Bagi mereka yang besar di era 1990-an, mungkin tidak asing dengan mie lidi (ada pula yang menyebutnya lidi-lidian) yang kerap menjadi jajanan favorit sepulang sekolah. Ini merupakan camilan yang dibentuk layaknya spageti mentah, dan biasanya ditaburi dengan bumbu asin atau pedas. Mie lidi pernah begitu populer sebagai jajanan yang diburu anak-anak usia sekolah, namun mendadak meredup pamornya selepas awal 2000-an.

Baca juga: Andrew Tanner Setiawan dan Start-up Karta

Mie lidi kembali meraih pamornya kurang dari satu dekade terakhir, di mana salah satunya digaungkan oleh Famela Nurul Islami melalui camilan bermerek Mie Lidi Geli. Bukan hanya mengangkat kembali, Nurul –sapaan akrabnya– juga berhasil mengolah ide bisnis dan membawa citra baru terhadap jajanan mie lidi. Menyasar konsumen milenial, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran ini berinovasi dalam cita rasa, yang kini telah tersedia tujuh varian yakni Original, Spicy, Double Spicy, BBQ, Cheese, Seaweed, dan Sweet Corn.

Nostalgia 1990-an

Kiprah Mie Lidi Geli bermula pada 2011 silam, ketika Nurul menggebu-gebu untuk memulai bisnis. Dari berbagai ide bisnis yang dia coba gali, perhatiannya mendadak tertuju pada salah satu jajanan favoritnya, yakni mie lidi, atau yang biasa dikenal di tempat tinggalnya di tanah Sunda sebagai ‘mie nyere’.

Hal tersebut kemudian dia rajut dengan fakta bahwa banyak masyarakat Indonesia, khususnya anak muda, gemar mengonsumsi makanan ringan di kala senggang. Otak bisnisnya pun memberikan sinyal bahwa mie lidi adalah usaha yang menjanjikan.

“Apalagi waktu itu mulai bermunculan nostalgia tentang generasi 90-an, yang salah satunya menyinggung aneka jajanan favorit masa kecil. Nah, mie lidi ada di sana, dan saya pikir bagus juga jika dibisniskan,” ujar Nurul seraya menyebut bahwa awal 2010-an, jajanan tersebut mulai langka di pasaran. “Saya ingin memperkenalkan jajanan khas daerah dengan cita rasa modern,” sambungnya bercerita tentang misi lain di balik pendirian merek Mie Lidi Geli.

Snack teman bersantai

Nurul mewujudkan ide bisnis ini dengan bermodalkan dana sebesar Rp1 juta, yang digunakannya untuk membeli mesin pencetak adonan dan bahan baku. Di awal berdirinya, dia banyak belajar dengan rekanan pengrajin mie lidi di Garut, Jawa Barat.

Adapun penamaan Mie Lidi Geli, menurutnya, lebih kepada keisengan dalam merancang produk. Menurutnya, paduan tiga kata itu terdengar unik dan mudah diingat, sekaligus memberikan kesan bahwa snackbuatannya cocok untuk teman bersantai.

Untuk membedakan dengan mie lidi pada umumnya, Nurul pun bereksperimen menghadirkan beragam rasa, yang pada awalnya dicampurkan dari bubuk perisa yang lazim ditemui di pasaran, sebelum kemudian berhasil menemukan formula sendiri.

Saat awal berdiri, Mie Lidi Geli dipasarkan melalui berbagai strategi, dimulai dari sarana promosi utama di media sosial, hingga berpartisipasi dalam berbagai agenda bazar di Jakarta dan Bandung. “Mie lidi ini salah satu jajanan di masa kecil yang laris. Banyak konsumen tertarik membeli lantaran ingin bernostalgia,” ujar Nurul seraya bercerita bahwa produknya kerap menjadi produk yang hampir tidak memiliki pesaing di banyak agenda bazar.

