Waspadai Jebakan Saham Gorengan

237
investor pemula
investor pemula

Jika kamu adalah investor pemula yang sedang, belajar investasi saham, mungkin pernah mendengar istilah saham “gorengan”. Saham disebut sebagai saham gorengan jika memiliki pergerakan harga yang tak wajar. Mengapa tak wajar? Karena pergerakan naik turunnya harga saham gorengan hanya terjadi di satu waktu tidak di sepanjang tahun seperti halnya saham-saham yang diminati investor pada umumnya.

Baca juga: Lika-liku Vanilla Hijab

Mengapa disebut gorengan? Karena saham ini menjadi naik harganya dalam waktu singkat disebabkan rekayasa permintaan pasar yang semu. Jika diibaratkan jajanan gorengan, dengan modal minim tukang gorengan bisa membuat dagangannya diminati banyak orang karena renyah setelah dimasak dengan menggunakan minyak yang berlebihan.

Sebelum membahas saham gorengan, kamu harus tahu lebih dahulu mengapa harga sebuah saham bisa naik dan turun dalam satu waktu perdagangan. Sesuai dengan hukum ekonomi, harga saham akan naik jika permintaan (bid) terhadap saham tersebut meningkat. Demikian pula saham akan turun harganya jika lebih banyak yang menjual atau menawarkannya (offer) di pasar daripada yang ingin membeli.

Pada saham gorengan, pelaku bid dan offer ini merupakan bandar atau market maker yang bisa berupa satu individu atau beberapa individu yang berkelompok. Mereka memiliki modal cukup besar menciptakan pergerakan saham.

Investor pemula harus menyadari bahwa saham gorengan ini merugikan investor retail karena di banyak kasus, mereka tidak bisa menjual lagi saham ini. Sebab, mereka telanjur membeli saat harga bergerak naik namun ketika ingin menjual, harga sudah jatuh.

Bila masih bisa menjual saham tetapi rugi, investor agak tertolong. Tapi yang lebih parah, banyak kasus saham gorengan yang sama sekali tidak bisa dijual atau istilahnya “saham nyangkut” karena mendadak tidak ada peminatnya setelah usai euforia harga.

Karena itu, trader atau investor newbie di bursa saham harus memahami ciri-ciri saham gorengan seperti dijelaskan di bawah ini agar tidak salah dalam membeli sebuah saham:

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

1. Memiliki kapitalisasi pasar yang kecil

Saham gorengan umumnya adalah saham perusahaan yang tidak populer dan memiliki kapitalisasi pasar yang tergolong kecil (small cap), biasanya di bawah Rp1 triliun. Kapitalisasi pasar adalah nilai keseluruhan saham yang dimiliki sebuah perusahaan, didapat dengan mengalikan harga pasar saham dengan jumlah seluruh saham yang diterbitkan perusahaan.

Sudah kecil kapitalisasi pasarnya, porsi saham yang dilepas ke publik juga minim. Dengan nilai saham publik yang minim, bandar bisa memborong saham ini dalam jumlah banyak dengan mudah sehingga suplai dikuasainya.

Bagaimana tahu nilai kapitalisasi pasar sebuah saham? Cari tahu di situs IDX atau situs penyedia data seperti Bloomberg, dan temukan di profil saham.

2. Volume transaksi yang tidak stabil

Volume suatu saham dapat dikatakan tidak stabil jika di satu hari perdagangan volume transaksinya besar, namun di hari lain volumenya tipis sekali bahkan bisa jadi tidak ada perdagangan sama sekali dalam satu hari. Jika demikian, maka bisa dipastikan saham tersebut merupakan saham gorengan.

Volume perdagangan saham yang mendadak besar itu bisa diciptakan oleh bandar saham yang menguasai saham tertentu untuk menarik minat investor retail, dan investor pemula yang tertipu trik ini.

Selain saham-saham tidak populer ada pula saham populer yang diminati investor sejak lama, yang dijadikan saham gorengan oleh bandar. Saham ini memiliki volume transaksi yang besar di tiap hari perdagangan bursa namun memiliki kapitalisasi pasar yang kecil.

3. Melihat antrean bid offer

Dengan masuk pasar melalui banyak akun, bandar dapat menciptakan peminat (calon pembeli) dan juga pihak penjual. Jika jumlah investor yang melakukan antrean hanya puluhan saja, sedangkan volume perdagangannya mendadak membesar, bisa dipastikan itu adalah saham gorengan.

Bandar melakukan rekayasa antrean ini agar investor percaya saham yang digoreng likuid atau diminati banyak investor. Setelah banyak investor retail terpancing dan masuk dalam antrean beli, bandar perlahan-lahan keluar dari pasar dan mulai melepas suplai saham yang dimiliki secara bertahap hingga harga saham kembali ke posisi semula sebelum digoreng. Akibatnya, banyak terjadi saham “nyangkut” karena investor yang telanjur memborong saham tidak bisa menjual karena sudah tidak ada pemain besar yang berminat membeli lagi lantaran harga sudah jatuh.

Pada antrean saham gorengan rentang harga bid – offer sangat jauh. Oleh sebab itu, saham ini seringkali memiliki fluktuasi harga yang tajam dan mudah dimainkan harganya.

4. Pola harga yang tidak beraturan

Saham gorengan sebenarnya mudah dikenali. Kamu tinggal mengecek pergerakan harga saham tersebut dalam periode tertentu, misalnya dalam satu bulan atau satu tahun ke belakang.

Dalam periode satu bulan, terkadang saham bergerak flat dalam lima hari perdagangan dan tiba-tiba naik tajam di hari keenam, bisa juga tiba-tiba turun. Dilihat dari grafiknya saja kamu sudah bisa menyimpulkan bahwa pergerakan harganya tidaklah wajar, bukan?

 

investor muda

5. Pergerakan harga tidak didukung fundamental perusahaan

Umumnya naiknya permintaan pasar terhadap sebuah saham dipicu berita bagus mengenai perusahaan yang bersangkutan atau membaiknya kinerja keuangan perusahaan tersebut. Namun tidak demikian dengan saham gorengan karena harga sahamnya meningkat di saat perusahaan tersebut tidak mencetak laba atau sepi berita.

Namun ada pula pihak tertentu, dalam hal ini bandar, menyebarkan rumor yang bisa menarik minat investor untuk membeli saham tersebut. Misalnya, perusahaan X yang bergerak di bidang retail akan diakuisisi oleh perusahaan retail global terkemuka, di mana dengan berita ini harga sahamnya akan ikut naik.

Untuk mengecek kebenaran rumor tersebut, kamu bisa mencari informasi di situs Bursa Efek Indonesia www.idx.co.id. Di situ setiap emiten menyampaikan informasi mengenai suatu rencana aksi korporasi. Biasanya bila tidak benar, akan ada bantahan di situs IDX ini.

BEI sendiri menetapkan sistem auto reject untuk saham yang bergerak naik dan turun secara drastis. Jika telah mencapai batas auto reject, saham tersebut akan terkena sanksi atau dilarang diperdagangkan di pasar.

Semoga informasi ini bisa membantu investor muda lebih cermat dalam berinvestasi, khususnya di bursa saham. Selamat mencoba!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu