Ada pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, yang menandakan bahwa suatu bakat dan ketertarikan seseorang bisa menurun dari lingkungan terdekatnya, semisal dari orang tua. Hal ini sama terjadi pada kisah sukses Ratna Dewi Katarina Panudiana Kuhn, yang bersama dengan kakak kandungnya, Surya Ayu Paulina Panudiana Kuhn, berhasil membesarkan merek fashion Paulina Katarina.

Baca juga: Adawiyah Riwan, Sukses Berbisnis Tanaman Hias

Bagi keduanya, bisnis garmen bukanlah hal baru. Sejak masih balita, mereka kerap bermain di pabrik garmen milik orang tuanya di Bali. “Kami dulu seperti melupakan kehadiran boneka dan mainan anak pada zamannya, dan lebih memilih bermain-main dengan gulungan kain, benang, kancing, dan peralatan jahit lainnya,” ujar Ratna melalui email.

Sang ayah, bersama dengan istrinya yang merupakan keturunan Jerman, membuka sebuah toko kecil bernama CV Diana Ayu di kawasan Kuta ketika kembali ke Bali pada 1981. Menyasar turis sebagai target konsumen, lambat laun sukses berhasil diraih. Orang tua Ratna kemudian bekerja sama dengan penjahit lokal dan akhirnya membuka pabrik garmen bernama PT Dianatina Ayu Garment.

“Sering membantu orang tua sejak kecil membuat kami semakin paham dengan bisnis garmen. Terkadang juga kami menggantikan peran orang tua dalam beberapa hal, seolah-olah saya seperti orang luar yang belajar usaha dengan bekerja pada seorang pengusaha, yang merupakan ayah saya sendiri,” kelakar Ratna.

Setelah Ratna dan kakaknya kembali ke Bali selepas kuliah di Australia, mereka memutuskan untuk meneruskan operasional bisnis milik keluarganya, yang telah berkembang hingga ke jasa kargo dan properti. Awalnya Ratna justru ditempatkan sebagai pimpinan di perusahaan kargo. Bertahan hanya dua tahun, Ratna memilih melanjutkan studi pasca-sarjana di Monash University, mengambil gelar master pada disiplin ilmu Diplomasi dan Perdagangan Internasional.

Setelah lulus tahun 2011, Ratna memutuskan kembali ke Bali, namun tidak lagi berlabuh ke bisnis kargo. Ia memilih bergabung dengan kakaknya di bidang garmen. “Saya tidak bisa membohongi diri sendiri, saya lebih tertarik ke bidang fashion,” ujar Ratna.

Menyegarkan Bisnis Keluarga

Oleh karena itu meski sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan fashion, Ratna dan sang kakak mantap mengembangkan bisnis fashion keluarga mereka. Namun alih-alih sekadar meneruskan bisnis garmen konvensional, keduanya kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah label fashion bernama Paulina Katarina, yang merujuk pada penggabungan kedua nama mereka.

“Di garmen, kami lebih sering memproduksi pakaian untuk merek lain, dan ini sejatinya merupakan salah satu alasan mengapa usaha orang tua kami berisiko meredup,” jelasnya. Menurut Ratna, persaingan garmen di Bali tidak seberapa besar, namun justru kompetitor dari luar Indonesia yang membuat mereka jungkir balik. Untuk diketahui, pangsa pasar PT Dianatina Ayu Garment sebagian besar merupakan ekspor, yang merupakan pesanan dari banyak merek global.

Industri garmen di negara berkembang lain kerap menawarkan harga yang lebih murah sehingga klien global mengalihkan pesanan mereka dari pabrik keluarga Ratna. Kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) di Bali juga membuat perusahaan garmen keluarga Ratna tidak bisa menekan harga produksi.

“Dengan mendirikan sebuah merek, maka usaha garmen keluarga kami akan terangkat. Ada nilai lebih pada setiap potong pakaian yang kami produksi, jika diberi label dan dirancang dengan kreativitas tinggi,” lanjutnya optimis.

