Saat mengandung anak pertamanya, Debora Gondokusumo (35) makin rajin mengonsumsi makanan sehat dan alami karena ingin memastikan nutrisi terbaik bagi sang buah hati. Namun ketika itu Debora tidak dapat menemukan olahan makanan lokal bernutrisi tinggi yang praktis dikonsumsi.

Baca juga: Pemberdayaan Petani Nusa Penida

Pengalaman serupa dialaminya kembali sewaktu Debora mulai menyusui. Dia merasa bosan mengonsumsi daun katuk, yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI, hanya dengan cara ditumis atau dibuat sayur bening. Sementara itu, tidak ada produk daun katuk yang bisa dinikmati dalam bentuk lain di pasaran.

Ternyata, banyak teman Debora juga merasakan hal yang sama. Selain permasalahan menyusui, ibu-ibu muda itu juga mengeluhkan banyak hal mulai dari membuat anak bernafsu makan hingga mengembalikan bentuk tubuh usai melahirkan.

Hal ini kemudian mencetuskan ide bisnis pada Debora untuk mengolah tanaman herbal Indonesia dalam bentuk superfood powder. Superfood powder adalah makanan bernutrisi tinggi yang diekstrak ke dalam rupa bubuk. Selama ini jika konsumen makanan sehat dan alami seperti Debora ingin mencari produk serupa, mereka harus membeli superfood powder buatan luar negeri.

“Kenapa kita enggak kembali ke kekayaan alam kita sendiri? Orang telanjur menyamakan superfood atau tanaman herbal dengan jamu. Di bayangan anak milenial, jamu identik dengan pahit. Padahal kalau pengolahannya dikemas dengan tepat, akan jadi sangat eksotis,” ujar Debora.

Persiapan adalah kunci

Debora merealisasikan mimpinya dengan mengolah tanaman herbal Indonesia menjadi ekstrak di bawah label Herbilogy. Dia berkeinginan produk Herbilogy tersedia di mana saja dan dapat dipasarkan ke mana saja. Selain itu Debora juga ingin membuat produk dengan standar kualitas tinggi serta mengandung banyak manfaat.

Untuk mendukung cita-cita itu, sebelum meluncurkan Herbilogy Debora sudah mengurus perizinan dan sertifikasi produk seperti sertifikasi dari BPOM dan MUI.

“Banyak orang yang memulai usaha hanya coba-coba dulu di awal, perizinan baru diurus belakangan. Tapi saya urus perizinan dulu sampai beres baru saya luncurkan produknya. Jadi setelah launch bisa langsung optimal pemasarannya, bahkan kalau ada permintaan ekspor sudah bisa dipenuhi, ” tukas Debora.

Selain mengurus perizinan, sebagai bagian dari persiapan produk, Debora juga melakukan riset terhadap olahan superfood Indonesia dan peluang pasarnya di segmen perempuan usia 25-40 tahun.

“Saya riset teknologinya dan tanaman superfood lokal apa yang cocok sama pasar. Misalnya temu kunci yang biasa dipakai di sayur bening. Enggak semua orang tahu temu kunci, apalagi anak milenial. Jadi saya cari tanaman herbal yang sudah cukup dikenal dan manfaatnya tinggi untuk kesehatan,” bebernya.

Sejak muncul sebagai sebuah ide bisnis hingga saat peluncuran Herbilogy pada tahun 2017, proses persiapannya memakan waktu hingga dua tahun. Tetapi Debora tidak merasa membuang waktu percuma karena meyakini persiapan yang baik mutlak diperlukan jika ingin menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

“Saya suka banget dengan kata-kata Aristoteles, ‘Excellence is not an act, but it’s a habit.’ Excellence bukan hanya single act, tapi ada dalam setiap hal yang kita lakukan,” kata Debora mengungkapkan prinsip yang melandasi etos kerjanya dalam membidani kelahiran Herbilogy.

