Pernah dengar istilah financial technology atau istilah populernya disebut fintech? Kalau iya, itu tandanya kamu cukup update dengan penyedia jasa keuangan yang tren saat ini.

Baca juga: Bisnis Pisang Sale Ayu Lestari

Berdasarkan definisi National Digital Research Centre di Irlandia, fintech adalah inovasi dalam layanan keuangan. Jadi layanan yang diberikan dapat mencakup segmen perusahaan atau business to business, bisa juga business to consumer.

Beberapa skema investasi alternatif yang ditawarkan dalam fintech, di antaranya peminjaman uang (lending) secara peer to peer (P2P fintech lending), perencanaan keuangan, investasi retail, transfer dana, pembayaran dan sebagainya.

Kamu mungkin sering menggunakan fintech pembayaran dalam keseharianmu. Misalnya untuk membayar ojek online, pulsa listrik, membayar kartu kredit dan lain-lain. Fintech yang menawarkan layanan ini misalnya Alipay, Go-pay atau Ovo.

Jenis fintech yang saat ini populer di kalangan investor dan pemilik bisnis di Indonesia adalah fintech lending, sebuah konsep investasi dengan model pinjam-meminjam berbasis teknologi.

Penjelasan sederhananya, perusahaan fintech lending akan mempertemukan para pemberi pinjaman alias investor dengan calon peminjam atau borrower. Kemudian, profil si peminjam ditawarkan kepada pemberi pinjaman (investor). Semua layanan pinjam meminjam ini dilakukan secara online.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Agustus 2018 ada sekitar 66 fintech yang sudah terdaftar. Beberapa di antaranya cukup akrab di telinga kita yaitu Kredivo, Tunaiku, Telefin, dan lain-lain.

Sementara ada 40 perusahaan yang masih dalam proses pendaftaran dan 38 perusahaan lainnya yang berminat melakukan pendaftaran ke OJK.

Jika kamu masih awam namun tertarik dengan investasi alternatif ini, ada baiknya mengetahui terlebih dahulu untung ruginya.

Plus Minus Investasi di Fintech

Keuntungan investasi di fintech lending

1. Modal minim

Jika banyak orang khawatir melakukan investasi lantaran berpikir memerlukan modal besar, di fintech lending tidak demikian. Sebagai investor pemula, kamu bisa melakukan setoran perdana dengan nominal sangat terjangkau. Bahkan ada perusahaan fintech lending yang menawarkan modal setoran mulai Rp10.000 dan Rp100 ribu.

2. Bebas memilih calon peminjam

Investor di fintech lending memiliki kebebasan memilih pihak yang akan diberi pinjaman. Perusahaan fintech lending akan mengirimkan profil dan data calon peminjam kepada investor. Biasanya, data bisnis dan keuangan yang sehat dari si peminjam dijadikan dasar untuk memberikan pinjaman.

3. Imbal hasil tinggi

Kebanyakan orang ingin mendapatkan keuntungan besar dari investasi. Fintech lending sendiri menawarkan imbal hasil yang cukup tinggi yaitu di atas 10 persen dalam setahun, bahkan ada platformyang menawarkan imbal hasil lebih dari 20 persen per tahun!

Imbal hasil ini sangat menggiurkan karena rata-rata bunga acuan dari Bank Indonesia hanya 5,75 persen saja.

4. Membantu UKM

Selain memberikan keuntungan kepada investor, jenis investasi alternatif ini juga membantu permodalan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) atau masyarakat.

Mereka yang selama ini sulit mengakses pinjaman dari bank atau jasa keuangan konvensional lainnya, bisa menggunakan fintech lending.

Jadi investor fintech lending tidak hanya mendapatkan imbal hasil yang diinginkan tapi juga membantu meningkatkan perekonomian melalui pertumbuhan UKM.

Kerugian investasi di fintech lending

Selain keuntungan yang didapat, investasi fintech lending juga memiliki risiko. Misalnya:

1. Tidak bisa menarik dana sebelum jatuh tempo

Berbeda dengan investasi di perbankan dan saham, investasi di fintech lending tidak bisa menarik dana yang diberikan sebagai pinjaman sewaktu-waktu.

Artinya, investor hanya bisa mengklaim dananya saat tanggal jatuh tempo atau waktu yang telah disepakati sejak awal.

2. Risiko peminjam gagal bayar

Peminjam bisa saja gagal bayar atau membayar tapi tak tepat waktu alias menunggak. Karena itu, untuk menghindari bayaran yang menunggak atau gagal bayar, investor harus lebih teliti ketika memilih calon peminjam.

Berinvestasi atau menempatkan dana di fintech lending menurut beberapa ahli ibarat menaruh dana di saham. Risiko kehilangan dana sepenuhnya ditanggung oleh pemilik dana.

Untuk meminimalisir risiko ini, cek latar belakang dan data atau profil dari peminjam, pilih yang baik dan sehat sebab perusahaan fintech lending tidak akan menanggung kerugian investor karena mereka hanya menjadi perantara antara investor dan peminjam.

3. Penipuan

Selain risiko gagal bayar atau menunggak, risiko penipuan investasi secara online lebih tinggi dibanding investasi tatap muka karena antara investor dan calon peminjam tidak bertemu langsung.

Untuk menghindari penipuan, pastikan bahwa platform fintech yang dipilih sudah terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Rawannya investasi fintech lending ini mendorong Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mengeluarkan Kode Etik Fintech, pertengahan Juli 2018. Dalam kode etik itu, perusahaan fintech lending diharuskan untuk transparan sehingga masyarakat bisa memutuskan tempat menginvestasikan uangnya secara aman. Kode etik juga mendorong bisnis fintech lending ini untuk bersaing secara sehat.

Selain Aftech, OJK juga mengeluarkan Peraturan OJK No. 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital (IKD) di Sektor Jasa Keuangan. Peraturan itu mewajibkan industri fintech lending melindungi nasabah dari penipuan. Aturan yang baru keluar September 2018 tersebut juga mengharuskan fintech lending untuk transparan, melakukan perlindungan data konsumen, serta mencegah pencucian uang dan pendanaan terorisme.

4. Potensi bangkrut

Meski perusahaan fintech lending hanya sebagai perantara investor dan calon peminjam, namun jika tak bisa mengelola risiko dan menagih pinjaman maka perusahaan fintech lending tersebut kemungkinan akan berakhir gulung tikar alias bangkrut.

Nah, kalau fintech lending bangkrut, siapa yang bertanggung jawab? Ke mana kamu sebagai investor meminta ganti rugi?

Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, pada pasal 37 menyebutkan penyelenggara wajib bertanggung jawab atas kerugian pengguna yang timbul akibat kesalahan atau kelalaian direksi atau pegawai penyelenggara.

Dengan adanya pasal ini, OJK memastikan perlindungan investor sehingga perusahaan fintech lending tidak asal-asalan menjalankan usahanya. Perusahaan fintech lending yang berhak mengantongi izin usaha dan terdaftar di OJK juga telah diseleksi ketat.

Baca juga: Putri Tanjung, Berbisnis Sejak Belia

Selain itu OJK juga mendorong perusahaan fintech lending untuk bekerja sama dengan perusahaan asuransi kredit, penjaminan kredit, atau pegadaian dalam menjamin dan merestrukturisasi utang antara peminjam dan investor.Setelah memahami kelebihan dan kekurangan berinvestasi di fintech, kamu bisa lebih menentukan pilihan. Yang pasti pilihlah jenis investasi yang paling cocok untukmu, dengan banyak mencari informasi.