Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas tenun merangkak naik sebagai alternatif dalam bergaya dengan kerajinan kriya Nusantara. Jenis wastra (kain tradisional) ini banyak dimanfaatkan serupa batik menjadi pakaian, tas, atau sebatas kain hias.

Baca juga: Putri Arinda dan Bisnis Persiapan Pernikahan

Tenun NTB merupakan salah satu wastra yang belakangan makin digemari masyarakat Indonesia. Tenun NTB umumnya didominasi warna alam seperti cokelat, biru tua, merah hati, dan warna sejenis lainnya. NTB, khususnya Pulau Lombok, yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia ikut mengangkat pamor tenun ini.

Bahkan, sejak penetapan tenun sebagai bagian dari komoditas unggulan NTB pada 2010, menurut data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), penjualannya menembus hampir Rp1 triliun hingga 2017 lalu. Adapun pangsa ekspornya telah merambah negara-negara Timur Tengah dan Eropa.

Berawal dari kompetisi

Namun, berbeda dengan kebanyakan wirausaha muda tenun lainnya yang bermain di pasar jual beli sandang umum, Muhammad Firdaus Abdulloh memilih untuk mencari ceruk yang lebih potensial, yakni menggabungkan kecantikan tenun dengan tren kekinian.

“Jumlah pemuda di Indonesia menempati porsi terbesar dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Ditambah dengan ekonomi Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan baik saat ini, saya pikir, menggarap pasar milenial adalah sebuah keuntungan tersendiri, baik secara bisnis maupun secara dampak sosialnya,” jelas Firdaus.

Bisnis Firdaus termasuk rintisan usaha mahasiswa. Bersama dengan tiga rekannya semasa kuliah, Firdaus memberanikan diri memulai bisnis sepatu sneakers dengan paduan motif tenun di atasnya. Mereka kemudian mencantumkan merek Selo, yang merupakan akronim Sepatu Etnik Original, dengan tujuan menjadikannya “terkemuka” di pasar modern.

Popularitas sneakers, menurut Firdaus, terus bertahan sejak lama, dan selalu menjadi pilihan alas kaki favorit bagi muda-mudi. Pemuda asli Mataram ini ingin menjadikan fenomena tersebut sebagai kunci dalam mendirikan bisnis, sekaligus menjalankan misi pelestarian tenun di tengah persaingan sosial budaya yang kompetitif di era globalisasi saat ini.

Firdaus dan ketiga rekan kuliahnya di Universitas Mataram memulai kiprah Selo dalam lomba desain sepatu tingkat nasional, yang diadakan oleh Universitas Diponegoro pada 2016 lalu.

Mereka berhasil memenangi kompetisi tersebut dengan mengusung desain sneakers yang berpadu dengan penggunaan tenun Pringgasela, asal Lombok Timur. Dari situlah, Firdaus dan kawan-kawannya menemukan rasa percaya diri untuk melanjutkan ke jenjang bisnis yang lebih serius.

“Setelahnya, kami berniat merealisasikan ide kompetisi itu menjadi bisnis yang lebih serius. Dukungan mentor bisnis pada lomba di Semarang itu menguatkan kami untuk meluncurkan Selo, meskipun aslinya kami sempat terkendala banyak hal yang hampir membuat pesimis,” cerita pengusaha muda ini.

Menggabungkan hadiah uang kompetisi dan patungan dana pribadi, terkumpullah modal awal senilai Rp9 juta untuk memulai merek Selo pada akhir 2016. Di awal, mereka menggandeng produsen sepatu di Jawa Timur, sebab sulit mencari rekanan yang berpengalaman memproduksi sneakersdi Lombok.

“Setelah kami survei, sepatu sneakers semacam ini (dengan motif tenun) belum banyak di pasaran. Kami yakin bisnis ini potensial,” ujar Firdaus mantap.

