Jika digunakan dengan efektif, media sosial dapat sangat membantu perkembangan bisnis. Hal tersebut setidaknya dibuktikan Kania Annisa Anggiani (36), pengusaha muda yang sukses membangun bisnis Chic and Darling.

Baca juga: Usaha Muda Midio Milik Aris Sulistio

Brand ini memproduksi berbagai barang dan aksesori berdesain stand-out, mulai dari aneka bantal, note book, tas, berbagai peralatan rumah tangga, hingga barang pecah belah artisan.

Bermula sebagai terapi

We make things that speaks to your heart” adalah kalimat pembuka dalam akun resmi Chic and Darling di Instagram, yang kini telah meraih lebih dari 160 ribu pengikut.

Di bawah bendera PT Sasibra Multikreasi Nusantara, Kania berhasil membawa Chic and Darling, yang bermula dari usaha rumahan, menjadi bisnis besar dan sukses.

Perempuan lulusan program studi Arts, Media Culture & Photomedia dari Edith Cowan University Australia mengaku tidak mengawali Chic and Darling sebagai bisnis, melainkan terapi.

Pada pertengahan 2013, setelah melahirkan anak pertamanya, Kania merasa gundah karena mengalami sedikit masalah pada kesehatannya, yang membuat dia terpaksa keluar dari pekerjaannya di media, karena harus menjalani istirahat total yang memakan waktu.

Di sisi lain, Kania dan suaminya sepakat untuk tidak menggunakan pengasuh atau pun asisten rumah tangga dalam mengurus anak. Dia pun membuat komitmen untuk kembali bekerja paling cepat setelah sang buah hati menginjak usia dua tahun.

Namun, 6-7 bulan setelahnya, Kania merasakan depresi berat yang disebabkan oleh sindrom pasca-melahirkan. Kania dan suaminya berusaha mengatasinya dengan melakukan konseling. Kania disarankan mencari kesibukan atau melakukan hal-hal yang disukainya di luar aktivitas mengurus bayi.

Di saat yang sama, Kania tengah keranjingan bermain Instagram, di mana menurutnya, hal itu memberikan suntikan energi positif dan inspirasi, meski tidak keluar rumah. Hobi baru ini kemudian mendatangkan ide bisnis bagi Kania.

“Saya melihat ada banyak profil orang bikin usaha dari rumah, kehidupannya balanced, they’re doing well untuk kehidupan mereka yang sibuk mengurus anak dan rumah tangga. Kemudian saya berpikir, mengapa saya tidak mencobanya?” ujar Kania.

“Gara-gara hal itu, saya pun mengunjungi kembali situs-situs milik para blogger idola saya, seperti DesignSponge, candycrapdesign, dan lainnya. Saya jadi seperti terobsesi karena mereka sangat menginspirasi, memulai bisnis dari nol, dari rumah, sambil mengurus anak dan suami. Dan tujuan mereka bukan sekadar uang, tapi kebahagiaan. Maka saya merasa seperti terkoneksi dengan mereka,” lanjutnya panjang lebar.

Kekuatan word of mouth marketing

Kania pun mulai menulis blog, kemudian berlanjut membuat kerajinan tangan dengan memanfaatkan keahlian menjahit tingkat dasar yang dimilikinya.

“Saya mulai bikin bantal dari kain-kain perca, seperti patchwork. Hasilnya saya pakai sendiri. Beberapa teman dan saudara yang datang ke rumah tertarik, katanya unik dan menarik. Itu sudah cukup membuat saya bahagia dan melupakan depresi saya. Saya kemudian terpikir untuk menawarkannya lewat Instagram, yang kemudian ternyata membuka pintu rezeki baru,” ujarnya senang.

Nama Chic and Darling dipilih untuk merepresentasikan desain-desain apik yang dapat melebur dengan minat serta kebutuhan banyak orang.

“Setiap ada orderan, saya seperti mendapat suntikan energi, saya merasa diri saya kembali punya arti. Nah, dari situ, lama kelamaan jadi serius mengurusnya sebagai bisnis yang potensial,” jelas Kania.

