Bagi para wanita modern muslimah, nama Vanilla Hijab sudah tidak asing lagi. Merek jilbab dan busana modest ini telah menjadi favorit di pasar online dalam beberapa tahun terakhir. Warna pastel dan desain minimalis menjadi dua ciri khas utama merek yang dibangun oleh Atina Maulina ini.

Baca juga: Bisnis Cendol Danu Sofwan

Tidak mudah bagi Atina untuk membangun bisnis fashion berbasis online. Dia sama sekali tidak memiliki latar belakang bisnis, hanya kemauan keras yang menjadi pegangannya hingga sukses seperti sekarang.

Vanilla Hijab pertama kali didirikan pada Maret 2013, ketika Atina sedang berada dalam masa-masa yang dianggapnya terpuruk. Ia harus menerima kenyataan pahit mengidap penyakit rheumatoid arthritis, yang membuat kekuatan tulangnya menurun drastis.

Akibat penyakit tersebut, Atina harus merelakan kuliah impiannya di Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung. Cuti kuliah juga bukan pilihan terbaik, karena ia terpaksa menjalani rawat jalan hingga lebih dari setahun.

Bahkan ketika akhirnya ia pindah kuliah ke perguruan tinggi swasta di Jakarta, penyakit kronis ini masih saja sesekali menyerang. Atina pun kemudian kerap merenung, berpikir tentang apa yang bisa dilakukannya untuk lepas dari rasa jenuh dan menemukan kembali semangat hidup yang telah lama hilang.

Hingga suatu hari ia membuka kembali akun Instagram yang dibuatkan temannya. Dari situ Atina terkagum-kagum melihat influencers berhijab yang mampu menarik perhatian banyak orang.

“(Contohnya) seperti Dian Pelangi. Mereka dipuja-puja dan apa yang dikenakannya selalu ditiru,” Atina bercerita.

Atina kemudian melihat bahwa para hijabers populer ini banyak di-endorse oleh merek-merek pakaian muslimah, yang dia amati, sukses karena bergerilya mempromosikan jualan di Instagram.

“Ketika itu muncul pikiran bahwa (berjualan) jilbab bisa menguntungkan. Saya langsung minta Mama mengantarkan ke Pasar Mayestik, yang kebetulan tidak jauh dari rumah,” cerita Atina.

Di Pasar Mayestik, ia memotret kain-kain yang menurutnya memiliki warna dan motif menarik untuk dibuat jilbab dengan menggunakan smartphone.

“Dari toko ke toko, saya nekat memotret kainnya. Sampai beberapa kali diusir, saya tetap nekat. Saya minta Mama pura-pura beli, supaya pedagangnya fokus melayani dan tidak menyadari saya yang diam-diam memotret,” ungkap Atina.

Saat awal memulai bisnis itu Atina memang menerapkan sistem pre-order, ia memposting contoh material jilbab jualannya di Instagram kemudian baru menjahitnya setelah ada pesanan.

Dalam hal ini, ia sama sekali tidak menampilkan visual model yang mengenakan kerudung, hanya berupa foto kain, dengan fokus pada deskripsi warna dan tekstur kain. Karena menurutnya, dua hal tersebut merupakan patokan utama bagi konsumen dalam memilih jilbab yang ingin dibelinya. Tentang bagaimana cara mengenakannya adalah urusan yang berbeda, tergantung pada preferensi masing-masing.

“Saya tidak tahu apa-apa tentang menjahit, tidak tahu juga bagaimana cara mengirim paket ke pelanggan. Saya pasrah saja dengan takdir, sambil tetap berusaha mewujudkan yang terbaik untuk konsumen,” jelas Atina.

Berburu Penjahit yang Cocok

Soal penjahit, Atina memiliki cerita unik tersendiri. Ia sebelumnya sama sekali tidak tahu harus menjahit ke mana dan berapa ongkosnya.

Pada awalnya, Atina memanfaatkan jasa penjahit di Pasar Mayestik. Namun langkah ini ternyata menambah ongkos produksi. Sebagai gantinya, ia lalu membeli produk hijab yang mirip di Thamrin CIty dan Tanah Abang.

“Bagaimanapun caranya, saya harus memenuhi pesanan konsumen. Saya jadi benar-benar bergantung pada distributor jilbab di Thamrin City. Namun kemudian saya menyadari bahwa hal ini banyak risikonya, tidak sehat untuk bisnis,” kenang Atina.

