Industri kreatif disebut akan menjadi salah satu penyokong aktif perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Di sektor ini, yang banyak mengandalkan peran digital, khalayak mendapat peluang luas untuk menghasilkan begitu banyak karya tanpa terhalang oleh batasan ruang dan waktu.

Baca juga: Puyo Pimpin Pasar Dessert Pudding

Menyimak data dari laporan kinerja industri kreatif nasional oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada 2017, sektor industri kreatif mampu menyumbang 15,40 persen ke dalam pendapatan domestik bruto (PDB), yakni sebesar Rp922,59 triliun. Menariknya, pelaku industri kreatif banyak digerakkan oleh kalangan anak muda, yang memiliki ide-ide untuk menghasilkan deretan produk unik dengan harga jual yang kompetitif.

Salah satu anak muda yang jeli melihat peluang di industri kreatif adalah Cindy Novita, dengan produk andalannya berupa bantal karakter bertajuk Tootle. Ini merupakan bentuk kreativitas lebih lanjut terhadap kerajinan bantal, yang tidak lagi menargetkan fungsi sebagai alas kepala, namun juga bisa digunakan untuk dekorasi rumah dan buah tangan. Melalui Toottle, Cindy juga berkreasi menghasilkan bantal-bantal yang tidak hanya unik dan nyaman digunakan, melainkan memiliki tampilan segar yang membuat orang tertarik untuk meliriknya.

“Awalnya saya dan tim di Toottle ingin membuat boneka, karena berpikir bahwa bisa membentuknya jadi berbagai macam karakter lucu. Tapi setelah dipikir-pikir, targetnya cenderung spesifik. Kami melihat ada peluang di bantal, yang bisa dikreasikan menjadi beragam bentuk menarik dan bisa digunakan oleh siapapun tanpa memandang jenis kelamin ataupun usia,” jelas Cindy.

Bantal yang Lebih Personal

Memanfaatkan perkembangan pesat teknologi garmen, Cindy pun berkreasi dengan timnya untuk membuat bentuk-bentuk bantal yang unik mulai dari bentuk hewan, pahlawan super, hingga desain personal yang bisa didasarkan pada wajah konsumennya.

Toottle, yang merupakan kependekan dari Too Little, digagas bersama sahabatnya, Stephanie, pada pertengahan 2014. Keduanya telah lama ingin memiliki bisnis, namun belum ada keberanian untuk memulainya. “Kami sering ngobrol, cari ide mau buka usaha apa. Karena kami tidak mau terus bekerja jadi orang kantoran,” ujarnya sambil tertawa.

Dari sekian banyak obrolan, keduanya akhirnya memutuskan untuk membuat jasa pembuatan bantal. Alasannya sederhana, karena keduanya menggunakan bantal untuk banyak hal mulai dari penopang kepala saat tidur, menemani saat mengobrol, bahkan dibawa ke kantor untuk pelepas penat di tengah rutinitas kerja. “Kami berpikir untuk membuat bantal yang memiliki sisi emosional terhadap konsumennya, bantal yang bisa mengingatkan memori atau sosok yang berarti di kehidupan konsumen,” lanjutnya.

Desain Sesuai Pesanan

Keduanya pun menghimpun dana Rp1,5 juta sebagai modal awal untuk mendirikan Tootle. Dimulai dari menawarkan ke teman-temannya, lalu beralih ke promosi gerilya di media sosial, lambat laut nama Toottle kian dikenal dan konsumen pun mulai berdatangan.

“Produk kami lebih dari sekadar bantal karikatur, tapi juga menggabungkan unsur boneka yakni memiliki bentuk yang dapat didesain sesuai selera, serta juga bisa ditambahkan kaki dan tangan seperti visual manusia,” ujar Cindy. Untuk pemasarannya, hanya dilakukan via online, yakni melalui akun Instagram @toottle. Konsumen cukup mengontak nomor WhatsApp dan ID Line yang tertera di akun tersebut. Setelahnya, pemesan diminta untuk mengirimkan foto profil si penerima kado, serta memberikan informasi singkat seputar hal favorit atau hobi sosok terkait.