Tidak Sebatas di Bali

Sejak diluncurkan pada awal 2012, Ratna mengaku sudah mampu memasok produk-produk Paulina Katarina ke puluhan butik di seputar Seminyak, Oberoi, Kuta, serta mulai diekspor ke Singapura dan Australia dengan sistem konsinyasi. Di label Paulina Katarina, Ratna berperan sebagai Co-Founder dan Creative Director. Tugasnya bertanggung jawab secara in-house, mulai dari pembuatan pola hingga produksi.

“Sebagai Creative Director, saya bertanggung jawab menyiapkan konsep desain. Visi kreatif, tampilan koleksi dan citra brand ini adalah tanggung jawab saya. Bekerjasama langsung dengan tim di pabrik, tugas utama saya adalah menerjemahkan seluruh ide desain, meliputi gambar teknik, pola, sampai ke pemilihan bahan,” ujar Ratna menjelaskan.

Lebih dari itu, Ratna juga bertugas memastikan semua ide tersebut dikomunikasikan dengan baik ke semua lini produksi, termasuk berkonsultasi dengan pemasaran dan finansial yang lebih banyak diurus sang kakak. Perjalanan merek Paulina Katarina bukan tanpa jatuh bangun. Meski didukung oleh perusahaan garmen orangtuanya yang telah eksis lebih dari 30 tahun, namun tetap saja membutuhkan usaha ekstra untuk mengenalkannya ke konsumen.

Menurut Ratna, meskipun Bali terlihat menjanjikan bagi pasar fashion high-street terkait posisinya sebagai destinasi liburan kelas dunia, namun persaingan tetaplah sengit. “Bali memiliki atmosfer yang cocok untuk perkembangan beragam kreativitas. Ada banyak peluang konsumen di sini, tapi kami tidak sebatas ingin membebaskan ide-ide di kepala. Kami ingin menyelaraskannya dengan tren pasar, kritik dan saran dari pelanggan, serta tentu saja peluang bisnis. Untuk itulah kami berpikir ke depan, tidak sebatas bermain di ceruk pasar Bali,” jelasnya.

Karakter Tropis

Visi Ratna dan kakaknya jelas, ingin menjadikan label Paulina Katarina sebagai opsi berpakaian yang lebih dari sekadar nyaman, namun juga membebaskan gerak dinamis pemakainya. Karakter tropis menjadi dasar dari hampir seluruh koleksinya sejauh ini, di mana material bertekstur ringan diolah dengan penuh kreativitas menjadi visual dekonstruktif, namun tetap menampikan sisi manis dan elegan.

Berbicara tentang target konsumen, Ratna berujar bahwa merek Paulina Katarina awalnya diarahkan untuk pasar internasional. Dimulai dari sistem konsinyasi di beberapa rekanan toko di Seminyak dan Oberoi –dua kawasan yang paing banyak dikunjungi turis premium di Bali– popularitas mereka lambat laun dikenal luas, dan mulai menjaring konsumen yang mengontak langsung untuk berbelanja.

Dari situ, Paulina Katarina mendapat jejaring distribusi ke luar negeri, yang dimulai dari Singapura, dan kini terus berkembang hingga Australia dan Dubai. Namun, diakuinya, peran teknologi semakin mempermudah pemasaran produk Paulina Katarina, meski hingga kini belum memiliki toko offline. Lewat situs resmi dan media sosial, merek ini berhasil menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk dari dalam negeri.

Baca juga: Dinamika Membangun Start-up Ala Fransiska Hadiwidjana, 

“Lebih dari setahun terakhir, saya melihat perkembangan di Indonesia ternyata naik cukup signifikan, semakin banyak konsumen produk Paulina Katarina berasal dari pasar lokal,” pungkasnya. Saat ini, Paulina Katarina tengah merampungkan butik perdananya yang berlokasi di Jalan Kayu Jati, Kuta Bali. Selain itu, menurut Ratna, label tersebut juga akan memperluas pasar luar negeri dengan mengikuti beberapa pekan mode internasional, seperti di Hong Kong dan Tokyo.