Setiap investor memiliki strategi investasinya sendiri. Pilihan strategi investasi ini berdasarkan ketersediaan modal, ketersediaan waktu, toleransi risiko dan pengetahuannya untuk mendapatkan investasi menguntungkan.

Baca juga: Resep Berinvestasi untuk Kamu yang Sibuk

Salah satu strategi investasi untuk meminimalkan risiko investasi dalam instrumen saham atau reksa dana adalah strategi dollar cost averaging (DCA) dan cocok untuk mereka yang baru belajar investasi saham atau reksa dana.

Dalam strategi ini investor menyisihkan dana dalam jumlah sama untuk membeli saham atau unit reksa dana secara berkala, bisa seminggu sekali atau setiap bulan. Karena investasinya bersifat rutin atau berkala, maka cara ini sesuai untuk orang yang memiliki pendapatan tetap per bulan seperti karyawan.

Kebalikan dari dollar cost averaging adalah investasi secara sekaligus di depan yang dikenal dengan istilah investasi lump sum.

Contoh bagaimana metode dollar cost averaging disebut sebagai investasi menguntungkan karena meminimalkan risiko bisa dilihat pada kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun 2008 saat terjadi krisis global.

Pada tahun 2008 IHSG memberi imbal hasil atau return -50,64%. Jika investor membeli unit reksa dana langsung dengan nominal Rp100 juta di awal tahun, maka pada akhir tahun investasinya tinggal Rp49,36 juta. Hasil berbeda didapat investor yang menggunakan strategi dollar cost averaging dengan menyetor dana Rp8,33 juta per bulan (total Rp100 juta setahun). Dengan strategi ini, investor hanya merugi 33,72% dan dana investasi pada akhir tahun menjadi Rp66,27 juta.

Strategi lump sum akan memberikan hasil lebih baik saat pasar sedang bullish. Tahun 2014 pasar sedang dilanda optimisme karena terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden atau dikenal dengan Jokowi Effect. IHSG kala itu memberi return 22,29%. Jika investor membeli unit reksa dana langsung dengan nominal Rp100 juta di awal tahun, maka di akhir tahun investasinya bertambah menjadi Rp122,29 juta. Hasil lebih kecil didapat investor yang menggunakan strategi dollar cost averaging karena hanya mendapat return7,62% dan dana investasi pada akhir tahun menjadi Rp107,61 juta.

Kelebihan strategi dollar cost averaging:

  • Ketika harga saham atau unit reksa dana mengalami penurunan maka investor tersebut dapat membeli saham atau unit reksa dana saham dengan jumlah yang lebih banyak.
  • Tidak perlu repot menyetor tiap bulan karena bisa menggunakan fasilitas autodebet pada rekening bank. Biasanya autodebet ini berlaku selama setahun dan kita harus memperpanjang dengan mengajukan permintaan autodebet ke bank atau akan berhenti otomatis. Pihak manajer investasi biasanya akan menyampaikan pada investor jika periode autodebet telah selesai dan menanyakan apakah kita akan melanjutkannya atau melakukan top up secara manual.

Kekurangan strategi dollar cost averaging:

  • Jika terjadi kenaikan harga saham maka jumlah saham atau unit reksa dana yang dapat dibeli akan lebih sedikit. Ketika pasar sedang mengalami bullish strategi ini malah mengurangi keuntungan dalam berinvestasi. Semakin tinggi harga saham maka semakin sedikit saham yang dapat dibeli sehingga imbal hasil pun akan semakin sedikit. Apalagi jika pasar mengalami tren kenaikan secara terus menerus, strategi dollar cost averaging akan memberikan imbal hasil yang lebih sedikit dibandingkan lump sum dengan harga awal yang rendah.
  • Jika investor memantau pasar saham setiap hari dan kebetulan ada saham favorit atau bluechipterdiskon sangat besar namun tanggal pendebetan bukan hari itu, entah sudah terlewat atau masih beberapa hari lagi, maka dia akan melewatkan kesempatan emas tersebut karena keesokan harinya harga saham itu sudah naik lagi. Hal demikian juga bisa terjadi di reksa dana, yaitu saat nilai aktiva bersih (NAB) per unitnya lebih murah, maka hilang kesempatan untuk mendapatkan unit reksa dana lebih banyak. Hal ini bisa dihindari jika investor melakukan trading saham setiap hari atau memantau NAB reksa dana tiap hari dan langsung melakukan top up.

Baca juga: Deposito yang Menguntungkan 

Setiap strategi investasi menguntungkan, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Sekarang tinggal kamu yang menentukan pilihan strategi investasi, disesuaikan dengan tujuan serta kondisi keuangan dan toleransimu terhadap risiko.