana juga sangat terbantu oleh para staf pemasaran sejumlah toko yang jadi langganannya.

“Karena aku sering belanja banyak, mereka mulai tanya-tanya. Aku jujur saja untuk bisnis jastip, ternyata respon mereka sangat positif dan malah mau bantu aku. Soalnya mereka juga punya target penjualan, jadi kita sama-sama untung,” ungkap Yohana.

Yohana menjaga relasi baiknya dengan memperlakukan para staf pemasaran tersebut bagaikan teman. “Aku suka mampir, bawain mereka makanan atau sekadar mampir dan ngobrol aja karena lokasi toko-tokonya memang searah dengan arah aku pulang,” beber Yohana.

Berkat hubungan baik tersebut, sekarang justru pihak toko langganan Yohana di Singapura yang aktif menawarkan produk. “Mereka suka kasih info kalau mau sale dan suka bantu aku foto barang-barang yang ada di toko. Jadi meskipun aku enggak ke sana langsung, bisa tetap update,” ujar Yohana.

Mudah Dijalankan

Menurut Yohana, dengan tren digitalisasi dan gaya hidup praktis, bisnis jastip masih sangat berpeluang besar untuk tumbuh. Orang di kota besar makin banyak yang beralih ke belanja online. Selain menghindari kemacetan lalu lintas, belanja online juga dirasakan lebih hemat. Bisnis jastip ini pun relatif mudah untuk dijalankan.

“Dari segi modal, bisnis jastip hampir enggak butuh modal. Paling hanya di ongkos transportasi dan untuk pengepakan barang pas mau kirim ke pembeli. Kita hanya perlu rajin cari tahu barang yang lagi tren dan rajin keliling toko untuk foto, jalin relasi dengan orang toko. Rata-rata dalam setahun, kita sudah bisa bayar tenaga tambahan untuk admin media sosial dan orang yang bantu keliling toko,” kata Yohana sambil tersenyum.

Bagaimana, tertarik memulai bisnis jastip?

Baca juga: Dari Hobi Blogging Jadi Bisnis yang Menjanjikan