Mereka yang lewat di Jalan Khairil Anwar, Peunayong, Banda Aceh, sudah pasti akan melihat toko makanan tradisional milik Ayu Lestari. Toko itu selalu ramai dengan pengunjung yang datang untuk membeli oleh-oleh khas Aceh, terutama pisang sale yang memang dibuat sendiri oleh sang empunya toko.

Baca juga: Dulcet Patisserie, Artisan Cake Karya Lokal

Memiliki toko pisang sale sendiri adalah bentuk kesuksesan perempuan berusia 31 tahun itu. Tidak banyak yang tahu kalau sebelumnya Ayu memulai usaha dari bawah sekali dan dia sudah bekerja keras untuk itu.

“Sebelumnya saya terbiasa menjual pisang sale naik turun bus penumpang yang kebetulan masuk terminal,” kenang Ayu sambil tersenyum.

Di Aceh, pisang sale merupakan camilan tradisional. Pisang yang digunakan adalah pisang “awak” atau kerap disebut pisang monyet karena mudah ditemukan. Pisang itu akan dikupas, dijemur dan kemudian disale alias diasap selama dua hari dua malam, hingga akhirnya berbentuk coklat tua dan matang. Rasanya manis dan legit.

Ayu sejak dulu memang menyukai pisang sale. Sayangnya pisang sale hanya dijual di kawasan Lhok Nibong Aceh Timur. Jadi setiap Ayu bepergian dari Banda Aceh menuju Medan, dia akan menyempatkan diri membeli pisang sale di Lhok Nibong yang sudah pasti dilewati.

“Karena pisang sale itu sehat dan enak,” katanya beralasan.

Belajar Membuat Pisang Sale

Dari kegemarannya makan pisang sale, Ayu mulai berpikir bagaimana dia bisa membuat pisang sale sendiri. Pucuk dicinta ulam tiba, Ayu memiliki seorang teman di kawasan Aceh Timur yang bersedia mengajarinya.

“Saya belajar membuat pisang sale bersama suami,” kata Ayu yang sebelumnya berprofesi sebagai seorang sales promotion girl (SPG) itu.

Bermodal nekat dan keyakinan kuat, Ayu akhirnya memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan mulai merintis karier yang lebih menantang: membuat dan menjual pisang sale buatan sendiri.

Usaha pisang sale dirintis Ayu pada 2012 dengan modal pas-pasan yaitu 20 juta rupiah.

Saat itu Ayu membuat pabrik pisang sale pertamanya dengan menyewa sepetak tanah di Kampung Jawa, Banda Aceh dengan beberapa pekerja yang membuat pisang sale di sana.

Pisang Sale yang diproduksi Ayu kemudian dikemas dengan nama “Pisang Sale Aceh”.

Untuk menjual pisang sale produksinya, Ayu menyewa sebuah lapak kecil di terminal bus Batoh Banda Aceh seharga Rp7.000 per hari. Omzet yang ia dapatkan saat berjualan di terminal pun tidak terlalu banyak. Kalau beruntung dalam sehari Ayu bisa memasarkan pisang sale hingga Rp500 ribu.

“Ini total penjualan kotor, belum dipotong modal,” katanya.

Namun lebih sering lagi dia pulang dengan tangan kosong.

Selain omzet yang kecil, berjualan di terminal juga memaksa Ayu harus lebih rajin menawarkan produknya itu langsung kepada konsumen. Saban hari Ayu menaiki bus yang berhenti di terminal, dengan menenteng tumpukan pisang sale berharap ada yang tertarik untuk membeli.

Buka Toko Sendiri

Dari keuntungan yang dikumpulkan sedikit-sedikit, pada tahun 2017 Ayu akhirnya berhasil menyewa sebuah toko di pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Aceh.

“Orang tua juga memberikan bantuan saat itu, sehingga akhirnya saya memiliki toko sendiri,” kata Ayu.

Di toko itu produk pisang sale milik Ayu makin dikenal masyarakat. Ayu berhasil menjual ratusan kotak pisang sale dengan omzet bisa mencapai Rp5-7 jutaan per hari. Pisang salenya yang laku berat membuat Ayu menambah jumlah karyawan sampai 14 orang.

“Alhamdulillah. Para karyawan ada yang membantu buat pisang sale di pabrik, juga ada yang bantu di toko,” terang Ayu.

Ayu juga menambah jumlah pabriknya menjadi empat pabrik pengolahan pisang sale. Kini dia memiliki empat pabrik pisang sale dan itu semua berada di atas tanah milik sendiri.

Hanya Bisa Didapat di Aceh

Buat Ayu salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan bisnisnya yaitu mencari bahan baku pisang sale.

Hingga saat ini belum ada petani Aceh yang menanam pisang “awak” atau pisang monyet. Hal ini membuat Ayu harus rajin berkunjung ke pasar untuk “berburu” pisang.

“Belum bisa memakai jenis pisang lain karena bisa cepat rusak dan nilainya turun. Harus pisang awak,” kata Ayu, sambil menambahkan kalau selama ini dia memiliki pengepul pisang yang akan mencari ke luar Aceh jika Ayu kehabisan stok pisang awak.

Menurut pengakuannya, dalam sehari pabrik pisang sale Ayu bisa mengolah 50 tandan pisang awak, setiap tandan terdiri dari 10 sisir.

“Selama ini untungnya selalu ada pisang untuk stok,” katanya lagi.

Berdasarkan pengalamannya pisang sale Aceh tidak tahan lama, karena tidak menggunakan pengawet makanan. Selain itu jenis pisang dan proses pengasapan juga sangat memengaruhi awetnya pisang sale tersebut.

Pisang sale basah bisa bertahan hingga dua minggu. Sementara pisang sale yang kering, atau yang sudah melalui proses penggorengan dan dikemas dalam plastik kedap udara, bisa bertahan beberapa bulan.

Selama ini Ayu lebih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut untuk memasarkan pisang salenya. Karena pisang sale sudah terkenal sejak dulu, penggemar kudapan ini pasti akan mencari pisang sale yang berkualitas.

“Kalau produksi kita bagus, orang akan memberi rekomendasi untuk membeli pisang sale kita,” kata Ayu.

Selain konsisten menjaga kualitas produk, menurut Ayu pisang sale buatannya juga bisa dikenal luas berkat kegigihannya merintis usaha dari nol sejak enam tahun lalu. “Dan itu tidak mudah,” ujar Ayu tersenyum.

Baca juga: Kerja Keras Meri Yuarif untuk Tas Kulit Biyantie

Pisang sale Ayu yang dijual dengan kisaran harga Rp10 ribu – Rp50 ribu untuk kemasan 100 gram – 1 kg ini hanya bisa diperoleh di Aceh. Pasalnya, Ayu belum berniat membuka cabang di luar provinsi Serambi Mekah tersebut. Jadi, kalau kamu berkunjung ke Aceh, jangan lupa mencicipi oleh-oleh khas Aceh ini, ya.