Kemiskinan dan kurangnya akses pendidikan adalah dua hal yang saling berkaitan, di mana hingga sekarang, dampak masalahnya masih banyak dikeluhkan di Indonesia. Tidak terkecuali di beberapa wilayah pedesaan di Pulau Nusa Penida, Bali. Isu ini mendorong Andriza Syarifudin dan beberapa rekannya untuk mendirikan Nusa Berdaya Social Enterprise.

Baca juga: Tootle, Bisnis Bantal Gemas yang Sedang Nge-trend

Nusa Berdaya Social Enterprise adalah sebuah wirausaha yang bergerak di isu pemberdayaan sosial, yaitu mendorong perekonomian petani di Nusa Penida dengan meningkatkan nilai jual hasil bumi mereka.

Permasalahan petani Nusa Penida

Ide awal pendirian Nusa Berdaya bermula ketika Andri dan beberapa rekannya terlibat dalam inisiatif pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, yang bekerja sama dengan beberapa lembaga nonprofit. Tujuannya adalah menyebarkan minat belajar ke berbagai pelosok daerah. “Namun pada satu titik, kami tersadar bahwa masyarakat yang kami temui adalah mereka yang berada di bawah ambang kemiskinan, di mana pendidikan bukanlah opsi, sehingga mempersulit kehidupan mereka,” kata Andriza.

Orang tua lebih suka anaknya bekerja membantu perekonomian keluarga, dibandingkan memperoleh pendidikan. Misalnya saja, anak-anak peserta program belajar gratis yang diselenggarakan Andriza dan kawan-kawan sering disuruh pulang orang tuanya untuk bekerja.

“Dari situ, kami menyadari bahwa menyampaikan pendidikan saja tidak cukup, perlu juga dilakukan dengan bimbingan pelatihan yang relevan dengan lingkungan sekitar,” ujar Andriza. Saat itu, mereka juga melihat bahwa pertanian rumput laut yang banyak digeluti oleh warga pedesaan Nusa Penida menghadapi masalah, ketika harga jualnya semakin rendah. Andriza dan Kadek Agus serta Retno Nuraini, dua rekannya, kemudian terpikir mendirikan sebuah wirausaha sosial yang mampu mengakomodasi pendidikan keterampilan sekaligus membantu meningkatkan nilai jual hasil pertanian setempat.

Mengolah rumput laut

Dari pengalaman tersebut Andriza dan kedua rekannya menyadari bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah titik tolak menuju cita-cita mereka selanjutnya, yaitu mencerdaskan bangsa. Setelah itu Nusa Berdaya mulai memberdayakan masyarakat menggarap kekayaan alam yang tersedia di Nusa Penida. Produk pertama mereka, dan menjadi andalan hingga saat ini, adalah sabun natural dari rumput laut dengan merek “Noesa”.

Hingga saat ini, mereka bekerja sama dengan para petani dan ibu rumah tangga setempat. Nusa Berdaya membeli rumput laut dari petani dengan harga lebih tinggi dari pasaran, lalu mengolahnya sebagai produk organik dengan tampilan dan kemasan eksklusif, sehingga mampu menaikkan harga jualnya.

Sebagai contoh, petani setempat rata-rata menjual rumput laut mentah seharga Rp7.000 per kilogram dalam dua tahun terakhir. Oleh Nusa Berdaya, harga belinya dinaikkan hingga lebih dari dua kali lipat, menjadi maksimal Rp30.000 per kilogram, tergantung kualitasnya.

Selain itu, Nusa Berdaya juga bermitra dengan para ibu rumah tangga untuk mengolah rumput laut menjadi sabun organik, yakni dengan skema pembayaran Rp60.000 per tiga jam produksi. Dengan sistem tersebut, Nusa Berdaya mampu mengantongi omzet rata-rata Rp6 juta per bulan pada tahun pertama beroperasi, dengan harga jual satuan sabun Rp35.000 per batang. Sebagian besar produk ini dijual sebagai oleh-oleh khas Nusa Penida, dan sebagian lagi dieskpor melalui jalur kemitraan kolektif ke Singapura, Hong Kong, Jerman, Belanda,dan Arab Saudi.

Pencapaian positif

Selain di Nusa Penida, pemberdayaan ekonomi serupa juga dilakukan Nusa Berdaya di beberapa wilayah pedesaan lain di Lombok, Kupang, dan Raja Ampat. Bekerja sama dengan kementerian dan lembaga internasional terkait, Andriza dan timnya mengembangkan skema bisnis serupa, namun dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakter masyarakat di masing-masing daerah.

Meski begitu, sebagai sebuah wirausaha, Nusa Berdaya juga memiliki kendala dalam operasionalnya. Misalnya saja mereka sempat terkendala syarat legalitas untuk mendapat sertifikasi keamanan pada kategori kosmetik dari BPOM.Selain itu, Andriza dan rekan-rekannya di Nusa Berdaya juga perlu bekerja keras meyakinkan pasar bahwa produk yang mereka tawarkan memiliki kualitas baik meski berasal dari daerah yang belum familiar di telinga konsumen. “Cara kami menyiasatinya adalah bekerja sama dengan reseller lokal yang memiliki visi yang sama dengan kami. Mereka menjadi representatif dalam menyuarakan produk kami ke pasar,” jelas Andriza.

Namun, hasil tidak pernah menyalahi usaha. Kini, setelah tiga tahun berjalan. Nusa Berdaya mampu meraup omzet rata-rata Rp50 juta per bulan, dengan kisaran profit sebesar 30 persen. Eksistensi Nusa Berdaya pun kian mengemuka sebagai salah satu wirausaha sosial yang meraih pertumbuhan signifikan. Salah satunya mereka berhasil menjadi pemenang lomba kewirausahaan dari Bank Mandiri pada 2018 lalu.

Perusahaan yang dirintis sejak 2016 itu menang untuk kategori wirausaha sosial, karena dinilai mampu menginspirasi warga pedesaan menemukan cara alternatif dalam meningkatkan taraf kehidupannya. Selain itu, Nusa Berdaya juga dinilai konsisten mengenalkan skema industri skala kecil yang berkesinambungan.

Merambah ekspor buah dan sayur

Di luar keberhasilan tersebut, Andriza masih menyimpan mimpi terkait misi utamanya mencerdaskan masyarakat. “Kami di Nusa Berdaya bertujuan memperluas akses pendidikan terhadap warga binaan, namun belum terlaksana secara penuh. Sementara ini kami lebih dulu fokus menjalankan bisnis yang berdampak sosial positif, sembari sedikit demi sedikit mengembangkan unsur pengajaran di sela-selanya,” ujar Andriza.

Saat ini setelah berhasil memperluas area wirausaha sosial ke pulau-pulau lain yang berkarakter serupa dengan Nusa Penida, Andriza dan timnya berfokus memperluas cakupan pasar, dengan harapan bahwa produk yang diserap semakin besar, sehingga masyarakat yang diberdayakan juga semakin banyak.

Baca juga: Macam Bisnis Muda Yasa Singgih 

“Kami ingin mengangkat produk-produk pertanian Indonesia agar mampu bersaing di kancah internasional. Sekarang kami juga sedang melakukan kegiatan ekspor buah dan sayuran ke pasar manacanegara, yang bahan bakunya diperoleh dari petani-petani di desa,” pungkas Andriza.