Semua orang pasti senang jika bisa menghemat pengeluaran. Karena itu, wajar saja bila kamu merasa tertarik melihat tulisan ‘diskon’ atau ‘sale’ di toko offlline maupun online.

Munculnya perasaan senang saat melihat potongan harga ini ternyata dapat dijelaskan secara ilmiah. Pada tahun 2012, Dr. Paul J. Zak, seorang dosen jurusan Neuroeconomics di Claremont Graduate University meneliti pengaruh potongan harga pada kesehatan, stres dan rasa bahagia seseorang.

Baca juga: Bisnis Jastip Ala Yohana

Dalam penelitian tersebut, orang yang menerima kupon potongan harga US$10 mengalami peningkatan hormon oksitosin sebesar 38%. Hormon oksitosin adalah salah satu hormon yang memicu rasa bahagia. Jadi tak heran bila kita sepertinya selalu mencari peluang untuk mendapatkan diskon.

Meski berdampak positif pada kesehatan mental, sering-sering menuruti godaan diskon bisa menggerogoti kesehatan keuangan kita, lho. Selain itu di balik penawaran diskon, belum tentu barang tersebut benar-benar jadi murah.

Sebelum kamu memutuskan untuk membeli barang diskon, kenali dulu trik pemasaran yang sering dilakukan penjual di bawah ini.

“Stok tinggal 1”

Dengan keterangan stok barang yang seolah-olah hampir habis, konsumen akan lebih merasa terdorong untuk membeli barang itu sebelum kehabisan atau keduluan orang lain. Jadi cara ini kadang dipakai penjual agar konsumen merasakan “keharusan” untuk membeli. Padahal mungkin saja sebenarnya stok barang tersebut masih banyak dan terbukti saat kamu mengecek produk itu di toko online yang sama beberapa hari kemudian, barangnya masih tersedia.

“Sisa waktu tinggal… hari/jam”

Ini pasti juga sering kamu lihat di toko online. Barang-barang tertentu diberi potongan harga hanya dalam jangka waktu terbatas. Konsumen dikondisikan untuk berpikir bahwa dia harus membuat keputusan cepat sebelum waktu diskon berakhir. Biasanya harga diskon barang tersebut juga tak akan dimunculkan setelah waktu habis sehingga konsumen akan merasa rugi melewatkan diskon itu.

“Hemat 50% dari harga asli…”

Biasanya toko memasang penawaran diskon dengan mencantumkan potongan harga dan harga “asli” di sebelah keterangan diskon. Orang akan lebih tertarik membeli saat melihat “Hemat 50% dari harga Rp1 juta” ketimbang “Rp500 ribu” di label harga sebuah barang. Padahal, bisa saja harga asli barang tersebut memang Rp500 ribu dan sesungguhnya tidak ada potongan harga yang diberikan penjual.

Belanja minimal… untuk ongkir gratis”

Trik ini biasa dilakukan toko online untuk mendorong konsumen berbelanja lebih banyak. Kita tergoda memanfaatkan penawaran gratis ongkos kirim sehingga mungkin saja membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya untuk memenuhi kuota minimal pembelanjaan.

Menaruh tanda “SALE” besar di etalase

Papan “SALE” atau diskon yang besar biasanya akan membuat orang tergerak masuk ke dalam toko untuk melihat barang-barang yang didiskon dan sebagian besar akhirnya juga membeli produk dengan harga normal. Tanda “SALE” juga banyak memakai dasar warna merah karena warna merah membuat orang bereaksi lebih cepat.

Menaruh harga Rp999.000 ketimbang Rp1 juta

Kamu pasti sering melihat harga produk yang angkanya tidak bulat seperti di atas. Label harga yang angkanya tidak bulat ini secara psikologis akan membuat konsumen mengasosiasikan harga barang ke angka yang lebih kecil. Misalnya, bila melihat label harga Rp999.000, orang akan otomatis berpikir barang itu berharga sembilan ratus ribuan ketimbang mendekati satu juta rupiah. Karena merasa barang incaran “murah”, maka kamu pun lebih mudah tergerak membelinya.

“Beli 3 diskon 30%”

Penjual sering memberikan diskon untuk pembelian paket bundling seperti ini. Mungkin saja harganya jadi lebih murah, tapi akhirnya kamu akan membeli lebih banyak daripada yang sesungguhnya kamu butuhkan.

Baca juga: Pengalaman Pahit Berbisnis Nick Yudha

Itulah sejumlah trik pemasaran yang mendorong konsumen untuk lebih banyak berbelanja. Setelah memahaminya, semoga kamu bisa lebih cermat dan menahan diri saat melihat penawaran diskon, ya!