Pernahkah kamu ditawari berinvestasi dan diiming-imingi keuntungan yang besar dalam waktu yang pendek? Hati-hati. Bisa-bisa yang ditawari itu adalah investasi bodong alias investasi yang berisi tipuan belaka dan tentunya bukan termasuk golongan investasi aman!

Baca juga: Bisnis Vanilla Hijab, Attina Maulina

Investasi di Indonesia memang makin diminati sejalan dengan kesadaran orang untuk berinvestasi ketimbang dan menjadi bisnis yang menguntungkan ketimbang membiarkan dana mereka tak terpakai. Sayangnya fenomena ini digunakan oleh segelintir oknum tak bertanggung jawab untuk mengeruk keuntungan.

Untungnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) langsung bertindak untuk menghentikan aktivitas entitas investasi yang dianggap tidak aman. Namun seringkali entitas itu ditutup setelah menimbulkan korban dan masyarakat melakukan pengaduan.

Kasus investasi bodong yang pernah heboh di Indonesia misalnya kasus Pandawa Grup yang sukses menipu 1.000 investor dengan dana yang dibawa kabur sebesar Rp500 milyar di tahun 2016. Kelompok ini menawarkan investasi dengan keuntungan 10 persen per bulan. Pelaku sempat kabur, hingga akhirnya berhasil diringkus polisi Februari 2017 lalu. Tidak tanggung-tanggung, ada 19 orang yang dijadikan tersangka.

Nah, berikut ini lima jenis investasi tidak aman yang banyak terjadi dan mungkin kerap kamu temui:

1. Menggandakan uang

Kasus menggandakan uang ini paling sering terjadi. Masih banyak orang yang percaya bahwa uang mereka bisa digandakan berkali-kali lipat, padahal itu hanya tipu muslihat.

Memang pada awalnya, kegiatan menggandakan uang dilakukan sangat meyakinkan untuk membuat calon investornya yakin dan mau berinvestasi dengan nominal besar. Dengan mengatakan makin besar dana yang disetorkan, keuntungan yang diperoleh juga makin besar membuat banyak orang tergiur dan terjebak hingga akhirnya bukan keuntungan yang didapat tapi uang yang hilang.

Kasus investasi menggandakan uang paling heboh adalah yang dilakukan Dimas Kanjeng atau Taat Pribadi beberapa waktu lalu. Banyak korban yang jatuh dari investasi yang dilakukannya, tak cuma orang berpendidikan rendah atau yang pengetahuannya soal keuangan minim, tapi cendekiawan sekelas Marwah Daud Ibrahim, seorang doktor bidang komunikasi internasional dari American University pun jadi korbannya.

2. Investasi emas palsu

Salah satu produk investasi yang paling diminati adalah emas. Itu karena emas adalah barang investasi yang cukup menguntungkan lantaran harganya cenderung meningkat setiap tahunnya.

Karena peminatnya yang banyak dan mudah dijangkau oleh banyak kalangan menjadikan perusahaan tak bertanggung jawab memanfaatkan mengambil keuntungan dengan cara tak halal. Salah satu kasus investasi emas bodong adalah Raihan Jewellery yang berhasil menipu uang nasabahnya hingga belasan triliun rupiah.

Biasanya model emas yang ditawarkan beragam, yakni emas batangan, emas perhiasan hingga koin emas. Namun emas tersebut cuma terbuat dari logam kuningan alias emas palsu. Emas yang ditawarkan lebih murah dari harga pasaran. Ini adalah taktik mereka untuk menjerat calon pembelinya.

3. Investasi MLM tak berizin

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pernah menyebutkan bahwa produk investasi bodong alias tak berizin paling banyak ditemukan adalah multi level marketing atau MLM dengan skema ponzi (memberikan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayar investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang didapat dari individu atau perusahaan). MLM tak berizin dengan skema Ponzi ini tak cuma menjual produk atau jasa tapi juga kepesertaan.

Salah satu contoh perusahaan yang menggunakan model MLM dengan skema Ponzi adalah First Travel. Perusahaan penyedia jasa perjalanan haji dan umrah tersebut menggaet agen sebagai investor dan memberikan keuntungan kepada investor gelombang pertama dari uang investor gelombang kedua. Keuntungan untuk investor gelombang kedua dari investor gelombang ketiga dan begitu seterusnya secara berulang.

Begitu juga ketika First Travel memberangkatkan jemaah gelombang pertama dengan menggunakan uang jemaah gelombang berikutnya. Pada akhirnya, kondisi keuangannya menjadi tak sehat, di mana uang mereka tak cukup untuk memberikan keuntungan atau memberangkatkan ribuan calon jemaah haji.

Karena itu, teliti dan jelilah jika ingin terjun ke investasi dengan model MLM. Pastikan bahwa perusahaan MLM itu memiliki Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL) dan izin edar produk dari BPOM, Depkes dan sebagainya. Skema bisnis ditekankan pada penjualan produk atau jasa, bukan pada peringkat.

Selain itu, pemberian bonus atau komisi berdasarkan penjualan produk atau jasa, bukan pada jumlah rekrutmen. Anggota atau member masih mendapatkan penghasilan meski tanpa melakukan rekrutmen, ada sistem pengembalian produk yang rasional, dan harga produk atau jasa yang ditawarkan wajar di pasaran.

4. Uang digital ilegal

Uang digital menjadi salah satu produk investasi baru yang cukup diminati lantaran bisa memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun karena belum ada regulasinya di Tanah Air, membuat praktik investasi ilegal berkedok uang digital banyak beredar.

Meski di Indonesia mata uang digital tak diakui sebagai mata uang dan alat pembayaran karena tak ada otoritas yang mengaturnya, namun Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) berencana akan membuat regulasi terkait perdagangan uang digital sebagai komoditas di Indonesia.

Karena produk ini masih baru, kamu perlu hati-hati untuk investasi di uang digital. Untuk membedakan produk uang digital itu abal-abal atau asli, kamu bisa mengeceknya di coinmarketcap.com dan masuk dalam Top 100.

Baca juga: Jatuh Bangun Bisnis Yasa Singgih

5. Investasi tidak aman terkait pinjaman dengan untung besar

Beberapa orang tergiur memberikan pinjaman dalam jumlah besar karena peminjamnya menawarkan keuntungan menggiurkan. Ini menjadi salah satu praktik investasi yang berisiko jika dilakukan antar individu atau individu dengan perusahaan yang tak berizin.

Biasanya peminjam memiliki alasan yang tampak kuat dan meyakinkan sedang membutuhkan pinjaman banyak untuk mendapatkan sesuatu yang menghasilkan keuntungan besar. Bahkan, mereka rela membuat dokumen palsu untuk bisa meyakinkan calon korbannya.

Salah satu contoh kasus adalah yang menimpa Ratna Sarumpaet. Dia tertipu Rp50 juta oleh kawanan komplotan penipu dengan modus pencairan uang-raja-raja nusantara terdahulu sebesar Rp23 triliun. Uang tersebut diakui tersimpan di Bank HSBC dan ABN Amro. Pelaku mengaku sebagai pejabat penting, membutuhkan sejumlah uang untuk mencairkan uang raja tersebut dan membuat dokumen palsu. Selain Ratna yang dijanjikan akan diberikan imbal hasil menguntungkan jika uang sudah cair, ada korban lain yang tertipu hampir Rp1 miliar.

Agar terhindar dari kasus investasi bodong semacam ini, sebaiknya kamu berinvestasi ke perusahaan investasi aman yang jelas kredibilitasnya dan diakui oleh OJK dan Bapebbti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi). Lebih baik mencegah daripada bermasalah kelak.