Seraya mengasuh anak yang belum genap satu tahun kala itu, pengusaha muda ini rela bolak-balik dari Jakarta ke Bandung untuk mencari bahan-bahan berkualitas. Dia mendesain sendiri semua produknya menjadi dummy, kemudian membawanya ke mitra penjahit untuk diproduksi massal.

Tidak sampai setahun sejak serius menjadikannya bisnis, Chic and Darling kian meraih popularitas, yang membuat orderan mengalir deras.

Ditanya, bagaimana cara melakukan promosi ampuh sehingga membuat Chic and Darling berkibar seperti sekarang, Kania langsung menyebut tentang strategi word-of-mouth-marketing (WOMM).

“Rahasia besarnya ternyata omongan mulut ke mulut. Jadi kalau konsumen puas dan menceritakan pengalamannya ke teman dan orang sekitarnya, maka secara tidak langsung, promosi berjalan dengan sendirinya. Ibarat bola salju, makin lama makin besar,” bebernya.

Mempelajari profil konsumen

Kini, tidak hanya berjualan via media sosial, Chic and Darling juga memanfaatkan kunjungan konsumen ke website resminya, yang berfungsi sebagai galeri belanja.

Bila mendaftar melalui website, konsumen Chic and Darling akan mendapat notifikasi jika ada produk baru atau restock barang-barang best seller.

Namun, lebih dari itu, Kania juga serius memikirkan strategi promosi Chic and Darling. Sejak 2017, dia mulai memanfaatkan fitur Google Analytics untuk mengetahui profil pelanggannya.

“Dari situ, saya tahu siapa yang masuk top ten pelanggan loyal Chic and Darling. Mereka kami beri keistimewaan, semisal jika ada produk baru, sebelum diluncurkan, mereka yang lebih dulu diinformasikan,” jelasnya.

“Mereka sangat senang, dan ikutan menyebar teaser kami di akun media sosialnya, sehingga teman dan para pengikutnya turut penasaran. Alhasil ketika hari H kami luncurkan produknya, dalam hitungan jam saja langsung habis,” sambung Kania.

Cermat menangani keluhan

Sementara itu, bukan bisnis namanya jika tidak ada tantangan yang menghadang. Sebagai pengguna media sosial untuk mempromosi usaha, maka sebisa mungkin Chic and Darling meminimalkan komentar negatif yang bisa memengaruhi keseluruhan bisnis.

“Pernah ada konsumen yang menulis complaint bernada sangat menyudutkan di kolom komentar salah satu unggahan produk Chic and Darling di Instagram. Saya membalasnya dengan hati-hati dan profesional, berusaha memberikan win-win solution, yang akhirnya berupa pengiriman barang pengganti dengan nominal harga yang lebih besar,” cerita Kania.

Surprisingly, konsumen tersebut mengaku puas dan diam-diam menyebarkan pengalaman positifnya itu di akun media sosialnya, yang percaya tidak percaya, mendorong peningkatan angka penjualan Chic and Darling,” lanjutnya.

Ditanya berapa omzetnya saat ini, Kania enggan mengatakan secara gamblang, dan hanya menyebut berhasil menyentuh angka ratusan juta rupiah per bulan di tahun kelima operasionalnya, yakni pada 2018 lalu.

Saat ini, Chic and Darling tidak hanya menjual produk langsung ke konsumen, namun juga mulai merambah sektor business to business (B2B). Kania menyebut bahwa produk-produk rumah tangga besutannya kini mulai dilirik oleh industri perhotelan, restoran, dan beberapa bisnis gaya hidup lainnya.

Baca juga: Racikan Inovasi Martabak Orins

Untuk rencana ke depan, pengusaha muda ini mengatakan masih berfokus meningkatkan ragam pilihan kerajinan tangan yang diproduksi, di mana sebagian besar tetap berupa produk perlengkapan rumah tangga.

“Meski sudah mulai menjadi urban reference, saya pribadi masih ingin menjadikan Chic and Darling sebagai one stop shopping untuk belanja kebutuhan home décor, living and lifestyle. Di Jepang ada brand yang namanya Muji. Saya ingin di Indonesia, Chic and Darling juga menjadi lifestyle brand seperti itu,” harap Kania.