Potensi pertanian Indonesia, khususnya buah-buahan sungguh luar biasa. Jika dikemas dan dipasarkan dengan tepat, tidak hanya mendatangkan keuntungan bisnis tetapi juga akan mengangkat nama Indonesia di kancah dunia. Inilah yang dialami Margareta Astaman (33) selama lima tahun terakhir menjalankan wirausaha eksportir buah-buahan di bawah brandJava Fresh (PT Nusantara Segar Global).

Baca juga: Wirausaha Tenun Lombok

Permintaan tinggi, penawaran minim

Ide bisnis mengeskpor buah asli Indonesia muncul tahun 2014 lewat obrolan Margie – sapaan akrab Margareta – dengan Robert Budianto, teman kuliahnya di sebuah kedai kopi. Ketika itu Robert ditempatkan kantornya di Cina dan mereka berdua melihat peluang ekspor yang besar ke negara Tirai Bambu tersebut.

Setelah Robert kembali ke Cina, dia pun mulai mencari barang apa yang diminati pasar di sana. Di suatu pertemuan bisnis, Robert berjumpa dengan seorang pemilik supermarket yang tertarik mengimpor manggis dari Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, si pemilik supermarket meminta Robert mengirimkan satu kontainer manggis dengan berat sekitar 16 ton. Robert lalu menelepon Margie dan memintanya segera mencari pasokan manggis di Indonesia.

Margie yang sama sekali tidak punya pengalaman di bidang ekspor buah-buahan langsung putar otak. Bermodalkan googling, dia mencari daerah sentra manggis di Indonesia dan langsung datang ke lokasi. “Aku catat nama desa dan petaninya. Kalau enggak ada nama petaninya, aku datang ke kepala desa, menjelaskan keinginan kami bekerja sama dengan petani di sana. Aku yang tadinya enggak bisa membedakan manggis bagus atau busuk, jadi betul-betul belajar dari nol sama petani,” cerita Margie tertawa.

Tiga bulan kemudian, pasokan manggis sudah siap. Margie pun mengabari Robert. Namun, sebelum menyetujui transaksi, calon pembeli mereka mengajak bertemu di konferensi buah-buahan di Hong Kong. Konferensi tersebut membuka pandangan Margie mengenai peta pasar buah dunia. Di sana Margie mempelajari bahwa sebenarnya permintaan buah Indonesia tergolong tinggi di pasar dunia, tetapi sedikit yang menawarkannya. Lebih miris lagi, kebanyakan peserta konferensi tidak mengenal Indonesia sebagai penghasil buah berkualitas. Mereka hanya kenal eksportir buah-buahan tropis dari Malaysia dan Thailand.

“Misalnya manggis, orang tahunya manggis dari Malaysia saja. Padahal orang Malaysia dan Thailand hanya beli buah dari Indonesia, dikemas dan dilabeli brand mereka lalu diekspor ke luar negeri,” tukas Margie.

Menembus pasar Eropa

Melalui presentasi Margie, Robert, dan Swasti Adicita – rekan mereka yang lain – di konferensi itu, akhirnya banyak pihak di Cina yang setuju mengimpor manggis dari Indonesia. Tetapi Margie dan rekan-rekannya tidak ingin bergantung dari pasar Cina saja. Oleh karena itu ketiga pengusaha muda ini kemudian mencoba masuk ke pasar Eropa. Eropa dipilih sebagai benchmark atau patokan untuk menakar kesempatan mereka meluaskan pasar Java Fresh.

“Jika berhasil menembus pasar Eropa yang sangat ketat memberlakukan regulasi terhadap impor buah-buahan, negara lain akan lebih mudah menerima buah-buahan Indonesia,” tandas Margie. Awalnya cukup sulit meyakinkan calon pembeli Eropa untuk mengimpor buah dari Indonesia. Pasalnya, selama ini buah Indonesia telanjur identik tidak memiliki standar kualitas.

“Itu karena banyak eksportir buah Indonesia bukan orang Indonesia sendiri seperti Malaysia, Thailand, dan Cina. Mereka hanya peduli jualan, saat buah sedang tidak musim dan stoknya kurang bagus, tetap dijual. Mereka tidak peduli image Indonesia yang melekat pada buah-buah itu jadi rusak,” ujar Margie.