Produksi Handmade

Untuk memasukkan unsur kearifan lokal di sepatu, Firdaus dan timnya terlebih dahulu melakukan survei ke beberapa sentra kerajinan tenun di Lombok, untuk mendapatkan material kain yang cocok. Wirausaha muda itu menjamin bahwa bahan bakunya berkualitas dan memiliki harga yang kompetitif.

Pertama kali rilis, Selo menjual produknya di berbagai kampus di Pulau Lombok dan berhasil laku lebih dari 100 pasang sepatu pada Februari 2017, sekitar dua bulan sejak diluncurkan.

Keunggulan sneakers tenun Selo, menurut Firdaus, tidak hanya terletak pada uniknya penyematan material kain tenun, melainkan juga pada proses pembuatannya yang lebih banyak menggunakan tangan (handmade). Selain itu, setiap modelnya selalu ditawarkan dalam stok terbatas, sehingga terkesan lebih eksklusif.

Lebih dari itu, sneakers tenun Selo juga dijual dengan harga yang cukup terjangkau untuk pasar anak muda, yakni mulai dari Rp200 ribu hingga Rp400 ribu per pasang sepatu.

Produk-produk Selo kini sudah dipasarkan secara nasional via situs marketplace, media sosial, dan juga berbagai bazar produk kreatif terkemuka di seantero Indonesia.

Diminati distributor asing

Sayangnya, kemajuan positif Selo masih dibayang-bayangi oleh kendala produksi, di mana hingga saat ini, Firdaus dan rekannya baru bisa mempekerjakan karyawan tidak lebih dari lima orang, yang fokus mengerjakan sepatu.

“Sisa operasional lainnya, mulai dari desain, kontrol kualitas, dan pengemasan, kami kerjakan bersama,” jelas Firdaus.

Kendala lainnya adalah soal konsistensi dari pemasok alas sneakers di Pulau Jawa, yang kerap kali kehabisan stok, sehingga memengaruhi harga. Selain itu, produksi material tenun juga membutuhkan waktu dalam pengerjaannya, terutama bila memiliki pesanan motif tertentu.

Dampaknya, setiap produksi satu kodi (20 pasang) sepatu membutuhkan waktu rata-rata satu minggu. Meski begitu, Firdaus tetap optimis, operasional mereka akan terus membaik dan efisien, seiring dengan perkembangan positif merek tersebut di pasaran.

Ketika ditanya, bagaimana menyikapi pesaing yang mulai bermunculan dalam setahun terakhir, Firdaus dengan mantap menjawab bahwa dia meyakini masa depan bisnis Selo. Inovasi dan kontrol kualitas, menurutnya, adalah dua hal terpenting dalam menarik minat konsumen dan menjaga loyalitas mereka.

Optimisme Firdaus dan rekan-rekannya dalam membesarkan Selo membuahkan beberapa hasil yang patut diapresiasi. Sejak keterlibatan mereka di Inacraft 2017, pameran akbar kerajinan rakyat dari seluruh Indonesia, atensi luas datang menghampiri. Tidak sedikit calon pembeli asing tertarik dan mengajak kerja sama pemasaran ke luar negeri, seperti Mesir dan Jepang.

Namun, karena masih cukup terkendala akan kapasitas produksinya, Firdaus dan timnya di Selo memutuskan untuk hanya mengirim dalam sistem konsinyasi online, alias titip pajang di beberapa rekanan toko onlineasing. Sementara pengiriman tetap dilakukan dari NTB, sesuai dengan jumlah permintaan yang masuk.

“Kami tentu memiliki visi mendunia dalam pemasaran produk kreatif dari tenun. Kami berharap ke depannya, Selo bisa membantu menambah lapangan pekerjaan di NTB, sehingga mendorong peningkatan iklim usaha yang berdampak pada kemajuan ekonomi lokal,” harap Firdaus, yang memiliki filosofi bisnis, bisa menebar manfaat baik bagi banyak orang.

Baca juga: Garda Pangan, Wirausaha Makanan Berlebih

Cerita Firdaus menjadi contoh wirausaha muda yang sukses memadukan bisnis dengan pelestarian budaya bangsa. Inspiratif, ya?