Tak banyak pemula yang berani main saham karena takut terhadap risikonya. Kebanyakan investor pemula masih main aman di produk-produk investasi dengan risiko minimalis, seperti reksa dana dan obligasi. Meski demikian, tak jarang investor newbie pun berani mengambil risiko karena tertarik dengan keuntungan yang bisa dikantongi.

Sayangnya, investor pemula sering bingung untuk memutuskan membeli saham perusahaan terbuka alias emiten apa lantaran jumlahnya yang banyak.

Baca juga: Puyo, Bisnis Puding Bermodal 5 Juta

Berdasarkan data di situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah emiten Indonesia sudah mencapai 607.

Karena itu, demi mengatasi keraguan membeli saham sebuah perusahaan, sebaiknya kamu luangkan waktu bertanya empat hal berikut ini supaya saham perusahaan yang dipilih memberikan keuntungan yang diharapkan:

1. Berapa Nilai Kapitalisasi Pasar Perusahaan

Istilah kapitalisasi pasar atau market capitalization biasanya dipakai untuk menggambarkan nilai perusahaan. Namun kapitalisasi pasar berbeda dengan nilai aset perusahaan, sehingga nilai kapitalisasi pasar bisa lebih besar atau rendah dibanding nilai aset perusahaan.

Semakin besar kapitalisasi pasarnya, makin besar harga sahamnya. Cara menghitung kapitalisasi pasar perusahaan adalah dengan mengalikan jumlah saham perusahaan yang beredar di pasar dengan harga saham saat ini. Investor bisa melihat harga per lembar saham sebuah perusahaan publik di beberapa situs finansial seperti Reuters atau Bloomberg. Dengan mengetik kode sahamnya maka investor akan mengetahui harga sahamnya saat itu.

Sementara untuk mengetahui jumlah saham beredar di pasar, investor bisa berkunjung ke situs resmi BEI atau perusahaan terkait. Sebab, semua emiten wajib mempublikasikan laporan keuangannya. Setelah itu, kamu tinggal kalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar.

Misalnya, pada penutupan perdagangan 18 Oktober 2018, harga saham perusahaan A senilai Rp500 per lembar. Dengan jumlah saham yang beredar sebanyak 10 juta lembar, maka nilai kapitalisasi saham perusahaan A adalah Rp500 x Rp10 juta = Rp5 triliun.

Dengan mengetahui nilai kapitalisasi pasar perusahaan, investor dapat mengetahui seberapa likuid (mudah untuk membeli dan menjual saham tersebut karena peminatnya banyak) saham tersebut diperdagangkan.

2. Berapa Pertumbuhan Laba Per Sahamnya

Investor biasanya akan menginvestasikan uangnya pada perusahaan yang Earning Per Share (EPS) atau laba per sahamnya mengalami pertumbuhan positif alias meningkat terus. EPS ini digunakan untuk menunjukkan seberapa besar laba bersih per lembar saham yang beredar di pasar dan laba bersih yang akan dibagikan kepada pemegang saham.

Adapun rumus EPS adalah laba bersih dibagi jumlah lembar saham yang beredar di pasar. Misal laba bersih perusahaan B sebesar Rp100 juta dengan jumlah saham yang beredar 10 juta, maka EPS perusahaan B = Rp100 juta : Rp10 juta = Rp10.

Dengan mengetahui EPS maka investor dapat melihat seberapa besar keuntungan yang mungkin dikantongi per lembar saham. Namun perlu diketahui, perusahaan yang menghasilkan laba bersih lebih besar belum tentu memberikan laba per saham yang juga besar.

Contohnya, perusahaan C punya laba bersih Rp100 juta, perusahaan D hanya Rp50 juta. Namun jumlah saham beredar perusahaan C sebanyak 10 juta dan perusahaan D sebanyak 2,5 juta. Maka laba per saham perusahaan C adalah Rp10 sedangkan laba per saham perusahaan D = Rp50 juta : 2,5 juta = Rp20. Ini karena jumlah lembar saham perusahaan D lebih sedikit dibanding perusahaan C.

Nah, EPS ini bisa digunakan untuk membandingkan pertumbuhan laba per saham setiap perusahaan. Karena itu, EPS menjadi salah satu indikator paling banyak dipakai untuk menilai potensi profit suatu perusahaan. Bila melihat EPS selama beberapa tahun, akan memberikan gambaran tren keuntungan perusahaan itu semakin baik atau buruk.

3. Bagaimana Fundamental Perusahaan

Hal lain yang patut ditanyakan adalah soal fundamental perusahaan terbuka. Perusahaan yang diikuti harus memiliki fundamental kuat.

Perusahaan dengan fundamental kuat ditandai dengan laporan keuangannya yang positif, terutama pendapatan dan laba yang menunjukkan kenaikan secara keseluruhan dari tahun ke tahun. Arus kas (cashflow) perusahaan positif, dengan tidak memiliki banyak utang. Suatu perusahaan yang sehat rasio utang terhadap modalnya (debt ot equity ratio/DER) harus di bawah 80% atau 0,8. Menghitung DER adalah total utang (liabilities) dibagi modal (equity) dikali 100%.

Seiring dengan kinerjanya yang baik, perusahaan itu juga membagikan dividen setiap tahun secara rutin kepada pemegang saham. Selain itu, perusahaan memiliki usaha yang jelas dan baik, produknya laris di pasaran, dan manajemennya transparan.

Baca juga: Rifaul Bingar, Dari Barang Bekas Jadi Furnitur Berkelas

4. Apakah Investor Mau Menahan Saham Minimal 10 tahun

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka investasi saham harus dilakukan dalam jangka panjang. Sebab, pergerakan saham dalam jangka pendek cenderung bisa sangat ekstrem dan terjadi begitu cepat, naik atau turunnya. Kinerja perusahaan bisa saja terkoreksi atau terdampak sentimen global, kondisi ekonomi di dalam negeri yang kurang baik berpotensi memengaruhi harga saham perusahaan.

Inilah yang disebut investasi saham memiliki risiko besar jika dilakukan dalam jangka pendek. Namun jika investasi dilakukan dalam jangka panjang, potensi risiko dan kehilangan uang di pasar saham bisa dikurangi, karena investor tak akan panik dan langsung menjual sahamnya ketika harga turun. Sebab biasanya setelah turun, harga saham punya kecenderungan naik kembali.

Jika investor bisa bertahan dan bersabar melakukan investasi jangka panjang selama 10 tahun atau lebih, pergerakan saham memiliki tren yang terus bergerak positif dan memberikan imbal hasil yang optimal.

Berinvestasi saham memang tidak semudah membalikkan tangan, karena butuh proses untuk belajar seluk beluknya. Tetapi jika kamu punya inisiatif belajar dan konsisten melakukannya, dijamin kamu akan mumpuni. Siap mencoba?