Meski demikian Margie bersama dua rekannya tak patah arang mempromosikan keunggulan buah Indonesia. Dua hal yang mereka jadikan nilai jual adalah jaminan ketersediaan pasokan sepanjang tahun dan proses pertanian alami tanpa modifikasi genetik. Berkat kegigihan mereka akhirnya pesanan manggis pun mulai datang dari Prancis.

Pola pertanian baik

Kini, Java Fresh telah mengekspor buah ke 16 negara di seluruh dunia, dari Cina hingga Lithuania. Jenis buah yang diekspor pun makin beragam. Di samping manggis, sekarang Java Fresh juga mengekspor salak, kelapa, jeruk purut, buah naga, sirsak, durian, dan beberapa rempah eksotis Indonesia seperti vanili, kemukus, dan cabe jawa. Setiap bulan rata-rata mereka dapat mengekspor 100 ton kelapa dan 15-20 ton buah lainnya.

Mimpi Margie, Robert, dan Swasti untuk mengangkat citra buah Indonesia di pasar dunia pun perlahan-lahan mulai terwujud. Februari tahun 2019, Java Fresh mendapat penghargaan dari ajang Fruit Logistica di Berlin karena dipandang konsisten mengampanyekan pola pertanian baik melalui produk mereka.

“Buat kami ini sebuah pencapaian tersendiri karena ajang itu seperti Oscar-nya buah-buahan dunia,” kata Margie bangga. Java Fresh memperoleh penghargaan itu antara lain karena seluruh proses pembudidayaan pohon buah-buahan produknya dilakukan secara alami, misalnya tidak menggunakan pestisida. Kealamiahan produk Java Fresh menjadi menonjol karena banyak wirausaha budidaya buah di negara lain menerapkan modifikasi genetik untuk menghasilkan buah yang berukuran besar dan “cantik”.

“Supaya hasilnya bagus, pohon buah diberikan perawatan ‘khusus’, misalnya diberikan suplemen sejak pembibitan. Satu pohon bisa dapat 12 suplemen sendiri. Setelah panen, buah dirawat pakai bahan-bahan kimia yang lain. Jadi sudah tidak alami lagi sebetulnya,” jelas Margie.

Peluang bagi anak muda

Menurut Margie kesuksesan Java Fresh juga tak lepas dari dukungan para petani buah dan pekerja lain seperti pengemas produk yang bermitra dengan mereka. Saat ini Java Fresh bermitra dengan sekitar 3000 petani dan 250 pengemas produk yang tersebar di lima sentra produksi yakni Payakumbuh, Sumatera Barat; Tasikmalaya, Jawa Barat; Yogyakarta; Banyuwangi, Jawa Timur; dan Tabanan, Bali.

Margie yang bertanggung jawab untuk pasokan produk, selalu turun langsung memberikan arahan pada para petani mengenai kualitas buah yang bisa dipetik untuk diekspor. Dulu para petani memetik buah tanpa penyortiran. Buah yang belum terlalu ranum juga ikut dipetik. Tapi kini mereka sudah bisa memilah buah sesuai standar Java Fresh saat pemetikan.

“Buah yang masih kecil dibiarkan tumbuh lebih besar untuk dipanen kemudian. Yang sudah ranum tapi ukurannya kecil, bisa mereka jual di pasar lokal dan menambah penghasilan mereka,” kata Margie. Pertumbuhan Java Fresh yang berkontribusi terhadap kesejahteraan para petani dan warga lain di sekitar sentra produksi menjadi hal yang memantapkan Margie dan teman-temannya memutuskan berhenti dari pekerjaan kantoran dan fokus mengembangkan bisnis.

“Kalau bisnis ini gagal, kami bertiga masih bisa balik ke karier lama. Tapi untuk petani dan packers, this is their life. Melihat bagaimana kami membantu kesejahteraan mereka, itu benar-benar fulfilling,” tandas Margie yang sebelumnya berkarier di dunia digital.

Baca juga: Merrie Elizabeth dan Quo Studio

Ke depannya, Margie dan teman-temannya berencana mengembangkan pasar Java Fresh terutama ke Amerika Serikat dan Eropa Timur. Mereka memiliki visi menghadirkan buah-buahan Indonesia di semua negara di dunia. Margie pun menegaskan wirausaha eksportir buah-buahan merupakan bisnis yang sangat potensial bagi anak muda. “Masih begitu banyak buah Indonesia yang belum digarap. Makin banyak anak muda yang terjun ke industri ini, sektor pertanian Indonesia pasti akan lebih maju,” pungkas Margie tersenyum.