Dalam dua dekade terakhir, para pelaku bisnis dunia telah memiliki kesadaran untuk menerapkan praktik yang lebih mendukung kelestarian lingkungan hidup. Perusahaan-perusahaan mulai berupaya menjalankan kegiatan produksi yang tak hanya mendatangkan keuntungan finansial, tetapi juga ramah lingkungan dan berdampak positif pada kegiatan sosial.

Baca juga: Bisnis Barbershop Muhammad Emyranza

Gerakan yang sama juga muncul di dunia investasi. Para investor yang menyadari peran mereka sebagai “agen perubahan” makin tertarik menginvestasikan uang di perusahaan-perusahaan yang masuk kategori “hijau” atau ramah lingkungan.

Jika kamu berencana mulai berinvestasi dan punya kepedulian yang tinggi pada pelestarian lingkungan, tak ada salahnya mencoba menjadi “investor hijau” atau green investor dengan memperhatikan hal-hal berikut ini.

Pilih Perusahaan Ramah Lingkungan

Kamu bisa menerapkan langkah ini saat sudah memutuskan akan berinvestasi pada reksa dana saham atau saham secara langsung. Pada reksa dana saham, manajer investasi menempatkan dana investasi minimal 80% dengan membeli saham berbagai perusahaan.

Sebelum membeli reksa dana saham, kamu dapat melihat daftar lima besar perusahaan yang ada dalam portofolio investasi di lembar fund factsheet yang disediakan manajer investasi. Setelah mengetahui apa saja perusahaan yang masuk dalam portofolionya, cari prospektus masing-masing perusahaan tersebut. Biasanya prospektus ada di website resmi perusahaan.

Dalam prospektus perusahaan, ada informasi mengenai sektor industri yang dijalankan perusahaan. Apakah sektor tersebut termasuk dalam industri ramah lingkungan? Selain itu, kamu juga bisa melihat program tanggung jawab sosial perusahaan terkait dalam laporan tahunan atau annual report. Laporan tahunan ini biasanya juga ada di website resmi perusahaan. Apakah mereka menjalankan program tanggung jawab sosial yang mendukung pelestarian lingkungan?

Pilih perusahaan yang paling sesuai dengan prinsipmu mengenai pelestarian lingkungan hidup. Namun, jangan lupa pula untuk mencermati kinerja keuangan perusahaan tersebut agar tujuanmu mengembangkan kekayaan melalui investasi juga tetap dapat tercapai.

Gunakan Indeks Investasi Hijau

Terkait dengan prinsip “investasi hijau” atau green investment, kamu dapat menggunakan Indeks SRI-KEHATI sebelum membeli saham sebuah perusahaan. Indeks SRI-KEHATI adalah indeks saham yang dibuat Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2009 bekerja sama dengan Yayasan KEHATI (Keanekaragaman Hayati). SRI merupakan singkatan dari Sustainable Responsible Investment atau Investasi yang Bertanggung Jawab dan Berkelanjutan.

Indeks SRI-KEHATI ini merupakan gabungan harga saham 25 emiten (perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia) yang dianggap memenuhi tiga penilaian dari Yayasan KEHATI. Pertama, bisnis inti perusahaan tidak tersangkut alkohol, senjata, pestisida, tembakau, pornografi, perjudian, pertambangan dan rekayasa genetik. Kedua, penilaian kinerja keuangan dengan nilai kapitalisasi pasar minimal Rp1 triliun, total aset tidak kurang dari Rp1 triliun, price earning ratio (P/E ratio) harus positif, kepemilikan saham publik di atas 10% dan tidak membukukan kerugian. Ketiga, penilaian aspek fundamental perusahaan yang di antaranya mencakup sikap perusahaan ke lingkungan, perlakuan ke masyarakat lokal, tata kelola SDM dan penegakan HAM.

Hasil penilaian tersebut dievaluasi dua kali setahun pada bulan April dan Oktober, setelah itu dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Kamu bisa mengaksesnya di website BEI.

Selain itu, ada pula Indeks Investasi Hijau perbankan Indonesia hasil kajian International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dan Indonesia Working Group on Forest Finance (IWGFF). Indeks yang dipublikasikan Agustus 2018 silam ini memetakan peringkat 12 bank nasional dan internasional di Indonesia berdasarkan komitmen mereka melakukan investasi hijau. Jika kamu berminat membeli saham sektor perbankan yang ramah lingkungan, bisa menggunakan indeks ini sebagai acuan.

Sekadar Pencitraan atau Bukan?

Terakhir, untuk benar-benar memastikan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak sekadar mengklaim menjalankan praktik bisnis “ramah lingkungan”, kamu dapat melakukan riset yang lebih dalam.

Misalnya, cek juga rekam jejak perusahaan-perusahaan tersebut melalui pemberitaan media massa yang terbiasa menurunkan laporan investigasi mendalam. Apakah perusahaan tersebut pernah terlibat konflik dengan masyarakat sekitar terkait isu lingkungan hidup, berlawanan dengan pencitraan perusahaan selama ini?

Selain dari media massa, kamu pun dapat menelusuri laporan lembaga swadaya masyarakat yang khusus menangani isu lingkungan hidup di internet. Kadangkala mereka juga mempublikasikan perusahaan-perusahaan “nakal” yang tidak berpihak pada pelestarian lingkungan.

Baca juga: Modal Bisnis Edy Fajar Prasetyo

Pada akhirnya, tentu akan menjadi hal yang sangat positif jika tujuanmu sebagai investor untuk mencari keuntungan finansial dapat berpadu dengan idealisme melestarikan lingkungan hidup. Bagaimana, siap berinvestasi hijau?