Terangkat kemasan modern

Pada awalnya, Nurul membungkus produk Mie Lidi Geli dengan kemasan sederhana, yakni plastik transparan. Namun, dengan cepat ia berpikir bahwa dibutuhkan inovasi untuk menaikkan nilai tawarnya ke konsumen. Nurul kemudian menambahkan kardus berdesain ceria sebagai kemasan luar, yang dimaksudkan untuk membuat Mie Lidi Geli naik kelas, bisa dipajang di toko-toko.

Dibantu seorang rekan, Nurul mendesain kemasan kardus yang unik dan menarik perhatian. Kombinasi warna cerah dan foto produk Mie Lidi Geli di bagian depan membuat tampilannya terlihat modern. Selain itu, dia juga menyertakan alamat website yang bisa dikunjungi agar konsumen tidak kesulitan jika ingin memesannya kembali. Benar saja, tampilan modern membuat bisnis Mie Lidi Geli meningkat tajam. Dari yang awalnya hanya memproduksi seratusan kemasan, kini mampu mencapai produksi rata-rata 4.000 bungkus per bulannya.

Strategi reseller

Selain itu, sukses Mie Lidi Geli turut diraih berkat kegigihan dalam pemasarannya, termasuk memperkanlan  penjualan melalui sistemreseller. Langkah ini mulai dilakukan oleh Nurul sekitar setahun berbisnis, di mana target mitranya adalah anak-anak muda yang ingin mencari tambahan uang saku.

“Target konsumen saya memang anak muda, yang paling utama, dan kemudian saya berpikir, mengapa tidak mereka juga yang ikut menjualnya? Jadi lebih ada koneksi sesama jiwa muda, lebih mudah mengkomunikasikan Mie Lidi Geli ke konsumen,” jelas Nurul.

Sistem reseller awalnya dilakukan di area Jabodetabek dan Bandung, dua kawasan yang menjadi target penjualan utama Mie Lidi Geli di awal-awal berproduksi. Namun, berkat kian masifnya paparan media sosial, perlahan permintaan menjadi reseller berkembang hingga kota-kota lainnya di Jawa, seperti Solo, Yogyakarta, Semarang, dan masih banyak lagi.

Sementara di luar Jawa, Nurul mengaku bahwa produknya masih belum menemukan target pasar potensial, kecuali di Bandar Lampung dan Palembang. Dari survei kecil-kecilan Nurul terhadap konsumen di Sumatera, banyak konsumen di sana mengaku baru pertama kali mengenal jajanan mie lidi.

“Banyak yang bilang suka, tapi karena mungkin baru kenal pertama kali, jadi memang butuh upaya lebih untuk mempromosikannya, tidak seperti di Jawa yang sebagian sudah pernah tahu tentang jajanan ini,” lanjut Nurul.

Rencana ekspansi

Nurul membanderol Mie Lidi Geli Rp15.000 per bungkus dengan isi 100 gram. Sedangkan untuk reseller Nurul memberikan harga khusus. “Tapi saya pastikan harga eceran tertingginya tidak lebih dari Rp15.000 per bungkus,” jelasnya. Ditanya berapa omzetnya, Nurul enggan menyebut angka pasti. Dia hanya bercerita bahwa di tahun-tahun awal berjualan Mie Lidi Geli, dia mampu meraup penjualan rata-rata Rp55 juta, dengan margin untung mencapai 50 persen.

Nurul mengakui bahwa penjualan Mie Lidi Geli tidak mengalami peningkatan yang bombastis, namun signifikan. Hal itu membuatnya yakin bahwa ke depannya, produk jajanan tersebut akan diterima lebih luas oleh konsumen. “Alhamdulillah, sekarang sudah mulai masuk toko-toko modern, dan beberapa kali juga mendapat pesanan dari luar negeri. Tapi, target saya sekarang adalah mempertahankan brand image-nya di pasar lokal, dengan terus berekspansi ke pasar-pasar yang belum dijamah, baik di Jawa ataupun pulau-pulau lain,” harap Nurul.

Baca juga: Bisnis Kursus Bahasa Ala Tyovan

Bila kita jeli melihat peluang dan berani memujudkan ide bisnis seperti Nurul, bukan tidak mungkin sukses akan menghampiri. Setuju?