Proses berinvestasi memerlukan pengetahuan, kemampuan menganalisa fundamental juga ketenangan berpikir. Dengan kata lain, kita perlu meminimalkan faktor emosi dalam berinvestasi, bahkan kalau bisa sama sekali tidak melibatkan emosi.

Baca juga: Danu Sofwan, Sukses Mengembangkan Radja Cendol

Namun harus diakui investor kerap terjebak dalam situasi emosional. Akibatnya, bukannya mendapatkan hasil bagus namun hasil investasi malah jeblok karena perhitungan yang salah.

Misalnya pada investasi saham. Saat mendapatkan keuntungan, investor akan merasa percaya diri dan berpikir saham pilihannya akan terus naik. Investor kerap dihinggapi keserakahan (greed) sehingga saat harga sahamnya terus turun ia tidak mau menjual (cut loss) karena ia tidak mau menderita kerugian sama sekali dan berpikir sahamnya akan berbalik menguat dalam jangka pendek.

Situasi sebaliknya juga kerap terjadi, yaitu investor merasa ketakutan (fear ) karena pernah menderita kerugian sehingga saat sudah mendapat keuntungan, ia secepatnya menutup transaksi karena takut profit yang telah diperoleh akan bisa berbalik jadi kerugian. Padahal pasar saat itu sedang dalam tren naik.

Agar kamu dapat mengendalikan rasa takut dan serakah saat sedang berinvestasi, khususnya pada investasi saham, lakukan langkah berikut:

1. Fokus pada tujuan investasimu

Ketika pasar sedang bergejolak, karena cemas biasanya investor akan cenderung fokus pada berapa lama pasar akan terkoreksi positif lagi. Namun, kita tidak dapat memprediksi pergerakan pasar dengan pasti.

Akan lebih baik jika kamu fokus pada hal yang sudah kamu ketahui, yaitu tujuanmu dalam berinvestasi saham. Jika tujuanmu adalah meraih keuntungan dari saham setelah lima tahun untuk dana uang muka rumah, ingat kembali tujuan itu dan tetap sabar mengikuti pergerakan pasar selama jangka waktu tersebut.

Saat target keuntungan sudah tercapai sebelum lima tahun, barulah itu saat yang tepat untuk menjual sahammu.

2. Pilih saham dengan fundamental kuat

Saham sebuah perusahaan yang memiliki kinerja baik dari segi keuangan, yaitu konsisten mencetak laba, transparan dan memperluas usaha merupakan saham dengan fundamental baik. Walau pasar sedang bergejolak dan harga saham perusahaan ini ikut turun, namun hanya bersifat sementara saja karena akan berbalik menguat sehingga kamu tidak perlu panik lalu menjualnya. Baca berita-berita tentang perusahaan tersebut, apakah ada rencana ekspansi-ekspansi di masa depan.

3. Jual jika target keuntungan sudah tercapai

Kesalahan yang sering dilakukan investor adalah tidak menetapkan target keuntungan yang ingin didapat dari saham. Untuk menentukan target keuntungan kembali lagi pada tujuanmu berinvestasi, berapa dana yang ingin kamu kumpulkan dan dalam jangka waktu berapa lama?

Saat harga saham yang kamu miliki sudah naik sesuai target yang kamu rencanakan, segera jual saham tersebut. Hindari rasa serakah, karena harga bisa berbalik arah melemah karena pengaruh faktor perekonomian global, geopolitik atau sentimen negatif lainnya seperti perubahan kebijakan pemerintah atau bencana alam.

4. Jangan terlalu banyak mengoleksi saham

Usahakan jangan terlalu banyak mengoleksi saham untuk dijadikan portofolio investasi. Belilah hanya 5-10 saham yang kamu kuasai fundamental perusahaannya.

Jika terlalu banyak pilihan saham maka kamu harus mendalami lebih banyak fundamental perusahaan. Saat pasar sedang dalam kondisi buruk, kamu bisa lebih banyak mengalami kerugian.

Pertimbangkan juga untuk menyeimbangkan portofolio investasimu dengan instrumen investasi lain yang risikonya sedang dan rendah seperti reksa dana pendapatan tetap dan obligasi. Dengan begitu kamu bisa menyebar risiko dan lebih mengamankan dana investasi.

5. Tentukan batas kerugian

Untuk membatasi kerugian, tentukan kerugian yang bisa kamu toleransi sehingga kamu tahu akan menjual di harga berapa saat saham kamu mengalami penurunan. Banyak broker yang menawarkan fitur robot trading sehingga kamu bisa langsung menjual jika harga sudah menyentuh harga yang ditentukan.

6. Jangan jadi daytrader

Jangka waktu berinvestasi saham sebaiknya dalam jangka panjang. Jangan pernah dijadikan kegiatan harian, yaitu jual dan beli saham menjadi kegiatan rutin kamu setiap hari. Beli dan diamkan dalam jangka waktu tertentu, sebulan, dua bulan bahkan hingga lebih dari setahun.

Mengamati pergerakan harga harian bahkan dalam kurun waktu satu jam saja akan membuat kamu stres karena volatilitasnya yang tinggi. Saat pasar sedang bergejolak, bahkan ada investor jangka panjang yang justru menghindari membaca berita ekonomi dan keuangan agar tidak makin cemas dan panik menjual saham.

Baca juga: Modal Bisnis Edy Fajar Prasetyo

7. Kecilkan ukuran lot

Turunkan ukuran lot saham ke tingkat yang membuatmu merasa nyaman bertransaksi tanpa rasa takut. Memang potensi keuntungan akan berkurang, tapi juga akan mengurangi potensi kerugian kamu.

Bila memahami kiat-kiatnya, kamu pasti bisa mengendalikan emosi dalam berinvestasi. Selamat mencoba!