Jika reksa dana saham kamu menghasilkan pengembalian investasi yang lebih rendah daripada yang diperkirakan, kamu mungkin tergoda untuk mencairkan unit dana kamu dan menginvestasikan uang di tempat lain. Tingkat pengembalian dana di tempat lain mungkin terlihat menarik, tetapi tetap saja kamu harus hati-hati sebelum menjual reksa dana.

Baca juga: Wirausaha Muda Putri Tanjung 

Berikut ini beberapa pertimbangan yang bisa menjadi alasan untuk mencairkan unit reksa dana sahammu:

1. Reksa dana saham tidak dikelola secara aktif

Ketika kamu memasukkan uang kamu ke dalam reksa dana saham, berarti kamu mempercayakan dana untuk dikelola pada pihak yang dianggap ahli dan memiliki pengetahuan tentang pasar modal sehingga kamu berharap mendapat imbal hasil memuaskan yang sesuai dengan tujuan investasi kamu.

Lihat laporan triwulan atau tahunan reksa dana saham. Jika imbal hasil reksa dana saham hanya mengikuti kinerja indeks atau patokan tertentu, hal ini menunjukkan reksa dana saham kamu kurang dikelola secara aktif. Apalagi jika kinerja reksa dana kamu berada di bawah performa indeks atau kinerja rata-rata reksa dana yang ada di Indonesia, maka kamu bisa pertimbangkan menjual reksa dana dan dialihkan dananya ke manajer investasi lain yang bisa memberi imbal hasil lebih besar. Sebelum memindahkan dana ke manajer investasi baru, cari tahu dulu pengalaman dan reputasinya.

2. Imbal hasil terus menerus jeblok

Mungkin pengertian “kinerja buruk” berbeda persepsinya antara satu investor ke investor lain. Jika pengembalian reksa dana buruk selama periode kurang dari setahun, melepas kepemilikan reksa dana kamu dalam portofolio mungkin bukan ide terbaik karena bisa jadi hanya mengalami fluktuasi jangka pendek saja.

Namun, jika kamu telah melihat kinerja yang sangat buruk selama dua tahun terakhir atau lebih, mungkin sudah saatnya untuk menjual reksa dana kamu walaupun saat dicairkan kamu menjadi rugi.

Ukuran kinerja baik atau buruk adalah saat kamu membandingkannya dengan reksa dana sejenis yang dimiliki manajer investasi lainnya. Misalnya, reksa dana pendapatan tetap dibandingkan dengan reksa dana pendapatan tetap produk manajer investasi pesaing. Kamu bisa melihat perbandingan ini di situs khusus reksa dana, seperti Bareksa atau Infovesta. Kinerja komparatif yang sangat buruk atau jomplang dengan kinerja terbaik reksa dana sejenis menjadi sinyal untuk menjual reksa dana.

3. Ingin diversifikasi aset

Jika kamu memiliki rencana realokasi aset, kamu mungkin perlu sesekali menyeimbangkan kembali portofolio kamu. Misalnya, kamu berpendapat alokasi aset investasi kamu saat ini lebih berat komposisinya di reksa dana saham sementara kamu ingin membeli obligasi yang bersifat lebih stabil daripada saham.

4. Perubahan strategi

Terkadang manajer investasi mengubah strategi investasi yang akan memengaruhi arah investasi. Jika fund manager kamu tiba-tiba mulai berinvestasi dalam instrumen keuangan yang tidak mencerminkan tujuan asli reksa dana seperti yang tertera di prospektus, kamu dapat mengevaluasi kembali reksa dana yang kamu miliki.

Misalnya, di prospektus disebutkan dana diinvestasikan di saham kaptalisasi kecil dan menengah namun ternyata dialihkan di saham-saham kapitalisasi besar, yang tentu akan ikut mengubah arah dan risiko reksa dana tersebut.

5. Dana kelolaan menjadi terlalu besar

Dalam beberapa kasus, pertumbuhan dana yang cepat dapat menghambat kinerja reksa dana, khususnya reksa dana saham. Semakin besar dana kelolaannya, ternyata membuat manajer investasi semakin sulit untuk memindahkan aset secara efektif.

Seiring dengan kenaikan dana kelolaan, jumlah saham dalam portofolio serta biaya transaksi ikut meningkat. Manajer investasi pun harus mengatur volume transaksi saham sedemikian rupa agar tidak terlalu besar dan menggoyang pasar.

Akibatnya, kinerja reksa dana menjadi “kurang lincah” dan tidak memberikan imbal hasil seperti yang diharapkan. Bila hal ini terjadi, kamu bisa mempertimbangkan memindahkan investasimu ke reksa dana lain atau produk keuangan lainnya.

6. Butuh dana tunai

Terakhir, kamu bisa mencairkan reksa dana karena memang sedang butuh uang tunai untuk keperluan mendadak yang tidak bisa ditutupi dengan uang yang ada di tabungan.

Namun sebelum sampai ke dalam keadaan terpaksa ini, kamu bisa mempertimbangkan pinjaman lunak atau bunga rendah karena mencairkan investasi berarti mengganggu tujuan keuangan jangka panjang. Usahakan mencairkan seperlunya saja sesuai kebutuhan, tidak seluruh unit reksa dana kamu jual. Bila ada dana, segera ganti jumlah reksa dana yang dicairkan.

Baca juga: Puyo Pimpin Pasar Dessert Pudding

Dengan banyak mempelajari info soal reksa dana, tentu pertimbanganmu akan makin matang dan tahu kapan saat yang tepat untuk mencairkan dana. Selamat berinvestasi!