Sebuah penelitian yang dilakukan The Harris Poll terhadap milenial di Amerika Serikat awal tahun 2018 mengungkapkan, 92% milenial telah mempunyai tabungan namun hanya sepertiganya yang aktif berinvestasi. Dalam studi tersebut, 30% milenial beralasan belum mulai berinvestasi karena tidak tahu bagaimana dan dari mana memulainya.

Baca juga: Pengalaman Pahit Berbisnis Ala Nick Yudha

Informasi yang belum memadai tentang investasi memunculkan keraguan untuk memulai investasi. Selain itu, keengganan untuk berinvestasi juga timbul karena tidak ada tujuan yang spesifik. Padahal, ada segudang manfaat yang dapat kamu peroleh bila mulai berinvestasi dari usia muda.

Apakah kamu termasuk milenial yang masih ragu berinvestasi? Agar motivasimu meningkat dan mantap berinvestasi, coba lakukan sejumlah langkah ini.

1. Tentukan Tujuan Berinvestasi

Tanpa tujuan yang jelas, motivasi berinvestasi akan sulit muncul. Berbeda halnya jika kita sudah menentukan tujuan. Misalnya kamu punya target mengumpulkan dana liburan ke luar negeri. Setelah ada target tersebut, tentu kamu akan lebih bersemangat mencari cara mengumpulkan dananya, termasuk dengan berinvestasi.

Target keuangan yang baik adalah yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan dan berjangka waktu. Ambil contoh dana liburan di atas, kamu bisa membuatnya lebih spesifik dengan merinci negara tujuan liburan dan berapa lama kamu ingin jalan-jalan di sana.

Untuk membuat targetmu terukur, cari tahu berapa jumlah dana yang harus kamu kumpulkan. Misal untuk liburan ke Jepang ala backpacker selama seminggu, setelah dihitung kamu membutuhkan dana Rp15 juta.

Berikutnya, apakah target itu bisa kamu capai? Apakah mengumpulkan dana Rp15 juta cukup mudah atau sangat sulit mewujudkannya? Bila terlalu sulit, turunkan dulu jumlahnya karena target yang terlalu sulit dicapai juga dapat menyurutkan motivasi berinvestasi.

Lalu apakah target berlibur ke Jepang dengan dana Rp15 juta relevan dengan kondisimu saat ini? Bila kamu belum punya pengeluaran rutin lain yang harus diprioritaskan, sah-sah saja punya target tersebut. Lain halnya jika kamu masih terbelit utang kartu kredit yang besar, tentu kamu harus mengutamakan pelunasan utang dulu.

Yang terakhir, tujuan investasimu harus memiliki jangka waktu. Tentukan dalam berapa lama kamu harus mencapai target investasi tersebut. Misalnya, kamu ingin bisa liburan ke Jepang dua tahun lagi, sehingga dana Rp15 juta itu sudah harus terkumpul dalam dua tahun ini.

2. Perdalam Wawasan Berinvestasi

Seperti hasil survei The Harris Poll di atas, banyak orang yang ragu berinvestasi karena belum punya wawasan atau pengetahuan memadai. Takut ditipu, takut rugi serta merasa tidak punya uang untuk berinvestasi adalah alasan-alasan yang paling sering terdengar dan itu semua muncul dari ketidaktahuan mengenai dunia investasi.

Dengan memperdalam wawasan tentang investasi, kamu akan makin memahami seluk beluknya, termasuk mengenai produk-produk investasi yang dapat kamu gunakan mencapai tujuan keuanganmu. Di era digital ini, banyak website dan aplikasi yang khusus membahas topik investasi. Akses untuk belajar ilmu investasi pun makin mudah.

3. Mempelajari Kiat Investor Sukses

Banyak membaca kisah hidup para investor sukses juga bisa meningkatkan motivasimu untuk berinvestasi. Misalnya saja Warren Bufffet, salah satu orang terkaya di dunia. Kekayaannya tidak terkumpul dalam satu dua tahun saja, tetapi merupakan hasil investasi yang sudah dimulainya sejak muda, bahkan saat ia masih berusia 11 tahun.

Ada lagi cerita Brandon Fleisher, remaja 19 tahun yang berhasil menaikkan kekayaannya menjadi tiga kali lipat dalam waktu dua tahun. Ternyata Brandon sudah mulai belajar ilmu investasi sejak usia 13 tahun dan ia sangat menyukainya. Saat Brandon berumur 17 tahun, ayahnya memberikan sejumlah dana untuk diinvestasikan di pasar modal dan Brandon berhasil meningkatkan nilainya tiga kali lipat dalam waktu dua tahun.

4. Mencermati Laju Inflasi

Salah satu cara mudah untuk meningkatkan motivasi berinvestasi adalah dengan mencermati laju inflasi. Pada dasarnya inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu, sedangkan nilai uang terus menerus mengalami penurunan.

Bila kamu menabung untuk membeli rumah dalam lima tahun ke depan, kemungkinan besar harga rumah impianmu sudah jauh melewati uang tabungan yang berhasil kamu kumpulkan. Sementara dengan berinvestasi, kamu punya peluang mengembangkan nilai kekayaan melebihi tingkat inflasi.

5. Dikelilingi Lingkungan yang Mendukung

Motivasi berinvestasi akan meningkat jika orang-orang di sekitarmu juga mendukung kebiasaan baik ini. Misalnya kamu dapat bergabung dengan komunitas investor pemula, baik secara online maupun offline.Dalam komunitas ini kamu akan memperoleh sharing bermanfaat dan suntikan semangat dalam berinvestasi.

Selain itu, mintalah dukungan pada orang-orang terdekatmu dengan menceritakan tujuanmu berinvestasi. Kamu bisa bercerita pada orang tua atau pasangan tentang cita-cita mengumpulkan dana untuk kuliah lagi, punya rumah sendiri dan sebagainya. Mereka dapat ikut mengingatkanmu ketika semangat berinvestasimu sedang mengendur.

Baca juga: Bisnis Furnitur Rifaul Bingar

Bagaimana, sudah termotivasi sekarang? Selamat mencoba, ya!