Prinsip dari berdagang atau trading adalah membeli di harga rendah dan menjual di harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan, demikian pula dengan trading saham. Sebelum memutuskan untuk membeli saham, kita perlu mengetahui nilai harga saham tersebut, apakah tergolong murah atau mahal. Bagaimana cara menilai harga saham? Salah satunya dengan metode Price Earning Ratio (PER). Simak, yuk, penjelasannya berikut ini.

Baca juga: Strategi Dollar Cost Averaging untuk Pemula

Dalam trading saham, sebuah saham dikatakan murah bukan dinilai dari nominal rupiahnya saja, tapi dilihat dari perbandingan harga dibandingkan kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan bagus yaitu bila konsisten mencetak laba, rajin melakukan ekspansi usaha, dan sering berinovasi untuk menyesuaikan perubahan zaman.

Investor pemula perlu alat ukur atau rumus untuk mengetahui apakah sebuah saham perusahaan sedang berada di harga rendah atau harga diskon, berdasarkan fundamental perusahaan. Dari perhitungan harga berdasarkan fundamental, ada beberapa rasio perhitungan yang digunakan oleh para analis dalam menganalisa harga wajar suatu saham, tapi yang umum dipakai, yaitu Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).

PER digunakan investor yang memang menginginkan berinvestasi di saham berdasarkan fundamental dan menjadikannya sebuah investasi menguntungkan dalam jangka panjang. Mengapa dalam jangka panjang? Karena mereka bukan tipikal investor spekulan yang berharap besok harga saham sudah naik lagi, kemudian dilepas.

Jika dilihat dari arti kata Price Earning Ratio berarti harga berbanding dengan laba (earning). Lalu laba yang bagaimana yang dimaksud? Yaitu laba bersih per saham atau earning per share (EPS). Harga saham yang dimaksud di sini adalah harga pasar saham tersebut saat perhitungan PER. Jadi, PER didapat dari harga pasar dibagi EPS. Untuk mengetahui nilai PER, kita harus tahu berapa EPS saham tersebut yang didapat dari laba bersih setahun dibagi dengan jumlah seluruh saham perusahaan.

Mari kita ambil sebuah contoh saham blue chip PT Astra International Tbk dengan kode ticker ASII. Pada perdagangan Kamis (24/1/2019) harga saham Astra ditutup di Rp8.425. Jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor perseroan sebanyak 40.483.553.140 saham. Sementara laba bersih tahun 2017 lalu Rp18,81 triliun (saat penulisan artikel laporan keuangan ASII tahun 2018 belum keluar).

Dengan demikian, jika laba bersih tahun 2017 dibagi jumlah seluruh saham didapat EPS sebesar 464. Dengan membagi harga saham 8.425 dengan EPS di angka 464, maka PER saham ASII saat ini di angka 18 kali. Saham ASII akan dikatakan semakin mahal jika PER semakin tinggi dari angka 18 kali.

Baca juga: Istilah Reksa Dana Bagi Investor Pemula

Kamu bisa memperoleh informasi harga saham terkini di internet. Sementara jumlah seluruh saham perusahaan bisa kamu temukan di situs resmi PT Bursa Efek Indonesia. Walau PER merupakan acuan untuk menilai murah atau mahalnya sebuah saham sebelum kamu mulai trading saham, namun ada beberapa poin perlu diingat dalam metode PER, yaitu:

  • PER saham yang rendah tidak selamanya bagus. Saham perusahaan yang sedang tidak bagus prospek bisnisnya sebaiknya dihindari, walau itu perusahaan besar dengan reputasi bagus. Pasalnya, harga saham kendati murah secara PER atau nominal rupiah bisa mengalami penurunan lebih dalam di waktu-waktu berikutnya. Misalnya saat harga batu bara dunia sedang anjlok dalam kurun waktu 2012-2015, harga saham perusahaan pertambangan besar yang sebelumnya tinggi dan jadi favorit investor mendapat sentimen negatif karena harga batu bara yang sedang anjlok. Bila kamu mengambilnya di awal masa kejatuhan harga batu bara, maka di bulan-bulan berikutnya harga sahamnya bisa semakin turun dan kamu merugi.

 

  • Untuk mengetahui apakah PER sebuah saham terlalu mahal, investor pemula bisa membandingkan PER saham lain yang berada di sektor yang sama. Misalnya, membandingkan PER saham bank BNI dengan PER saham Bank Mandiri.

 

  • Ada ketentuan tidak tertulis di kalangan analis trading saham bahwa jika PER sudah melewati angka 13 berarti saham tersebut sudah mahal. Namun kita harus melihat juga catatan saham tersebut sejak melantai di Bursa Efek Indonesia. Jika memang perusahaan bonafid dan terus menjadi buruan para investor maka tidak ada salahnya tetap membeli saham perusahaan ini, walaupun PER telah melewati angka 13. Misalnya, perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk yang saat ini memiliki PER 53 kali, tetap dibeli investor karena harganya terus meningkat seiring pertumbuhan laba perusahaan.

 

  • Gunakan PER untuk menilai apakah saham tersebut masuk kategori murah atau tidak, hanya pada saham blue chip. Karena dalam trading saham, rata-rata saham blue chip memiliki sejarah mencetak laba secara konsisten. Saham-saham ini masuk dalam indeks LQ45 dan IDX30 atau saham dengan likuiditas tinggi karena menjadi buruan investor. Berbeda dengan saham second liner yang labanya naik turun. Ketidakstabilan laba ini bisa menaikkan dan menurunkan nilai PER secara drastis.

Setelah memahami metode PER untuk menilai harga saham, semoga jadi salah satu bekal bagimu sebelum mulai trading saham, ya!