Inspirasi kreativitas

Di awal peluncuran, produk Herbilogy dalam bentuk superfood powderterdiri dari 15 varian. Selain ekstrak daun katuk, ada pula esktrak delima, green coffee, temulawak, hingga moringa (daun kelor). Seiring dengan dinamika permintaan konsumen, superfood powder Herbilogy kini hanya ada 12 varian saja, namun dari sisi produk bertambah ragamnya yang terdiri dari tiga jenis teh, tiga jenis minyak, dan lima varian ekstrak herbal dalam kapsul. Semua produk Herbilogy dijual di pasaran dengan harga Rp63.000 – Rp93.000.

Sebanyak 90 persen bahan produk Herbilogy berasal dari tanaman asli Indonesia. Untuk penyediaan bahan, Debora bekerja sama dengan para petani dari seluruh Indonesia seperti Aceh, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Di awal peluncuran Herbilogy, tantangan utama Debora adalah mengedukasi pasar mengenai penggunaan produk. Masih banyak konsumen yang tidak memahami bagaimana cara mengonsumsi superfood powder. Melalui akun Instagram @herbilogy, Debora memberikan inspirasi ragam menu yang dapat diolah atau dikombinasikan dengan ekstrak herbal ini.

“Misalnya bisa dicampur smoothies atau dibuat menjadi protein ball yang isinya bahan-bahan sehat dan alami. Jadi batasannya adalah kreativitas si konsumen itu sendiri sebenarnya,” jelas Debora.

Edukasi gaya hidup sehat

Namun edukasi paling utama yang dilakukan Debora melalui Herbilogy adalah pesan bahwa hidup sehat tidak harus ribet lagi zaman now. Contohnya dulu jika ingin memanfaatkan kunyit, kita akan repot membersihkan jemari tangan yang menjadi kuning saat mengupas kunyit. Tapi sekarang kunyit sudah bisa diekstrak dan tinggal ditaburkan saja untuk kemudian diolah sesuai selera.

Perlahan namun pasti, Herbilogy memperoleh pasar tersendiri. Penjualan produknya sementara ini difokuskan melalui website resmi, akun Instagram, dan situs e-commerce. Strategi marketing Herbilogy pun relatif sederhana, sebatas memasang iklan di Instagram dan Facebook.

Meski demikian menurut Debora respon pasar sudah cukup positif. Umumnya konsumen mengapresiasi ciri khas Herbilogy yang mengangkat kekayaan tanaman herbal asli Indonesia. Selain itu, rata-rata konsumen menjadi loyal karena Herbilogy tidak sekadar “jualan”, tetapi juga banyak mengedukasi konsumen mengenai gaya hidup sehat.

“Kami jelaskan juga agar manfaat produk Herbilogy optimal, konsumen juga harus disiplin mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga,” ujar Debora. Selain itu, Debora juga mengedepankan prinsip keamanan bagi kesehatan konsumen itu sendiri. Pasalnya, banyak produk herbal pelangsing tubuh lain yang mengklaim aman dikonsumsi bagi ibu menyusui, namun hal ini sebenarnya tidak tepat.c“Kami di Herbilogy tidak pernah menyarankan produk pelangsing dikonsumsi ibu yang masih menyusui. Karena apa yang dikonsumsi ibu, pasti akan berpengaruh ke anak lewat ASI, sedangkan bayi masih sangat membutuhkan lemak dalam proses tumbuh kembangnya,” tukas Debora. Ke depannya, Debora berkeinginan untuk terus mengeksplorasi lebih banyak tanaman herbal asli Indonesia menjadi varian produk Herbilogy.

“Menurut riset National Geographic, Indonesia merupakan produsen tanaman herbal terbesar nomor dua di dunia. Tapi dari 30.000 lebih jenis tanaman herbal di Indonesia, baru sepuluh persennya yang diolah dan dikonsumsi secara luas. Dengan mengolah lebih banyak tanaman herbal Indonesia, masyarakat akan lebih mudah mengakses dan mendapatkan manfaatnya,” tandas Debora.

Baca juga: Ide Bisnis Jajanan 90-an

Kisah Debora dan Herbilogy menjadi bukti betapa kekayaan alam Indonesia dapat menjadi satu ide bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat luas.