Kegigihan, kedisiplinan dan kepintaran membaca peluang pasar ternyata bisa membuat sebuah usaha melesat cepat. Seperti diceritakan Eugenie Patricia Agus, co-founder dari Puyo Silky Desserts, brand puding yang telah membuka 45 outlet di mal-mal Jabodetabek. Bayangkan, hanya bermodal Rp5 juta dari sang ayah, Eugenie bersama Adrian kakaknya bisa mengembangkan usaha hingga sebesar ini.

Baca juga: Dulcet Patisserie, Kue Artisan Milik Lokal

“Kami tidak pernah menambah modal (dari modal) awal lima juta rupiah,”ujar Eugenie.

Modal itu dibelikan kulkas bekas dan bahan baku untuk eksperimen mengembangkan variasi puding yang disukai anak-anak muda. Mereka tidak bergantung pada investor baru untuk pengembangan usaha dan modal yang berasal dari orang tua itu sudah berhasil dikembalikan.

Berawal dari Media Sosial

Awalnya Eugenie dan Adrian memasarkan puding lewat platform media sosial yaitu Instagram. Media sosial ini sangat membantu usaha pemula karena bisa menampilkan produk jualan dan cocok untuk usaha yang dimulai dari rumah. Puyo juga aktif berpromosi lewat akun Facebook dan Twitter namun Eugenie lebih menyukai Instagram karena secara visual sangat mendukung promosi produk puding Puyo.

Karena minat pembeli semakin banyak, mereka berhasil mengumpulkan uang dan menabungnya untuk digunakan sebagai uang sewa saat membuka outlet di mal. Eugenie memilih untuk membuka outlet di mal karena merupakan cara untuk memperluas pemasaran, tidak hanya secara online.

Selain itu ia bersama Adrian memiliki impian Puyo bisa sejajar dengan merek-merek internasional lainnya yang eksis di dalam mal-mal. Mereka punya impian besar bisa membuka outlet tidak hanya di mal-mal yang ada di Indonesia namun juga mal di luar negeri.

Terinspirasi Puding Ayah

Impian Eugenie untuk go international, setidaknya sudah mulai mendapat jalan pembuka dengan diakuinya mereka sebagai pengusaha muda sukses Asia berusia di bawah 30 tahun versi majalah Forbes Asia.

Jika menilik ke belakang, awal mula Eugenie dan Adrian memilih puding sebagai produk dagangan adalah karena kebiasaan ayah mereka membuatkan makanan untuk anak-anaknya.

Ayahnya membuat puding yang bertekstur lembut dan menjadi favorit mereka namun sayangnya belum ada rasanya. Mereka melihat puding buatan sang ayah berpotensi dijual kalau bisa mengemasnya dengan bagus.

Selain itu puding bukanlah makanan yang asing untuk lidah orang Indonesia, karena biasa disajikan sebagai hidangan penutup di pesta pernikahan, juga saat merayakan Hari Raya Lebaran atau Natal.

“Tapi belum ada sebuah usaha besar atau brand yang menggarap puding. Padahal kalau donat atau es krim kita bisa menyebutkan setidaknya tiga merek yang ada untuk makanan tersebut,”urainya.

Puyo sendiri adalah nama panggilan keponakan Eugenie yang aslinya bernama Darren. Saat ia dan Adrian sedang berdiskusi mengenai nama usaha di kamar Adrian, keponakannya bernama Darren berada di kamar tersebut. Mereka lantas berpikir mengapa tidak menggunakan nama panggilan keponakannya ini karena mereka berpikir nama tersebut cocok untuk dijadikan nama usaha puding mereka.

Setelah melakukan eksperimen selama tiga bulan untuk memilih rasa-rasa yang baru yang cocok untuk lidah dan selera anak-anak muda, akhirnya Adrian dan Eugenie meluncurkan Puyo pada tanggal 10 Juli 2013. 

Program CSR Mendukung Marketing

Keberhasilan pemilik Puyo ini dalam mengembangkan modal minim menjadi usaha besar dikarenakan mereka berhitung cermat dan bersikap hati-hati dalam tiap pengeluaran mereka. Kehati-hatian dalam pengeluaran ditunjukkan dengan belum beraninya Puyo beriklan di televisi kendati sudah memiliki 45 outlet.

Eugenie beralasan outlet Puyo saat ini masih di Jabodetabek dan Bandung sehingga kalau pasang iklan di TV kurang efektif. Hal ini berbeda halnya jika Puyo sudah hadir di seluruh Indonesia.

“Pasti kita berani untuk pemasaran yang lebih baik lagi, misalnya kerja sama dengan artis secara profesional, “ungkapnya.

Baru satu artis yang mengiklankan Puyo saat mengeluarkan rasa baru silky watermelon, yaitu Chelsea Islan.

“Chelsea bukan brand ambasador kami namun kegiatan bersama kami lebih bersifat kolaborasi untuk melakukan sesuatu di Flores,” papar Eugenie.

Dengan Chelsea, Puyo membangun taman bacaan di Flores sehingga kini ada tiga taman bacaan yang didukung oleh Puyo. Selain taman bacaan, Puyo juga melakukan kolaborasi dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk pelestarian penyu di Laut Sawu, NTT.

Baca juga: Danu Sofyan, dan Usaha Radja Cendol

Menurut Eugenie, kegiatan CSR (corporate social responsibility) seperti kerja sama dengan Chelsea Islan dan YKAN tersebut sangat membantu marketing dari sisi citra positif perusahaan. Ke depannya, Puyo Silky Desserts akan terus melakukan strategi marketing yang juga berkontribusi pada masyarakat seperti ini.