Dari passion yang kita miliki, kadang tak disangka bisa bermanfaat untuk banyak orang. Hal tersebut turut dialami oleh Audrey Maximilian Herli.

Baca juga: Banting Harga Sale Stock

Ketertarikan Maxi — sapaan akrabnya — pada ilmu komputer membuatnya kuliah di program studi sistem informasi di Universitas Airlangga, Surabaya. Ketika itu gairah industri startup tanah air tengah berkembang pesat. Di sela-sela waktu kuliah, Maxi memperdalam pengetahuan tentang ilmu programming dan hal-hal yang terkait dengannya. Impiannya pun serupa dengan teman-temannya yang mengambil studi serupa, yakni bisa menciptakan karya digital yang monumental sekaligus fungsional.

Namun, ia tidak mau mengekor yang sudah ada, meskipun peluang untuk memperbaiki sistem yang ada, bisa menjadikannya lebih maju dan mampu merebut pasar yang ada. Maxi ingin sesuatu yang baru, yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tapi hampir tidak pernah digarap oleh komunitas startup.

Ia pun mencoba mengamati kehidupan di sekitarnya dan menyadari bahwa banyak orang senang berkumpul tidak hanya untuk bertukar kabar, tetapi juga sebagai ajang keluh kesah. Meski tidak selalu solutif, namun seringkali obrolan “curhat” bisa jadi obat penenang di kala gundah.

Maxi melihat hal ini sebagai peluang, dengan mengubah perspektif curhat ke medium yang lebih profesional, yakni konseling atau curhat kepada psikolog. Namun, ia juga menyadari bahwa budaya konseling masih rendah di Indonesia, sehingga akan menjadi tantangan besar untuk memasyarakatkan hal itu, sekaligus membujuk khalayak lebih berani berbicara.

Melihat Kebutuhan Curhat

Salah satu fakta yang mendasari kepedulian Maxi adalah data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Disebutkan bahwa sedikitnya terdapat sekitar 11,6 persen, atau 17,4 juta orang, mengalami gangguan mental emosional berupa kecemasan dan depresi. Jumlah tersebut dihitung dari jumlah penduduk Indonesia berusia aktif kala itu, yang mencapai 150 juta jiwa. Hal tersebut kemudian menginspirasi Maxi untuk menciptakan Riliv, sebuah aplikasi “curhat” yang memberikan kesempatan pengguna berkonsultasi one-on-one dengan mitra psikolog profesional secara anonim.

“Suatu hari, ketika membuka Twitter dan Facebook, saya menyadari bahwa banyak warganet yang suka menuliskan masalahnya di sana. Muncul ide untuk membuat wadah, di mana setiap orang bisa dengan nyaman menceritakan masalah mereka dan mendapat tanggapan positif dari orang-orang yang punya latar belakang psikologi. Interaksi sesama user (pasien dan psikolog) ini bisa saling memberikan dukungan positif,” jelas Maxi.

“Melalui Riliv, saya ingin bisa mengubah kehidupan sosial dan kesehatan mental masyarakat menjadi lebih baik melalui teknologi informasi,” lanjutnya optimis.

Jalan Terbuka dari Kompetisi

Menggandeng kakak kandungnya, Audy Christopher Herli, dan teman kuliah satu jurusan, Fachrian Anugerah, Maxi membangun Riliv pertama kali untuk diikutkan kompetisi Startup Surabaya pada Mei 2015. Meski tidak memiliki latar belakang psikologi, namun ketiganya mantap memanfaatkan kemampuan membuat program sebagai bagian dari kontribusi menyehatkan mental masyarakat.

“Pada satu sisi, kesehatan mental bukanlah hal yang diprioritaskan di Indonesia. Di lain pihak, banyak masyarakat secara tidak sadar gemar menyampaikan curhatan di media sosial yang berisiko disalahgunakan, seperti menjadi bahan candaan atau hal-hal buruk lainnya. Ini akan membentuk lingkaran masalah yang tidak ada habisnya dan kemudian memengaruhi kehidupan mereka. Inilah target masalah yang ingin kami carikan solusi melalui Riliv,” papar Maxi.

