Siapa, sih, yang enggak suka nonton film? Selain bikin terhibur, kadang-kadang investor pemula seperti kamu juga bisa mendapatkan tips keuangan dari film, lo. Contohnya dalam film-film populer berikut ini:

Home Alone

Sejak dirilis tahun 1990 lalu, film yang dibintangi McCaulay Culkin seolah jadi film yang wajib ditonton saat liburan akhir tahun. Dalam film itu McCaulay berperan sebagai Kevin McCallister, anak 8 tahun yang dengan cerdik mengelabui dua penjahat yang ingin merampok rumahnya, saat Kevin tanpa sengaja tertinggal sendiri di rumah.

Di balik cerita Home Alone yang mengocok perut kita, kita bisa memetik pelajaran tentang pentingnya asuransi, khususnya asuransi rumah. Dalam film tersebut, tampak risiko-risiko yang bisa menimpa sebuah properti   seperti perampokan dan kebakaran.

Baca juga: Yuk Buat Resolusi Keuanganmu!

Bayangkan jika kita menjadi keluarga Kevin, pulang dari berlibur tiba-tiba rumah sudah dibobol perampok dan hancur berantakan. Bila kamu tidak memiliki asuransi rumah, tentu kerugian yang akan ditanggung sangat besar. Dengan asuransi rumah, asetmu akan dilindungi secara maksimal dan kamu tidak perlu khawatir meninggalkan rumah saat berlibur.

The Pursuit of Happyness

Film rilisan tahun 2006 ini berkisah tentang perjuangan Chris Gardner (diperankan Will Smith) bangkit dari kebangkrutan sambil mengasuh anaknya, Christopher (diperankan Jaden Smith). Karena sama sekali tidak punya uang dan tempat tinggal, selama hampir setahun Chris dan anaknya terpaksa menggelandang di jalanan. Namun Chris tidak pantang menyerah dan didorong motivasi memberikan kehidupan yang layak untuk Christopher, akhirnya dia berhasil menjadi pialang saham yang sukses.

Banyak pelajaran kehidupan yang bisa kita peroleh dari film The Pursuit of Happyness, di antaranya tips keuangan yaitu jangan pernah menaruh semua uangmu dalam satu keranjang.

Diceritakan, Chris awalnya berprofesi sebagai seorang penjual mesin pemindai tulang. Dia menginvestasikan seluruh tabungannya membeli sejumlah mesin tersebut, karena yakin akan mendapatkan keuntungan besar dengan menjualnya. Tapi ternyata, dokter-dokter yang menjadi target pasar Chris menganggap mesin pemindai tulang terlalu mahal dan menolak membelinya. Chris pun gagal dan bangkrut.

Dari kisah Chris ini investor pemula dapat memetik pelajaran bahwa lebih bijak menanamkan uang pada sejumlah instrumen investasi yang berbeda tingkat risikonya. Dengan demikian bila salah satu investasi kamu anjlok, kerugiannya tidak terlalu memengaruhi kondisi keuanganmu karena masih ada potensi keuntungan dari investasi yang lain.

Confessions of a Shopaholic

Film yang diangkat dari novel Sophie Kinsella ini berkisah tentang Rebecca Bloomwood (diperankan Isla Fisher), seorang penggila belanja yang hidupnya dipenuhi utang demi memuaskan kecanduan belanjanya. Meski film rilisan tahun 2009 ini adalah film komedi yang ringan, tapi sarat dengan tips keuangan pribadi yang bisa kita pelajari.

Misalnya saja, Rebecca selalu tidak bisa menahan diri berbelanja karena sangat menyukai fashion. Jika kamu berada dalam posisi Rebecca, hal yang lebih tepat dilakukan sebelum membeli suatu barang adalah bertanya pada diri sendiri, apakah kamu benar-benar membutuhkan barang tersebut? Tunda membeli barang itu dan pikir lagi selama beberapa hari. Bila kemudian kamu tidak mengingatnya lagi, berarti kamu tidak benar-benar membutuhkannya.

Hal lain yang bisa kita pelajari dari tokoh Rebecca adalah penggunaan kartu kredit yang berlebihan. Setiap batas kredit kartunya habis, Rebecca akan membuat kartu kredit baru sehingga akhirnya dia memiliki 12 kartu kredit dan dikejar-kejar debt collector karena menunggak tagihan.

Padahal, saat batas kredit kartu kamu sudah habis, ini bisa jadi sebuah warning bahwa kamu sudah berlebihan menggunakan kartu kredit. Alih-alih membuat kartu kredit baru, sebaiknya kamu meninjau ulang semua pengeluaranmu dengan kartu kredit. Prioritaskan melunasi semua tagihannya agar tidak membengkak dan membuat hidupmu susah karenajeratan utang.

Mary Poppins Returns

Film yang dirilis akhir tahun 2018 ini merupakan sekuel dari film Mary Poppins produksi tahun 1964. Jika setting film Mary Poppins mengambil tahun 1910, maka Mary Poppins Returns berlatar tahun 1935.

Dalam Mary Poppins Returns, tokoh Michael dan Jane Banks sudah menjadi dewasa. Michael (diperankan Ben Whishaw) harus membesarkan ketiga anaknya sendiri karena sang istri telah meninggal dunia. Masalah muncul karena rumah peninggalan orang tua Michael dan Jane yang ditempati Michael bersama anak-anaknya akan disita bank, lantaran Michael tidak bisa membayar pinjaman ke bank.

Di akhir cerita, rumah Michael bisa terselamatkan berkat uang dua sen miliknya yang diinvestasikan selama 25 tahun di bank dan sudah berkembang sedemikian rupa sehingga menghasilkan keuntungan luar biasa. Dalam film Mary Poppins, diceritakan Michael kecil menyerahkan uang saku dua sen pada ayahnya untuk ditabung di bank tempat ayahnya bekerja. Lalu dalam Mary Poppins Returns, diceritakan ternyata sang ayah menginvestasikan dua sen itu dengan baik melalui bank sehingga menjadi penyelamat tak terduga 25 tahun kemudian.

Baca juga: Berlibur Meski Dollar Mahal? Kenapa Tidak!

Secara hitung-hitungan di atas kertas, memang tidak mungkin hasil investasi dua sen poundsterling berkembang menjadi ribuan poundsterling seharga sebuah rumah besar dalam waktu 25 tahun. Namun yang dapat kita petik dari akhir cerita film Mary Poppins Returns adalah prinsip investasi jangka panjang.

Meski dengan modal minim, bila kamu rutin dan disiplin berinvestasi, maka dalam jangka panjang bisa memperoleh potensi keuntungan yang maksimal. Impian memiliki rumah seperti Michael Banks pun bisa terwujud jika kamu memulai investasi sejak sekarang.

Ternyata belajar soal keuangan bisa dari mana saja, ya, termasuk dari film. Sebagai investor pemula,memperdalam wawasan finansial dan investasi pun jadi lebih menyenangkan buat kamu.