Begitu pesatnya perkembangan potensi bisnis minuman dessert membuat seorang Danu Sofwan tertarik untuk menyelaminya lebih jauh. Menariknya, ia tidak begitu saja mengekor peluang ini dengan menyajikan produk berkarakter internasional seperti milk tea dan cheese drink, tetapi menghadirkan sebuah produk modern dengan sentuhan lokal yang kental.

Baca juga: Dulcet Patisserie, Cake Artisan yang Berasal dari Hobi

Meriset Pasar Milenial

Keinginan tersebut datang dari perasaan gusar Danu saat mengunjungi bazar dan gerai kuliner lokal yang sangat jarang mengangkat potensi minuman lokal.

“Saya sedikit banyak terintimidasi dengan serbuan produk luar, yang membuat orang lupa bahwa kuliner lokal juga punya hal serupa yang tidak kalah enak,” ujar Danu.

Kegelisahan tersebut kemudian memacu Danu berpikir keras menemukan formula tepat untuk mengangkat minuman tradisional ke persaingan pasar minuman modern.

Cendol sengaja dipilih karena menurutnya mampu tampil sebagai minuman tradisional yang fleksibel, bisa dikreasikan menjadi aneka varian unik, namun tetap tidak meninggalkan ciri khas tradisionalnya. Ia menilai bahwa minuman yang juga populer di Asia Tenggara ini adalah obyek potensial untuk dipasarkan ke generasi milenial yang haus akan produk unik dan berkualitas.

“Cendol ini masuk ke dalam 50 besar daftar minuman terlezat di dunia versi CNN lo, sayang banget kalau di negeri asalnya justru kalah saing dengan minuman luar,” kata Danu prihatin.

“Saya pun melakukan riset pasar berkunjung ke banyak bazar dan gerai kuliner kekinian, memerhatikan apa yang disukai oleh kelompok milenial dan bagaimana produsen mengakomodasinya,” lanjutnya.

Keyakinan pada potensi cendol membuahkan semangat untuk bereksperimen, dengan visi utama menjadikan minuman tradisional ini lebih modern dan sehat. Hal ini bertujuan meningkatkan martabat cendol di mata masyarakat modern, khususnya konsumen milenial.

Mengganti Santan Dengan Susu

Melalui merek Radja Cendol, yang biasa disingkat Randol, Danu pun mulai bergerilya mempromosikan sajian cendol modern. Salah satu kreativitas perdananya adalah mengganti penggunaan santan dengan susu, sehingga tampilan cendol lebih menarik serta rasanya mudah diterima oleh banyak orang.

Selain itu, penggunaan susu juga menjadi bagian dari ambisi Danu untuk lebih menyehatkan konsumen tanah air karena ia mendapat informasi dari berbagai literatur bahwa masyarakat di Indonesia memiliki tingkat konsumsi produk susu yang rendah di dunia.

“Kelapa dan susu memiliki manfaat yang baik bagi tubuh, tapi ada manfaat khusus susu bagi pertumbuhan dan daya fokus manusia sehingga bisa dibilang lebih menyehatkan,” lanjutnya.

Berdiri sejak 2014, Randol terus berupaya menjaga loyalitas konsumen melalui jaminan kualitas, serta inovasi yang terus dihadirkan secara berkala. Komitmen tersebut berhasil membuat Radja Cendol berkembang menjadi lebih dari 700 outlet di seluruh Indonesia.

Melesatnya pertumbuhan jumlah cabang Randol didorong dengan sistem waralaba yang menawarkan harga paket kemitraan sebesar Rp8-10 juta. Salah satu kelebihan kemitraan Randol adalah mitra tidak dikenai biaya franchise, supporting fee, dan royalty fee. Danu juga kerap menjalankan berbagai kampanye pemasaran dengan para mitra.

Adapun penjualan rata-ratanya telah menembus angka lebih dari 10.000 gelas per hari. Jika dihitung lebih lanjut, katakanlah per gelas dijual Rp. 10.000, maka Danu telah berhasil meraih omzet harian hingga Rp. 100 juta.

Modal Hasil Mengamen

Menariknya, Danu memulai kesuksesan itu hanya dengan modal Rp5-6 juta, yang berbentuk outlet kecil di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Modal tersebut didapat Danu dengan penuh perjuangan dari hasil mengamen.

Ya, dulunya Danu memang sempat beberapa lama menjadi pengamen di kawasan Blok M dan sekitarnya, yang merupakan salah satu upaya untuk terus menyambung hidup.

“Kehidupan saya mengajarkan tentang pentingnya kerja keras. Saya bukan berasal dari keluarga berada, oleh karena itu saya pun bertekad untuk berani mengambil berbagai tantangan asalkan halal dan menjanjikan,” cerita Danu.

Berwirausaha juga bukan hal baru baginya, karena sebelum Randol berkembang pesat seperti saat ini ia telah berkali-kali jatuh bangun merintis usaha. Namun, semangat dan tekad Danu untuk mengubah nasib menjadi lebih baik memberikan dorongan untuk terus bekreasi menciptakan peluang bisnis.

“Semua pengalaman yang pernah saya lewati, saya jadikan pelajaran untuk membangun Randol dengan sebaik mungkin. Saya sudah yakin dari awal bahwa ini adalah peluang bagus dan saya percaya bisa menaklukkannya,” pungkas Danu, seraya mengatakan bahwa bisnis akan menjadi sukses jika seseorang percaya diri dalam melakukannya dan tidak pernah lelah belajar memperbaiki diri.

Ditanya tentang seperti apa inovasi yang akan diterapkan pada Radja Cendol saat ini, Danu langsung menyatakan tentang efisiensi. Menurutnya, berbisnis telah mengajarkannya menentukan skala prioritas untuk meraih untung maksimal.

Baca juga: Dari Hobi Blogging Jadi Bisnis Menjanjikan

“Saya sudah mempelajari pasar dan akan lebih banyak fokus menjaga konsistensi di pasar yang menguntungkan, yaitu melalui jaga kualitas dan sesekali penyegaran,” jelas Danu.

Danu menyebut bahwa meraih pencapaian jumlah cabang yang besar membuatnya sadar tentang tantangan baru di depan, yakni menjaga loyalitas konsumen.

Ia mengaku tidak ragu menutup suatu cabang –yang merupakan rekanan waralaba– jika memang tidak menguntungkan dan terus fokus mengelola potensi yang berkembang.

“Tapi, saya juga tidak menutup mata dengan peluang baru, cuma sekarang lebih teliti menghitung bibit bebet bobotnya,” lanjutnya menambahkan.