Investasi mulai menjadi tren di kalangan anak muda. Mereka kini berani mengalokasikan dananya untuk berinvestasi, dengan tujuan ingin mendapatkan penghasilan tambahan atau keuntungan yang menggiurkan di kemudian hari.

Baca juga: Aruna.id, Bisnis yang Sejahterakan Nelayan

Tetapi dalam berinvestasi harus ada strategi, termasuk juga mengetahui hal-hal yang wajib dihindari. Ini penting lo, supaya bisa melindungi kamu dari kerugian.

Penasaran? Berikut lima hal yang harus kamu hindari dalam berinvestasi.

1. Tidak Punya Tujuan Jelas

Yup. Hidup harus ada tujuannya, begitu juga dalam berinvestasi. Kamu harus tahu dengan jelas untuk apa dana investasi kelak digunakan. Apa kamu ingin membeli properti? Menyiapkan biaya pendidikan anak di masa depan? Atau untuk dana pensiun saat kamu sudah bosan bekerja?

Dengan mengetahui tujuan berinvestasi, bisa membantu kamu dalam memilih produk investasi yang tepat, termasuk juga jangka waktunya.

2. Anggapan Modal Besar untuk Investasi

Jangan pernah menunda investasi karena beranggapan butuh modal besar. Itu super keliru. Pandangan ini sangat meleset karena sekarang dana investasi sudah bisa dibuat “ramah” di kantong.

Reksa dana misalnya, hanya dengan uang Rp100 ribu saja, kamu sudah bisa berinvestasi. Selama kamu konsisten berinvestasi setiap bulan, kamu berpeluang mendapatkan untung di masa depan.

3. Menunggu Punya Skill Berinvestasi

Investasi bisa kamu mulai tanpa harus memiliki skill terlebih dahulu. Yang paling penting kamu mengetahui informasi tentang produk investasi yang akan kamu pilih. Kamu bisa belajar otodidak, termasuk bertanya pada mereka yang sudah berpengalaman.

Keahlian berinvestasi akan kamu dapatkan sejalan dengan pengalaman. Belajar pun membutuhkan proses. Kamu juga tidak mungkin menjadi ahli di bidang investasi dalam waktu singkat.

Atau, kamu tidak ingin repot-repot belajar? Kalau begitu kamu membutuhkan manajer investasi yang bisa membantu mengelola investasimu.

Jadi langsung lakukan investasi dan buang pikiran kalau kamu harus sudah “jago” dulu. Pastinya makin cepat kamu memulai investasi maka makin besar kemungkinan kamu mendapatkan hasil maksimal.

4. Melakukan Investasi di Satu Keranjang

Jangan pernah mengalokasikan dana hanya di satu keranjang investasi karena cenderung memiliki risiko tinggi. Sebaiknya, lakukan diversifikasi atau sebar dana kamu ke sejumlah instrumen investasi dengan tingkat risiko berbeda-beda. Hal ini untuk menghindari kerugian besar jika produk investasi itu merosot nilainya atau merugi.

Dengan membagi dana investasi di beberapa instrumen yang berbeda, maka ada potensi keuntungan dari keragaman instrumen ini. Strategi ini dapat menyeimbangkan kerugian yang terjadi. Namun, hindari juga menyebar dana ke banyak instrumen secara berlebihan karena bisa membuat kamu tidak fokus dalam mengelolanya.

5. Berinvestasi di Instrumen yang Legalitasnya Belum Jelas

Terkadang investor pemula mudah ikut arus menaruh dana di instrumen atau produk investasi yang diklaim memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Padahal, produk tersebut tergolong sebagai investasi alternatif dan belum memiliki dasar hukum yang jelas untuk mengatur perdagangannya. Dasar legalitas ini penting karena melindungi investor dari broker atau perusahaan sekuritas yang “nakal”.

Contohnya saja Bitcoin. Investasi Bitcoin yang termasuk cryptocurrency alias mata uang digital ini sempat booming di masyarakat karena memberikan keuntungan besar. Ada yang tiba-tiba menjadi kaya setelah berinvestasi di produk ini, namun ada juga yang jatuh miskin.

Investasi ini termasuk sangat berisiko karena fluktuasi harga Bitcoin sangat ekstrem. Misal, harga Bitcoin hari ini Rp100 juta, mungkin saja besok harganya naik dua kali lipat menjadi Rp200 juta per Bitcoin atau anjlok banyak. Pergerakan itu akibat sirkulasi Bitcoin yang masih sedikit. Jika jumlah yang beredar banyak maka harga akan terkoreksi dan sebaliknya

Investasi Bitcoin menuai kontroversi karena sifatnya yang spekulatif serta tidak aman. Sebab, transaksi Bitcoin anonim dan bisa diretas, juga rawan penipuan dan rentan disalahgunakan. Selain itu nilai Bitcoin yang sangat volatil bisa menjadi gangguan bagi perekonomian Indonesia.

Pemerintah sudah menghimbau agar masyarakat tidak menggunakan Bitcoin di Indonesia, terutama sebagai alat tukar. Bahkan Bank Indonesia (BI) dengan tegas mengeluarkan larangan tentang mata uang ini dalam dua Peraturan Bank Indonesia, yaitu PBI 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran dan PBI 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial.

Meski demikian, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sekarang telah menetapkan mata uang kripto, termasuk Bitcoin, sebagai komoditi yang dapat diperdagangkan di bursa. Namun hingga saat ini Bappebti masih belum tuntas merumuskan tata cara perdagangannya di Indonesia.

Baca juga: Bisnis Radja Cendol Milik Danu Sofwan

Sekali lagi, rencanakan dan pelajari instrumen investasi yang akan kamu pilih. Dengan “rambu-rambu” di atas, semoga kamu dapat makin bijak dan cerdas dalam berinvestasi.