Setelah berjalan sekitar enam bulan, tiba-tiba muncul ide di benak Atina untuk memanfaatkan jasa penjahit keliling agar ongkos produksi bisa ditekan. Dia pun mencari penjahit yang mau menerima pesanan dengan harga terjangkau di sekitar lingkungan rumahnya.

“Saya muter-muter cari penjahit keliling yang murah. Susah sekali waktu itu, keluar masuk komplek (perumahan) dan kampung, hasilnya nihil. Hingga ketika mengarah ke wilayah Pesanggrahan, saya menemukan pejahit yang mau menerima orderan dengan harga murah. Waktu itu, Rp5.000 per potong. Katanya untuk penglaris. Alhamdullilah sekarang penjahitnya sudah punya usaha konfeksi sendiri,” lanjutnya panjang lebar.

Kesuksesan penjahit tersebut, menurut Atina, salah satunya didorong oleh berkah pesanan Vanilla Hijab yang terus meningkat.

Meski pesanan kian membludak, Atina tidak mau berganti mitra. Dia malah menawarkan opsi binaan, yaitu meminta penjahit langganannya mengajak rekan-rekan sesama penjahit keliling untuk mengerjakan pesanan Vanilla Hijab.

“Jadi sistemnya gethuk tular, penjahit langganan saya memanggil teman-temannya untuk menyanggupi pesanan. Ongkos produksi pun bisa lebih ditekan,” ujarnya, seraya menyebut kini telah memiliki sekitar 50 orang pejahit binaan dan tiga rumah produksi yang tersebar di selatan Jakarta.

Kini, bersama-sama dengan rekan penjahit binaan, Atina mampu memproduksi rata-rata 20.000 potong jilbab setiap bulan dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah. Jilbab kreasi Vanilla Hijab ini dijual dengan kisaran harga Rp50.000 – Rp200.000-an.

Bergerilya Menarik Perhatian Konsumen

Atina bercerita ketika pertama kali Vanilla Hijab berdiri, tren belanja online via media sosial sedang mulai booming.

Ia pun ikut-ikutan melakukan spamming, dengan memberi tanda suka ke puluhan unggahan wanita berhijab di Instagram. Lebih dari itu, ia juga nekat mempromosikan Vanilla Hijab di kolom komentar beragam unggahan populer.

Tidak butuh waktu lama, aksi gerilyanya mendorong peningkatan jumlah followers pada akun Vannila Hijab, yang berimbas pada semakin derasnya arus pesanan.

“Saya sampai meminta Mama dan kakak saya untuk bantu melakukan spamming promosi, melayani chat pesanan dan mengurus pengiriman. Saya semakin serius menekuninya ketika Vanilla Hijab mulai berjalan kurang lebih setahun,” ujar Atina.

“Saya juga berusaha memoles promosi, mulai dari sekadar foto jilbab di lantai hingga kemudian memakai model dan meng-endorse beberapa selebgram beken. Saya coba satu-satu, untuk mencari tahu mana yang paling menguntungkan. Proses belajarnya penuh jatuh bangun, apalagi waktu itu saya sembari kuliah, jadi harus pintar mengatur waktu,” lanjutnya bersemangat.

Setelah memasuki tahun ketiga, kurang lebih sekitar pengujung 2016, Vanilla Hijab mulai bermigrasi ke platform e-commerce, melalui kerja sama dengan pihak ketiga dari beberapa marketplace dan juga mencoba membuat situs penjualan pribadi.

“Cukup sulit untuk mengajak konsumen beralih ke metode belanja online via website. Banyak juga konsumen yang bebal, memaksa untuk membeli langsung via chat WhatsApp dan Line,” katanya mengingat sejumlah tantangan yang dihadapi.

“Saya pun bikin gimmick seperti (memberikan) bonus dompet, kesempatan memenangkan handphone dan lain-lain untuk menarik minat konsumen beralih ke website. Alhamdulillah cara itu sukses,” lanjutnya seraya menyebut layanan chat hanya digunakan untuk menerima pengaduan.

Baca juga: Hanindia Narendrata, bangun Start-up yang Bermanfaat

Untuk ke depannya, Vanilla Hijab akan fokus meningkatkan kapasitas produksi, seraya merambah ke opsi bisnis lain yang sejalan dengan napas Islam, termasuk memperbanyak koleksi pakaian muslimah.