Oleh karena itu, setelah memenangkan kompetisi dan mendapat hadiah mentorship dari Google Jepang maka pada 9 Agustus 2015, Riliv.co pun resmi dirilis. “Awalnya, tidak ada psikolog profesional yang mau bergabung. Hanya lima orang mahasiswa psikologi yang mau menjadi mitra konsultasi,” ungkap pria kelahiran 13 Oktober 1992 itu.

Di Jepang, konsep yang diajukan oleh Riliv dinilai inovatif dan mengusung semangat teknologi berkelanjutan. Atas ide brilian tersebut, Audrey dan timnya diganjar penghargaan Google Android One 2015, yang seketika menaikkan daya tawar mereka terhadap pengajuan mitra psikolog.

Tidak butuh waktu lama sejak itu bagi Riliv untuk menerima permintaan bergabung dari para psikolog profesional, yang secara tidak langsung juga meningkatkan peluang bisnisnya. Total ada lebih dari 40 orang terdaftar sebagai mitra psikolog, yang sebagian besar di antaranya merupakan hasil kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) cabang Jawa Timur.

Curhat Real Time dengan Psikolog

Karena popularitas meningkat, Riliv pun menerapkan seleksi lebih ketat terhadap mitra psikolognya guna menjaga profesionalitas. Untuk rekanan mahasiswa, persyaratannya harus mahasiswa jurusan ilmu psikologi yang minimal telah lulus mata kuliah konseling, atau serendah-rendahnya berada di semester lima.”Sedangkan untuk psikolog, kami akan mensyaratkan ijazah resmi yang akan diverifikasi oleh bantuan HIMPSI,” ujar Maxi.

Riliv memfasilitasi penggunanya untuk berkonsultasi langsung tentang masalah pribadi secara gratis, baik kepada mahasiswa psikologi hingga psikolog profesional. Terdapat enam kategori yang disediakan Riliv yakni konsultasi tentang cinta, karier, pendidikan, keluarga, sosial, hingga gangguan mental.

“Pengguna bisa menggunakan aplikasi ini secara anonim jika malu bercerita langsung. Pengguna juga bisa memilih dengan psikolog mana mereka ingin berkonsultasi, yang tanggapannya akan dikirim kurang dari 24 jam,” jelas Maxi.

Riliv dapat diunduh di Google Playstore untuk pengguna Android dan di Apple App Store untuk pemilik smartphone berbasis sistem iOS. Maxi mengklaim saat ini Riliv telah menangani hampir 15.000 konsultasi oleh sekitar 8.000-an pengguna melalui teks, telepon, ataupun video call.

Ingin Ubah Stigma Masyarakat

Tim Riliv menjamin kerahasiaan data dari seluruh pengguna Riliv melalui proses verifikasi ketat, guna mencegah pencurian informasi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Maxi juga menegaskan bahwa hanya orang-orang tertentu saja di timnya yang memiliki akses ke server. “Kami tidak menyimpan identitas pribadi pengguna selain email,” tegasnya.

Menurut Maxi, Riliv tidak hanya dibuat sebagai wadah untuk curhat, melainkan juga sebagai sarana untuk mengubah stigma masyarakat terhadap kegiatan konseling. Ia berharap nantinya orang-orang tidak akan ragu pergi ke psikolog dan menghapus anggapan bahwa kegiatan terkait hanya untuk orang dengan gangguan mental saja.

Adapun promosi Riliv sejauh ini banyak disokong oleh partisipasi di pameran startup dan ekonomi kreatif, iklan di media sosial (terutama Instagram dan Facebook), serta beberapa kerja sama dengan beberapa publikasi.

Awareness melalui pencarian yang berkaitan dengan kata kunci ‘psikologi’ dan ‘curhat’ di PlayStore juga membuat nama Riliv cukup dikenal oleh pengguna smartphone,” jelas Maxi. Ke depannya, aplikasi curhat online ini akan dikembangkan lebih luas secara nasional, tidak hanya di Jawa Timur yang menjadi basis pengembang aplikasi ini. Selain itu, potensi bisnisnya turut dikembangkan melalui penawaran paket konseling intensif.

Baca juga: Bisnis Retail, Paulina Katarina

“Untuk mereka yang ingin curhat lebih jauh, kami menyediakan opsi koin ekstra dan opsi bertemu langsung dengan psikolog profesional. Harga yang ditawarkan juga kompetitif, cocok untuk pengguna milenial,” tutur Maxi.