Selanjutnya, tim Toottle akan mendesain kartun wajah yang dipesan, lalu dicetak di atas kain velvet premium yang lembut. Cetakan akan berbentuk kantong semi persegi dengan tambahan kaki dan tangan, kemudian diisi dakron (sejenis serat tekstil sintetis) dan dirapikan rekanan penjahit Tootle.

Hampir Mirip 100%

Toottle menyesuaikan betul detail desain dengan pesanan konsumennya. Komposisi visual pada bantal sebagian besar berupa wajah, ditambah bagian kecil badan dengan dua tangan dan dua kaki.

Untuk jasa pesanan khusus, Cindy mengklaim bahwa Tootle dapat melayani bentuk-bentuk yang diinginkan konsumen. Dia mengibaratkan jasanya layaknya penjahit, yang membuat pesanan pakaian sesuai dengan ukuran masing-masing pelanggannya.

“Kami juga menerima permintaan khusus untuk tampilan yang sangat detail, mulai dari visual aksesori, gambar tato, hingga warna cat kuku. Kami upayakan mendekati seratus persen mirip,” ujarnya mantap. Karena keunikan itu, pamor Tootle pun mulai dikenal luas di kalangan warganet. Berkat promosi di media sosial, dan juga ulasan positif dari konsumen, membuat omzetnya kini bisa mencapai rata-rata di atas Rp40 juta per bulan.

Cindy dan Stephanie mengaku memiliki ketertarikan pada desain grafis sejak masih berstatus sebagai pegawai kantoran, namun tidak punya latar pendidikan formal di bidang terkait. Seringnya berhubungan dengan tim kerja di bagian rancang visual, membuat keduanya lambat laun memahami apa itu komposisi gambar, dan merealisasikan hasil goresan digital menjadi produk kriya cetak.

Ditambah lagi, keduanya sempat beberapa kali membuat kriya mandiri untuk dijadikan aksesori di meja kantor dan pajangan rumah. Bentuknya beragam, seperti bantal dan selimut, yang kemudian mengundang pujian dari teman dan rekan kerja.

“Tanggapan positif dari orang lain membuat kami terpacu untuk menciptakan produk aksesori visual yang unik sekaligus fungsional. Kami masih terus belajar untuk menjadi lebih baik lagi, sehingga konsumen akan selalu puas dengan produk-produk yang kami buat,” jelas Cindy.

Sempat Ditiru Pesaing

Seperti bisnis pada umumnya, apa yang dikerjakan oleh Cindy dan Stephanie di Toottle juga sempat terkendala beberapa hal. Keduanya pernah kesulitan mencari sumber daya manusia di kala pesanan produksi terus berdatangan.

“Karena tidak bisa sepenuhnya melakukan produksi seorang diri, kami pun harus mencari desainer yang cocok, yang kami gembleng dari awal untuk bisa menyesuaikan karakter produk Toottle. Begitu juga rekanan bisnis lainnya, mulai dari penjahit sampai pemasok bahan baku, butuh waktu untuk menemukan yang cocok,” jelas Cindy.

Toottle juga sempat dihadapkan dengan kehadiran produk tiruan yang mendompleng pamornya. Namun, hal tersebut bisa diatasi karena fokus pada jasa desain khusus yang personal, yang sebisa mungkin dibuat sesuai dengan permintaan konsumen, sehingga menciptakan kesan yang sulit dilupakan.”Pastinya juga kami menjaga kualitas, semua (produk) akan kami teliti dengan saksama sebelum dikirim ke konsumen,” tegas Cindy.

Penjualan di Luar Negeri

Dia memaparkan saat ini Toottle telah menerima pesanan dari banyak wilayah di seluruh Indonesia dan beberapa dari luar negeri.

Kini, setelah empat tahun berlalu, Toottle mulai melebarkan sayap usaha ke jasa pembuatan t-shirt dan aksesori berdesain personal, yang memiliki alur pemesanan hampir serupa dengan produk bantalnya.

Ke depannya, Cindy akan terus mempertahankan karakter produk Toottle, sekaligus mengembangkan potensi reseller produk-produknya di luar negeri.

Baca juga: Vanilla Hijab Ala Atina Maulina

“Saat ini kami sudah bermitra dengan salah satu rekanan di Australia dan sejauh ini cukup bagus prospeknya,” pungkas Cindy.